Dibalut Kreativitas Budaya Lokal, Launching Program BISA di Ngalang Makin Eksotis

140 0

GUNUNGKIDUL – Launching program BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Aman) di Daya Tarik Wisata (DTW) Ngalang semakin eksotis. Sebab, ceremony-nya kental dengan balutan karya kreatif budaya lokal, Rabu (19/8). Lokasi eventnya ada di Dusun Plosodoyong, Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemeriahan tersebut pun banyak menebar warna inspirasi.

Experience berbeda dan unik selalu ditawarkan DTW Ngalang kepada para wisatawan. Warna tersebut pun kental mengalir di dalam launching program BISA. Menyemarakkan suasana, seni Gejog Lesung pun ditampilkan menarik menyambut peserta launching BISA. Secara umum, program BISA diikuti oleh 100 orang peserta. Background mereka adalah pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif di sana.

“Sama seperti DTW Gunungkidul lainnya, Ngalang juga memiliki banyak potensi. Gejog Lesung ini jadi salah satu keunikan di sini. Dengan potensi yang ada, kami berharap bisa terus mendukung Indonesia melalui sektor pariwisata. Dan, kami sangat gembira karena program BISA bisa hadir di Ngalang yang memiliki karakteristik khas,” ungkap Kadispar Gunungkidul Asti Wijayanti, Rabu (19/8).

Menjadi daya tarik launching BISA, konten Gejog Lesung ditampilkan Kelompok Gejog Lesung Lestari. Mereka terdiri dari ibu-ibu RT.05/RW.09, Plosodoyong, Ngalang. Dengan mengenakan kebaya warna merah dan berjarik, sebanyak 3 lagu ditampilkan dengan iringan musik dinamis. Komposisi lagu terdiri dari, Lesung Jumenggleng, Gugur Gunung, dan Lumbung Desa.

Diciptakan sendiri dengan irama nada berbeda, setiap lagu yang dinyanyikan menawarkan pesan penuh inspirasi. Lagu Lesung Jumenggleng contohnya yang bercerita tentang upaya pelestarian budaya lesung. Hingga kini, masyarakat di sana tetap menggunakan lesung untuk merontokan padi dan menghaluskan gaplek. Mereka tetap menjaga budaya lesung agar tetap lestari turun temurun.

Warna inspirasi lainnya disajikan melalui lagu Gugur Gunung. Lagu ini bercerita budaya gotong royong dari masyarakat yang masih dipertahankan. Buktinya, budaya kerja bakti membersihkan lingkungan dan lainnya masih dilakukan secara rutin. Adapun lagu Lumbung Desa menceritakan kemakmuran warga di sana. Warga masih menyimpan hasil bumi pascapanen di dalam lumbung.

“Seni Gejog Lesung sangat unik dan menarik. Lagu-lagunya bagus dengan iringan musik yang sangat unik. Kami semua terkesan dengan persembahan tersebut. DTW ini makin indah dengan Gejog Lesung dan warna lain tentunya. Seni budaya tentu menjadi potensi besar di DTW Ngalang,” terang Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Muh. Ricky Fauziyani.

Selain Gejog Lesung, warna budaya lainnya disajikan melalui Tari Manuk Dadali. Dibawakan oleh penari wanita yang duduk di bangku Sekolah Dasar, tarian ini dipelajari secara otodidak. Mereka mempelajarinya dari kanal Youtube. Selain itu, DTW Ngalang pun menampilkan tarian khas Midhat Midhut. Dikembangkan komunitas tari lokal, Midhat Midhut menjadi representasi wajah gembira para gadis remaja DTW Ngalang.

Selain tarian, DTW Ngalang sebenarnya memiliki banyak konten permainan tradisional. Bentuknya betupa Dakon, Bentik, Ular-Ularan, Jelongan (Petak Umpet), hingga Cublak Cublak Suweng. Mereka juga tetap mengembangkan Seni Karawitan. Rencananya, potensi lokal tersebut akan dikembangkan menjadi paket di Rumah Budaya.

“DTW Ngalang tetap harus mengenali seluruh potensinya. Sebab, kalau disatukan dan dikemas secara bagus, itu akan jadi paket yang akan menaikkan daya tawar DTW Ngalang. Artinya, ada banyak sekali experience yang bisa dieksplorasi wisatawan. Silahkan berkarya secara kreatif. Kami siap membantunya dengan beragam pelatihan,” terang Ricky lagi.

Rangkaian launching BISA di Ngalang pun semakin lengkap dengan aliran bantuan sarana prasarana. Melalui BISA, Kemenparekraf/Baparekraf memberikan bantuan berupa Wastafel Portable Anti Covid-19 dan berbagai alat sebagai sarana penunjang produksi pertanian. Agenda ditutup melalui aksi riil berupa bersih-bersih lingkungan di DTW Situs Bioturbasing Kali Ngalang.

“Melalui program BISA, berbagai potensi yang ada di DTW Ngalang pasti akan semakin optimal. Sebab, program BISA menjadi pendukung atraksi yang ditawarkan. Program ini menegaskan status DTW yang bersih, indah, sehat, dan aman. Dengan penerapan protokol kesehatan yang maksimal, wisatawan akan mendapat proteksi dari potensi infeksi Covid-19,” tegas Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *