Foto : Istimewa

Antisipasi Krisis Pangan, Petani Gowa Beralih ke Sistem Tanam Jajar Legowo

147 0

DESTINASIDIGITAL.COM// JAKARTA – Di tengah ancaman krisis pangan akibat Covid -19 dan Potensi terjadinya kekeringan dalam waktu yang agak panjang, Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan produktivitas lahan pertanian khususnya pada lahan persawahan yang menjadi penopang utama produksi padi secara nasional. Salah satu diantaranya adalah melalui penerapan teknologi sistem tanam jajar legowo.

Sistem tanam legowo merupakan salah satu komponen PTT pada padi sawah yang apabila dibandingkan dengan sistem tanam lainnya memiliki keuntungan diantaranya adalah Jumlah populasi tanaman meningkat; Memudahkan perawatan dan pemeliharaan; Menekan serangan hama dan penyakit; Hemat biaya pemupukan; serta Meningkatkan produksi dan kualitas gabah.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) senantiasa meminta agar insan pertanian harus tetap bekerja meskipun dalam suasana Pandemi Covid-19.

“Kita saat ini sedang berada dalam kondisi Covid-19 yang mengakibatkan hampir semua sektor kehidupan bermasalah, termasuk sektor ekonomi. Tapi ada satu sektor yang memiliki efek yang besar jika bermasalah, yaitu jika kebutuhan pangan 267 juta jiwa tidak terpenuhi, maka ini efeknya akan panjang. Oleh karenanya, saya meminta kepada petani untuk tetap bekerja memproduksi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia dan kepada para petugas/penyuluh agar tetap mendampingi petani sehingga bisa diperoleh hasil produksi yang maksimal,” ungkap SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi, juga senantiasa mengingatkan bahwa Ketahanan pangan menjadi kunci untuk menghadapi pandemi Covid-19. Karenanya, dibutuhkan percepatan tanam agar kebutuhan pangan terus terpenuhi, termasuk pasca Covid-19 nanti. Untuk itu dibutuhkan penyuluh yang berkualitas agar proses ini tetap berjalan.

“Dalam masa seperti ini, pertanian tidak boleh berhenti. Pertanian tidak boleh bermasalah. Petani dan penyuluh harus terus turun ke lapangan. Namun tetap mematuhi protokol pencegahan Covid-19 seperti selalu cuci tangan pakai sabun, jaga jarak, dan pakai masker. Kenapa pertanian tidak boleh berhenti, karena sektor pertanian berkewajiban menyediakan bahan pangan,” tutur Dedi.

Salah satu daerah yang sukses melaksanakan alih teknologi dari sistem tanam biasa ke sistem tanam jajar legowo adalah Kecamatan Somba Opu, Kab. Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Dimana petani di wilayah Kecamatan somba Opu, 80% telah menerapkan Sistem Tanam Jajar Legowo.

Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Gowa, Sugeng Priyanto, keberhasilan petani di Kecamatan Somba Opu menerapkan sistem tanam jajar legowo tidak lepas dari peran penyuluh pertanian yang tidak mengenal lelah mendampingi dan meyakinkan petani untuk beralih dari sistem tanam konvensional ke jajar legowo.

“Butuh perjuangan panjang, karena petani secara umum tidak serta merta mau mengadopsi teknologi yang baru diperkenalkan, namun karena kerja keras dan kerjasama banyak pihak sehingga petani yang sudah menerapkan lebih awal dan merasakan manfaat jajar legowo bisa membantu mempercepat penerapan jajar legowo. Sehingga saat ini, sekitar 80% petani di Somba Opu sudah beralih ke sistem tanam jajar legowo ,” tutur Sugeng

Ketua Kelompok Tani Julupa’mai Kelurahan Tamarunang, Kec. Sombaopu, Kab. Gowa, H. Muh. Tahir menyatakan lahan kelompoknya dalam bentuk hamparan seluas 150 ha dan 80% sudah menerapkan sistem tanam Jajar legowo.

“Banyak manfaat yang sudah kami rasakan melalui sistem tanam ini, tapi paling terasa adalah peningkatan produksi. Sebelum menggunakan jajar legowo, produksi rata-rata anggota Poktan pada kisaran 4-5 ton per hektar. Setelah beralih ke Jajar Legowo, Alhamdulillah produksi rata-rata menjadi 7-8 ton per hektar,” tutur H. Tahir.

Penyuluh Pertanian Hj. Fatmawati patut berbangga hati karena wilayah binaannya sukses menerapkan sistem tanam jajar legowo. Ia pun memaparkan manfaat jajar legowo yang bisa langsung dirasakan seperti (1) Terdapat ruang terbuka yang lebih lebar diantara dua kelompok barisan tanaman yang akan memperbanyak cahaya matahari masuk ke setiap rumpun tanaman padi, sehingga meningkatkan aktivitas fotosintesis yang berdampak pada peningkatan produktivitas tanaman, (2) Sistem tanaman berbaris ini memberi kemudahan petani dalam pengelolaan usahataninya seperti: pemupukan susulan, penyiangan, pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit (penyemprotan). Disamping itu juga lebih mudah dalam mengendalikan hama tikus. (3) Meningkatkan jumlah tanaman pada kedua bagian pinggir untuk setiap set legowo, sehingga berpeluang untuk meningkatkan produktivitas tanaman akibat peningkatan populasi, (4) Sistem tanaman berbaris ini juga berpeluang bagi pengembangan sistem produksi padi-ikan (mina padi) atau parlebek (kombinasi padi, ikan, dan bebek), dan (5) Meningkatkan produktivitas padi hingga mencapai 10-15%.

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *