Famtrip Promosi Wisata Budaya dan Kuliner Singkap Eksotisnya Suku Komodo

114 0

LABUAN BAJO – Taman Nasional Komodo menyimpan banyak warna eksotis. Tidak hanya keberadaan Komodo (Varanus Komodoensis) beserta fauna lain dan floranya saja. Pulau Komodo pun punya cerita unik terkait keberadaan Suku Komodo.

Keberadaan Suku Komodo menjadi daya lain famtrip Promosi Wisata Budaya dan Kuliner, 8-11 Oktober 2019. Mereka mengeksplorasi beragam kekayaan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Suku Komodo tersebut konon sudah menetap lama di sana sebelum kedatangan Suku Bajo. Ranger Taman Nasional Komodo Abdurahman mengungkapkan, nenek moyang mereka asli Pulau Komodo.

“Di kawasan Taman Nasional Komodo ada Suku Komodo. Nenek moyang kami asli dari Pulau Komodo. Jadi, kami sudah ada sejak awal. Sebelum Suku Bajo datang. Karena asli sini, kami pun direkrut menjadi Ranger dan diijinkan berjualan di Loh Liang, Pulau Komodo,” ungkap Abdurahman, Rabu (9/10).

Kedekatan emosional masyarakat Suku Komodo dengan satwa Komodo diperluat legenda yang hidup di sana. Konon, satwa Komodo merupakan kembaran Suku Komodo. Mereka dilahirkan oleh Putri Naga yang menikah dengan pria setempat. Putri Naga melahirkan seorang anak laki-laki dan sebuah telur. Telur tersebut kemudian menetap menjadi satwa Komodo Betina.

“Cerita ini masih hidup hingga saat sekarang. Kami memang sangat dekat dengan Komodo. Kami bisa hidup berdampingan secara damai dengan Komodo-Komodo di sini. Tidak pernah saling mengganggu,” tutur Abdurahman lagi.

Selain mengeksplorasi Pulau Komodo, mereka juga berinteraksi dengan beberapa orang Suku Komodo pada Rabu (9/10). Sebab, anggota Suku Komodo ini juga menjual beragam souvenir di kawasan destinasi Loh Liang. Bentuknya Patung Komodo, Topeng khas Suku Komodo, Asesoris, hingga beragam T-Shirt. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani menerangkan, Suku Komodo unik.

“Keberadaan Suku Komodo ini sangat unik. Sebab, menambah kekayaan area Taman Nasional Komodo. Selain alam, wisatawan juga mendapatkan experience melalui budaya masyarakat asli di sana. Regulasi pelibatan mereka dalam pengelolaan kawasan itu sangat bagus. Sebab, Suku Komodo tersebut tentunya sangat mengenal karakter Komodo,” terang Rizki.

Tinggal di area Pulau Komodo, suku ini mendiami Kampung Komodo. Secara administrasi, Kampung Komodo masuk Kecamatan Komodo, Manggarai Barat. Kampung nelayan tersebut didiami oleh sekitar 800 kepala keluarga. Populasinya berada di angka 2.000 jiwa. Mayoritas menjadi nelayan dan beberapa aktif sebagai Ranger di Taman Nasional Komodo.

Penunjukan mereka sebagai Ranger juga unik. Sebab, suku tersebut dikenal dekat dengan satwa Komodo (Varanus Komodoensis). Segala perilaku dan kebiasaan Komodo sangat mereka pahami. Saking dekat, di sana muncul istilah ‘berbagi dapur’ antara Suku Komodo dengan satwa Komodo. “Sebagai komunitas besar, Suku Komodo juga memiliki budayanya sendiri. Karakternya sangat khas,” jelas Rizki.

Mendiami Pulau Komodo dengan budaya khas, Suku Komodo pun memiliki bahasanya sendiri. Mereka berkomunikasi menggunakan Bahasa Komodo. Bahasa Komodo merupakan perpaduan 3 bahasa. Selain Bahasa Komodo, mereka juga mengadopsi Bahasa Larantuka dan Bima. Wajar bila mereka bisa mengerti beberapa bahasa di sana. Namun, masyarakat luar tidak mengerti bahasa Suku Komodo.

Lebih menarik, Komodo dahulu mengerti Bahasa Komodo tersebut. Masyarakat bisa memerintahnya dengan beberapa perkataan. Sebut saja, Moke Mai (jangan datang) atau Moke Waki Ahu (jangan gigit saya). “Suku Komodo memberi banyak inspirasi. Saat berada di Pulau Komodo, pengunjung bisa belajar sedikit beberapa kosa kata mereka. Inilah mengapa area ini jadi destinasi luar biasa,” lanjut Rizki lagi.

Tumbuh berkembang, Suku Komodo memiliki budayanya sendiri. Sebut saja Tari Aru Gele atau Pecak Silat Komodo. Mereka juga memiliki nyanyiannya sendiri. Ada lagu Ario yang bercerita kasih sayang seorang kakak yang menghibur adiknya. Sang adik ini kesepian ditinggal pergi bapaknya yang pergi mencari Gebang sebagai bahan pangan.

Lagu lainnya adalah Beteng Kakapo Ahamotang. Menjadi lanjutan Ario, lagu ini bercerita sangk kakak berhasil menghibur adiknya tersebut. Sang adik tertawa dan tidak lagi setelah melihat burung gagak makan. Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani menegaskan, harmoni terjadi di Pulau Komodo dan sekitarnya.

“Beberapa pulau di kawasan Taman Nasional Komodo memang berpenghuni. Mereka berhasil membuat harmoni luar biasa. Kehidupan dan alam akan terus lestari di sana. Keberadaan mereka tentu bisa jadi pembelajaran berharga. Segala sesuatu bisa hidup berdampingan. Sebab, Suku Komodo ini juga ikut melindungi kehidupan Komodo,” tegas Ricky.

Lebih lanjut, Suku Komodo memang memiliki cara unik mengolah makannya sendiri. Kerasnya alam di Pulau Komodo dan sekitarnya tidak membuat mereka patah arang. Suku ini memiliki makanan khas berupa Mbuta. Mbuta ini diolah dari biji pohon Gebang. Biji tersebut lalu ditumbuk hingga jadi tepung, baru diolah secara khusus menjadi Mbuta.

“Bukan hanya harmoninya, perjuangan hidup mereka luar biasa. Mereka sukses mengolah potensi yang ada di sekitarnya menjadi bahan pangan. Dengan beragam keunikannya, kami rekomendasikan Suku Komodo untuk dikunjungi. Apalagi, fasilitas di sana lengkap,” papar Ricky.

Menjadi bagian destinasi wisata, Kampung Komodo juag dilengkapi homestay. Jumlahnya ada sekitar 8 homestay. Harga sewa per malamnya Rp200 Ribu hingga Rp350 Ribu. Destinasi ini menjadi salah satu rujukan bagi para wisman. Mereka datang dari Inggris, Jerman, Amerika Serikat, dan Singapura. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menerangkan, Taman Nasional Komodo destinasi komplit.

“Sejak awal kawasan Taman Nasional Komodo sangat unik. Destinasi ini sangat komplit. Semuanya itu eksotis, baik alam, budaya, hingga fasilitasnya. Pokoknya permukaan dan bawah airnya juara. Silahkan datang langsung ke sana dan nikmatilah keajaibannya,” tutup Arief yang juga Menpar Terbaik ASEAN. (*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *