Animasi Jadi Ladang Kreatif Milenial Bernilai Ekonomi Positif

22 0

BANDUNG — Prospek industri animasi di Indonesia sangat cerah. Alih-alih mengalami penurunan, di masa pandemi Covid-19 dan new normal ini, animasi malah menjadi salah satu subsektor ekonomi kreatif yang mengalami pertumbuhan positif, dan menjadi salah satu alternatif profesi bagi kalangan milenial.

“Industri animasi di Indonesia prospeknya sangat cerah. Faktornya, pada awal pandemi, banyak industri yang mendapat pekerjaan dan kebutuhan animasi dari global. Selain itu, ada kondisi dimana barang-barang produksi enggak boleh dibawa keluar sehingga kontennya tetap dikerjakan di perusahaan,” ujar Direktur Industri Kreatif Film, TV & Animasi Kemenparekraf Syaifullah di sela-sela kegiatan Bootcamp Action (Animation Creation Incubation) yang digagas Direktorat Industri Kreatif Film, Televisi dan Animasi (IFTA), Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif bekerjasama dengan Ainaki di Bandung, Rabu (21/10).

Menurut Syaifullah, sektor animasi makin banyak yang membutuhkan.”Kita tidak tahu kapan pandemi bakal selesai, ketika PSBB diperketat industri film tidak dapat berproduksi, tapi animasi tetap jalan karena industri lainnya banyak yang butuh konten animasi, misal digital marketing, teve, pemberitaan juga butuh simulasi yang menggunakan animasi termasuk pula presentasi. Kebutuhan konten animasi makin besar makanya trennya kian bagus,” ungkap dia.

Nah kegiatan inkubasi ini, kata Syaifullah, salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kemampuan pelaku industri animasi lokal dalam sisi teknis, bisnis dan manajerial, dalam rangka fasilitasi pendampingan usaha kreatif dan pengembangan ekosistem animasi nasional.

Ketua Umum Asosiasi Industri Animasi Indonesia (Ainaki) Daryl Wilson mengakui, pelaku industri animasi lokal masih terkendala belum meratanya informasi kebutuhan market luar negeri.

“Banyak kreator animasi kita yang belum go internasional, mereka belum pernah lihat atau bertemu untuk cari tahu, misalnya konten apa yang dicari jaringan media Disney, Nickelodeon atau Netflix. Ketika kita tahu mereka nyarinya apa berarti kita bisa siapin konten yang masuk ke segmen pasar mereka karena masing-masing punya segmen pasar tersendiri. Kita tidak bisa bikin satu barang yang bisa dijual ke semua market. Nah ketika kreator kita diberi informasi itu dengan segera mereka tentunya bisa menyiapkan projek yang memang mereka cari,” jelas Daryl.

Daryl menambahkan, data kajian Kemenparekraf-Kemenperin menunjukkan bahwa sektor animasi sangat pesat perkembangannya. Bahkan mencapai 200 persen per tahun, diukur dari pendapatan studio dan penyerapan tenaga kerja. “Tahun lalu jumlah studio besar di Indonesia hanya ada 70, sekarang sudah ada 160 kemungkinan tahun depan ada 320 studio,” papar dia.

Sementara, Dewan Pengawas Ainaki dan CEO Tempo Animation Chandra Endroputro menyebutkan, belum terserapnya SDM yang menguasai animasi bisa jadi karena standar kurikulum pendidikannya belum sesuai dengan kebutuhan industri. “Tenaga pengajarnya belum kualified untuk mengajar animasi karena sebagian besar bukan orang yang memang menguasai bidang animasi tapi dari bidang lain yang dicoba untuk mengajar animasi. Tapi perlahan sudah muncul pengajar yang menguasai animasi,” timpalnya.

Related Post

Dosa-Dosa Sekjen PSSI Ratu Tisha

Posted by - 9 April 2020 0
JAKARTA – Nama Ratu Tisha kini tengah menjadi sorotan. Apalagi setelah mendapat komplain dari anggota Komisi X DPR dari Fraksi…

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *