100 Ha Cetak Sawah di Alor Membuahkan Hasil

96 0

Jakarta – Upaya memperluas baku lahan sawah melalui kegiatan cetak sawah telah dilakukan Kementan beberapa tahun terakhir ini. Yaitu dengan memanfaatkan dan mengelola sumber daya lahan dan air yang ada di daerah serta pemberdayaan petaninya.

Salah satunya di Desa Tanglapui, Kecamatan Alor Timur (NTT). Di sini telah dilakukan cetak sawah pada tahun 2018 seluas 100 Ha. Hingga saat ini telah dimanfaatkan dengan baik oleh para petani di lokasi tersebut dan memiliki produktivitas yang cukup tinggi.

“Kegiatan cetak sawah merupakan usaha penambahan luas baku lahan sawah pada berbagai tipologi lahan yang belum pernah diusahakan dengan sistem sawah,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL).

Dalam perencanaannya, kegiatan cetak sawah juga harus menyertakan penyusunan dokumen lingkungan yang terkait, di antaranya Amdal apabila akan tercetak untuk luasan lebih dari 500 hektare (ha) per hamparan.

“Calon lokasi cetak sawah ini memiliki tipologi yang berbeda baik itu vegetasi maupun kondisi lapangnya, maka harus benar-benar di rencanakan dengan baik agar lahan tersebut dapat dioptimalkan.” sebut Mentan SYL.

Kegiatan cetak sawah yang telah dilakukan oleh Kementan dalam beberapa tahun ini selalu dimulai dengan SID (Survey Investigasi Design). SID ini sebagai proses perencanaan guna memastikan kesesuain lahan, ketersediaan petani, dan ketersediaan potensi sumber air.

“Proses ini dilakukan tahun sebelumnya sehingga tidak menghambat proses konstruksi penyediaan sawah baru yang tercetak pada tahun anggaran berjalan,” jelasnya.

Di cetak sawah Alor, Kementan juga mendukung infrastruktur lainnya seperti pembangunan Jalan Usaha Tani, Embung, Alsintan juga pembuatan Sumur Bor.

“Dukungan besar pemerintah pusat pada lokasi ini harapannya kedepan dapat turut meningkatkan produktivitas pangan dan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Paket bantuan saprodi juga diberikan dalam kegiatan cetak sawah ini sebesar 2 juta/ha, seperti benih, pupuk, pembenah tanah atau pestisida. Saprodi diserahkan kepada poktan sesuai prioritas kebutuhan namun jika ada kekurangan poktan akan swadaya untuk memenuhi kebutuhannya.

Sementara, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, dalam program cetak sawah ini, Kementan menerapkan strategi 6 Tepat. Yakni Tepat lokasi, Tepat volume/jumlah, Tepat kualitas, Tepat waktu, Tepat administrasi, dan Tepat tujuan/sasaran.

“Tepat lokasi, yaitu SID valid dan akurat, lokasi clear and clean, lokasi bukan kawasan hutan dan HGU, tidak tumpang tindih dengan program atau kegiatan lain, sumber air terjamin, ada petani penggarap, lahan sesuai untuk tanaman padi,” jelas Sarwo Edhy.

Tepat volume/jumlah, yakni luas lahan tercetak sesuai target/sasaran yang ditetapkan. Luas lahan yang tercetak telah diverifikasi oleh Timwas/PPHP (c.q tracking).

“Kalau Tepat kualitas, yaitu permukaan lahan telah bersih dari vegetasi dan tunggul (land clearing), permukaan lahan telah rata (land leveling), sudah ada pematang/galengan, sudah ada saluran tersier dan jalan usahatani, sudah olah tanah sehingga lahan menjadi siap tanam, sawah yang sudah sempurna dan siap tanam diikutkan sebagai peserta asuransi pertanian,” papar Sarwo Edhy.

Tepat Waktu, lanjut Sarwo Edhy, pekerjaan selesai sebelum kontrak jatuh tempo. Lahan segera ditanami setelah status lahan siap tanam. Disusul Tepat administrasi, yaitu tepat dalam menyusun rencana anggaran biaya (RAB), taat pada aturan/perundang undangan dan prosedur pelaksanaan perluasan sawah, dokumen pendukung lengkap, valid, berurutan.

“Sementara, tepat tujuan/sasaran yaitu sawah yang telah dicetak memproduksi padi secara berkelanjutan, sawah yang dicetak tidak diperkenankan dialihfungsikan, luas tambah tanam (LTT) di wilayah tersebut meningkat,” tambahnya.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *