Destinasi Wisata Salatiga Bakal Diperkuat Lewat Salatiga Run 2020

232 0

JAKARTA – Destinasi wisata di Salatiga, Jawa Tengah, akan terus diperkuat. Salah satunya lewat event Salatiga International Run (SIR) 2020. Hal tersebut dibahas saat Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekraf Wawan Gunawan menerima kunjungan Ketua Forum Santri Indonesia (FSI) Jawa Tengah (berbasis pemberdayaan, ekonomi kreatif, dan pariwisata), sekaligus Coordinator Race Village & Event SIR 2020, Sus Endrastyanto, Senin (10/02/2020), di Gedung Kementerian Pariwisata Jalan Kimia 12 Jakarta.

Salatiga International Run (10 km) rencananya diselenggarakan 9 Agustus 2020 di Salatiga. Konsep kegiatannya adalah ‘find out more than just run’. Kegiatan ini diselenggarakan juga untuk menjual destinasi pariwisata, karena lokasinya yang unik di pegunungan dengan pemandangan sawah dan berdekatan dengan jalan tol. Event ini merupakan international run pertama di Salatiga.

Direktur Pengembangan Destinasi Regional II, Wawan Gunawan mengatakan, pada prinsipnya, semua event menjadi atraksi. Dan seluruh tempat bisa dijadikan destinasi pariwisata.

“Sedangkan Salatiga International Run masuk dalam sport tourism. Sport tourism lebih mudah menggerakan masa karena sudah ada pasar sendiri, yaitu menyasar hobi dan pariwisata secara bersamaan. Tinggal bagaimana pengemasan event tersebut agar terlihat ‘wah’,” papar Wawan Gunawan.

Dijelaskannya, suatu event harus dipersiapkan dengan matang. Pelaksaannya harus benchmarking dengan event run yang pernah terlaksana dengan baik

“Dan sesuai arahan dari Menparekraf, kaitkan antara event dengan ekonomi kreatif. Karena ekraf merupakan keberpihakan kita kepada masyarakat, misal pelaku kuliner yang dikemas dengan kearifan lokal sedemikian rupa menjadi bagian dari event,” jelasnya.

Wawan yang juga Ki Dalang Wayang Ajen, tak lupa mengingatkan panitia agar menperhatikan beberapa titik krusial. Dari titik start hingga finish, dibuat tema agar wisatawan/peserta mendapat pengalaman yang tidak terlupakan. Tidak hanya itu, ornamen dibuat yang memunculkan kearifan lokal, distilasikan agar terlihat artistik.

“Dibutuhkan kurator yang bisa mengemas semua itu, agar bagaimana suatu event bisa menjadi wah dan eye catching, dan tentunya fully branding,” terangnya.

Wawan pun memberikan masukan agar proposal/paparan divisualisaikan dalam bentuk 3D dengan desain orisinil dan bagus serta tematik kuat. Isi konten proposal juga harus mencerminkan nilai spiritual, budaya, ekonomi, komunikasi/media, komitmen CEO, dan keberlanjutan. Proposal harus dibuat secara singkat, padat dan menggigit agar poin yang ingin disampaikan tersampaikan jelas.

Karena masih memiliki waktu, Wawan mengimbau agar pra event garap serius beberapa bulan sebelum acara serta persiapkan news release dan tvc orisinil. On event pun harus booming, dan post event harus dipikirkan mengenai bagaimana dampak bagi masyarakat, baik secara ekonomi dan lainnya.

“Yang harus diingat, salah satu kunci keberhasilan pariwisata adalah CEO commitment, dalam hal ini kepala daerah. Pentahelix pariwisata pun harus bersinergi, karena seluruh dinas adalah pariwisata. Bangun juga komunikasi dengan media lokal dan nasional bahkan internasional agar berimpact besar,” terang Wawan.

Wawan menilai Salatiga dapat dijadikan representasi wilayah Indonesia. Karena, Salatiga memiliki kekayaan alam dan berpotensi mengembangkan akulturasi budaya.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *