Akademisi UPR Nilai Program Food Estate Berjalan Baik dan Tepat

19 0

PALANGKARAYA – Akademisi Universitas Palangka Raya, Darmae Nasir menilai program Food Estate sudah berjalan dengan baik. Menurutnya, program Food Estate ini dapat membantu dalam meningkatkan ketahanan pangan. “Saya yakin bisa (meningkatkan ketahanan pangan),” kata Nasir saat dihubungi, Selasa (24/8/2021).

Di sisi lain, Nasir menilai ada beberapa pandangan yang menyatakan program penyediaan lumbung pangan nasional itu gagal, merupakan pandangan keliru. Sebab, kata dia, ada perbedaan mendasar dari implementasi pertanian di lahan gambut dibanding lahan lainnya.

“Saya kira untuk yang tak paham mengenai pertanian di lahan gambut yang mungkin beranggapan sama seperti lahan mineral, irigasi pasang surut dan persoalan lain yang menyangkut kualitas dan kuantitas petani, pendapat itu akan sangat tidak sesuai konteks,” tutur Nasir.

Ia mengajak semua pihak ikut terlibat dan mendukung program Food Estate yang dimulai dengan perencanaan yang baik. “Mari kita maju selangkah demi selangkah, melakukan perluasan dengan penuh kehati-hatian,” ujar Nasir. Sebab, Nasir melanjutkan, lahan rawa gambut atau yang mempunyai jejak gambut perlu waktu cukup lama untuk bisa suitable.

“Mari lakukan dengan seksama pengembangan irigasi, penyediaan petani disertai dengan diklat untuk mereka. Dan yang sangat penting juga adalah mari kita dengar apa pendapat petani sendiri mengenai areal yang mereka garap,” tutur Nasir.

Menurutnya, petani merupakan orang yang tahu persis kondisi dan situasi lahan pertanian mereka. Petani tahu betul kapan harus menanam, pupuk apa yang digunakan, bagaimana strategi menghadapi kekurangan atau kelebihan air dan juga obat-obatan yang diperlukan. Bahkan, untuk varietas padi yang ditanam petani juga harus diajak berunding.

“Pertanian padi di tanah yang asalnya adalah lahan rawa gambut perlu waktu 5 hingga 15 tahun untuk membuatnya suitable untuk padi,” kata Nasir. Bukan tanpa data Nasir mengatakan hal tersebut. Nasir menyandang gelar Ph.D dari The University of Nottingham dengan penelitian tentang Sustainable Livelihood di lahan gambut. Salah satu penelitiannya adalah pertanian tanaman padi.

Atas dasar itu dalam konteks keberhasilan pengembangan lahan rawa menjadi lahan pertanian, Nasir menilai yang perlu digarisbawahi ada banyak problematika yang menyertainya.

“Perlu digarisbawahi, rawa ada yang rawa lebak dan rawa gambut. Untuk yang gambut, persoalannya begitu ruwet. Perlu waktu untuk membuat tanahnya menjadi suitable untuk padi, yang mana sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas air, kematangan tanah gambut (sudah teroksidasi atau masih gambut mentah) yang ditandai dengan pH yang masih di bawah 4, bahkan hanya 3,” terang Nasir.

Ia menilai apa yang dilakukan Kementerian Pertanian dengan melakukan intensifikasi lahan atau mengoptimalkan lahan rawa pada kawasan Food Estate ini merupakan langkah tepat.

“Sudah tepat untuk lahan yang selama ini sudah lama digarap oleh petani secara terus-menerus. Cobalah untuk mendengarkan mereka dari jadwal tanam, varietas padi yang ditanam dan obat-obatan yang diperlukan,” Nasir menyarankan.

Ia berharap untuk areal lahan Food Estate yang baru dibuka, saluran irigasi yang baru direvitalisasi, agar bersabar dalam proses pengembangannya. “Marilah kita bersabar. Keberhasilan di areal yang sudah lama digarap bukanlah datang secara instan. Ada proses alami dari lahan, sehingga suitable dan juga proses pembelajaran dari para petani mengenai bagaimana memperlakukan lahan mereka. Proses itu juga yang akan terjadi pada lahan yang baru dibuka,” ujar Nasir.

Nasir menilai bahwa kita sudah berusaha untuk meningkatkan produksi, ada sekian hektar yang ditanam setiap musim tanam, ada sekian hektar lahan baru yang disiapkan untuk jadi sawah, yang masing-masing telah memberikan kontribusinya untuk stok pangan nasional yang nyata adalah kita sudah berproses menuju kedaulatan pangan, khususnya beras.

” Keberhasilan pasti akan bisa diraih dengan upaya terus menerus, seraya memperhatikan kondisi lapangan secara seksama guna peningkatan produksi, baik untuk lahan lama maupun baru. Sekali lagi, harus digarisbawahi bahwa keberhasilan pertanian padi di lahan gambut tidak bisa datang begitu cepat. Perlu proses penyesuaian, baik bagi lahan dan juga petaninya. Perlu konsistensi kebijakan, karena apabila lahan yang digarap kemudian ditinggalkan, maka yang akan terjadi adalah kita harus mulai dari nol lagi,” pungkas Nasir. (*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *