Gerakan BISA dan Bimtek SDM Ekonomi Kreatif Angkat Potensi Produk Lokal

84 0

SUKABUMI – Beragam produk lokal Ekonomi Kreatif dibranding melalui Bimtek SDM Ekonomi Kreatif dan gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Aman). Varian kuliner yang diangkatnya berbahan dasar Hanjeli. Variannya sangat beragam dan sudah pasti nikmat.

Launching Bimtek SDM Ekonomi Kreatif dan gerakan BISA sudah dilakukan 27-28 Agustus 2020. Lokasi event ada di Geopark Ciletuh Pantai Panglang, Ciwaru, Ciemas, Sukabumi, Jawa Barat. Jumlah peserta 100 orang. Mereka adalah pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif terdampak Covid-19 yang berada di Sukabumi. Direspon positif oleh publik, kedua program ideal membranding produk kuliner berbahan dasar Hanjeli.

“Destinasi Sukabumi memiliki beragam potensi ekonomi kreatif yang menjanjikan. Salah satunya adalah kuliner dengan bahan baku Hanjeli. Keberadaan tentu menjadi daya tarik lain, apalagi cita rasanya khas dan tentu saja nikmat,” ungkap Koordinator Subdit Edukasi III Direktorat Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Toar RE Mangaribi.

Hanjeli merupakan sejenis tumbuhan biji-bijian tropis dari suku padi-padian atau Poaceae. Tanaman ini berasal dari Asia Timur dan Malaya. Namun, sekarang Hanjeli telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Beberapa varietas memiliki biji yang dapat dimakan dan dijadikan sumber karbohidrat dan juga obat.

Hanjeli adalah nama popular di daerah Jawa Barat (Sunda). Untuk nama popular Indonesia adalah Jali atau Jali-jali. Tanaman ini menyebar di berbagai ekosistem lahan pertanian yang beragam dari daerah iklim kering, basah, lahan kering maupun lahan basah di Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa.

Secara umum, Hanjeli memiliki beberapa jenis varietas. Ada Hanjeli Ketan yang bisa digunakan sebagai Bubur Hanjeli, termasuk Hanjeli Batok. Memiliki karakter lebih keras, varietas Hanjeli Batok tetap bisa dikunsumsi. Hanjeli berikutnya adalah jenis Batu yang tidak bisa dikonsumsi, tapi diolah jadi souvenir.

“Hanjeli merupakan salah satu sumber makanan. Komposisi kandungan unsurnya bagus untuk tubuh. Tanaman ini sejak dahulu sudah populer di Indonesia. Tapi, nama-namanya bisa saja berbeda sesuai dengan bahasa daerah masing-masing,” terang Toar.

Sangat dekat dengan keseharian masyarakat, Hanjeli pun banyak diolah menjadi beragam jenis kuliner. Pada awalnya, Hanjeli hanya diolah menjadi beras lalu dikembangkan menjadi rengginang. Lebih lanjut, Hanjeli dikembangkan menjadi dodol hingga nasi liwet.

Dengan kreativitas yang dimilikinya,masyarakat di destinasi UNESCO Global Geopark (UGG) Ciletuh bisa menghadirkan Hanjeli dalam ‘wajah’ berbeda. Menjadi kuliner khas UGG Ciletuh, Hanjeli disulap menjadi bubur, tape, tepung, liwet, hingga brownis.

“Kreativitas masyarakat di destinasi Sukabumi haruslah diapresiasi. Sebab, mereka ini bisa mengolah 1 bahan baku menjadi beragam varian kuliner. Bahan bakunya Hanjeli pula. Setiap wisatawan yang datang ke sini pasti sudah memiliki kuliner turunan Hanjeli favoritnya,” jelas Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Muh. Ricky Fauziyani.

Aktivitas kuliner olahan dengan bahan baku Hanjeli sudah dimulai sejak 2010. Diawali hanya sekedar memenuhi kebutuhan usaha, tapi masyarakat kini menempatkan Hanjeli sebagai komoditi berkelanjutan. Seiring berkembangnya waktu, Hanjeli bahkan dipakai sebagai nama desa wisata. Nama Desa Wisata Hanjeli otomatis menggantikan label lama Desa Walran mandiri.

“Hanjeli jelas menyehatkan. Kandungan gizinya luar biasa. Proteinnya pun berjumlah dua kali lipat dari beras. Keberadaan kuliner olahan Hanjeli tentu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Posisi kuliner ini semakin populer setelah ikut dibranding BISA dan GPM,” kata Ricky lagi.

Selain kuliner, Hanjeli juga bisa diolah menjadi asesoris wanita dan beragam produk souvenir. Bahan yang diolah adalah biji Hanjeli. Produk yang dihasilkannya seperti, kalung, gelang, dan asesoris lainnya. Founder Desa Wisata Hanjeli Asep Hidayat Mustopa menuturkan, perluasan produk Hanjeli memberi manfaat lebih secara ekonomi.

“Kami terus bereksperimen untuk mengembangkan produk kreatif lain berbahan dasar Hanjeli. Sebab, Hanjeli memiliki manfaat ekonomi besar. Apalagi, penetrasi pasarnya sangat kompetitif. Kami sekarang memiliki pendapatan bagus dari Hanjeli dan pariwisata. Pariwisata ini menjadi penyedia konsumen,” pungkasnya.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *