Gelar Bimtek, Kemenparekraf Dorong Santri Jadi Enterprenuer

196 0

JAKARTA – Sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam, pondok pesantren tentu memiliki potensi tersendiri yang dapat dikembangkan. Salah satunya adalah membangun kemandirian dalam hal ekonomi kreatif. Dalam kerangka mendorong hal tersebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Gerakan Usaha Kreatif Digital Marketing Bagi Santripreneur pada Rabu (29/6/2022).

Mengambil tempat di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang, sebanyak 100 orang santri terlibat dalam bimtek ini. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, saat ini ada sebanyak 34 juta orang yang menggantungkan pada sektor ekonomi kreatif. Sektor ekonomi kreatif sendiri menyumbang 60 persen atau setara dengan Rp1.154,4 triliun untuk PDB nasional. “Pada tahun 2024 diproyeksikan sumbangsih sektor ekonomi kreatif kita prediksi naik menjadi 65 persen,” tutur Sandiaga.

Sandiaga memaparkan, ada lima kriteria penting untuk menjadi pengusaha muda sukses, yaitu inovatif, berani ambil resiko, adaptif, memiliki soft skill dan memiliki prinsip 4AS yakni kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas.

“Santripreneur menjadi agen perubahan sebagai enterpreneur, melakukan negotiation, communication dan promotion,” tegas Sandiaga. Dikatakannya, untuk dapat merebut ceruk pasar, maka sebuah produk ekonomi kreatif harus memiliki unique selling point. “Tentu hal itu untuk mendapat keuntungan, brand sebagai personality dan digitalisasi,” ujarnya.

Sandiaga menarget pada tahun ini akan ada 17,2 juta UMKM yang masuk marketplace digital. Pada tahun 2023, jumlahnya ditarget menjadi 30 juta UMKM yang masuk dalam ekosistem marketplace digital melalui Gerakan Bangga Buatan Indonesia.

“Ekonomi kreatif ini selalu dinamis dan selalu menemukan pasar. Oleh karenanya, kami berharap hal ini dimanfaatkan dengan baik,” harap Sandiaga.

Direktur PSDM Ekraf Kemenparekraf/Baparekraf, Erwita Dianti, menyampaikan kegiatan ini didorong dalam rangka meningkatkan kapasitas SDM ekonomi kreatif di bidang digital marketing bagi santri. Menurutnya, lembaga pendidikan seperti pondok pesantren memiliki potensi menciptakan santri entrepreneur atau santripreneur. “Karena karakter disiplin, mandiri dan tekun dari pendidikan pesantren menjadi prinsip yang dibutuhkan seorang enterprenuer,” ujar Erwita.

Dikatakannya, terus menambah pengetahuan-pengetahuan baru merupakan suatu kebutuhan, seperti digital marketing sebagai bekal nanti setelah lulus dari pesantren. “Kami berharap santri dapat bekal lain selain ilmu agama dengan kegiatan ini. Artinya, secara bisnis dia bisa memulai usaha, secara keilmuan dia menerapkan prinsip dasar teologis dalam usaha yang digelutinya,” tutur Erwita.

Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang, Prof Mohammad Bisri berharap agar para santri terus belajar menggali ilmu pengetahuan baru. Salah satunya melalui kegiatan yang diselenggarakan Kemenparekraf/Baparekraf ini.

“Menjadi santri artinya terus belajar, tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi santri dipersiapkan untuk hidup di masyarakat dengan bekal ilmu dan pengetahuan yang up to date, salah satunya digital marketing,” tutur dia.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.