Indahnya Pura Lempuyang, “Gerbang Surga” Pulau Dewata yang Instagrammable

99 0

BALI – Salah satu destinasi wisata yang patut Anda kunjungi jika sedang berlibur ke Pulau Bali adalah Pura Lempuyang. Pura Lempuyang salah satu obyek wisata di Bali dan juga merupakan tempat suci bagi umat Hindu yang berlokasi wilayah bagian Timur Pulau Dewata, tepatnya di Kabupaten Karangasem. Saking indahnya candi tersebut dinamakan dengan Gates Of Heaven Bali atau Gerbang Surga. Waktu sore menjelang malam, pengunjung bisa menikmati keindahan cahaya sunset yang berwarna keemasan. Spot yang paling pas untuk berfoto adalah di gerbang atau candi Bentar yang ada di Pura Lempuyang tersebut.

Saat mengunjungi Pura Lempuyang, pemandangan yang pertama kali terlihat sangat mengesankan dari tangga bergaya arsitektur Bali dengan naga di kedua sisi pegangan tangga. Pemandangan terbaik berada di atas tangga, di mana pengunjung dapat melihat jauh melintasi lereng berhutan hijau. Dari posisi ini Gunung Agung juga terlihat dengan jelas.

Foto di Gates Of Heaven tersebut akan menjadi suatu kenangan yang tak terlupakan selama Anda berlibur di Bali. Arsitektur yang megah, indah dan cantik dengan ornamen khas tradisional Bali tampil megah memisahkan areal luar pura dengan bagian dalam, seolah memisahkan sifat keduniawian manusia dengan tujuan rohani dan mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Plt Kepala Dinas Pariwisata, I Putu Arnawa menjelaskan, Pura Lempuyang, yang secara lokal disebut Pura Lempuyang Luhur adalah salah satu pura tertua dan paling dihormati di Bali. Penghormatan ini setara dengan Pura Besakih yang biasa disebut The Mother Temple of Bali. Mengenai usia dan kedudukan pura, kedua pura ini diyakini melebihi dari mayoritas pura lain di Pulau Bali.

Pura Lempuyang Luhur merupakan target yang cocok dimasukkan dalam rencana perjalanan selama di Pulau Bali. Pura Lempuyang berposisi di puncak Gunung Lempuyang di bagian Timur Pulau Bali. Pura Lempuyang tepatnya berada pada ketinggian 1.175 meter di atas permukaan laut.

“Dalam peta wisata Bali, Pura Lempuyang Luhur menjadi tujuan mendaki yang cukup menarik bagi wisatawan, terutama mereka yang menginap di wilayah Bali Timur seperti Amed, Tirtagangga dan Candidasa, karena lokasinya berdekatan,” kata Arnawa, Selasa (29/12/2020).

Untuk mencapai Pura Lempuyang Luhur, pengunjung harus melalui tangga curam dengan lebih dari 1.700 anak tangga. Sepanjang perjalanan mendaki anak tangga, pengunjung (pemedek, dalam bahasa lokal) bisa berinteraksi dengan puluhan monyet. Monyet abu-abu berekor panjang ini mendiami hutan pegunungan yang sejuk di sekitarnya.

Untuk pengunjung yang tidak kuat mendaki ribuan anak tangga itu, tidak perlu khawatir kehilangan kesempatan menikmati keindahan. Mereka yang tidak naik ke puncak di Pura Lempuyang masih dapat menikmati pemandangan indah di pura Pura Penataran Agung yang megah di kaki gunung.

Anak tangga menuju areal madya mandala yang nantinya menuju utama mandala Pura Penataran Agung Lempuyang ini diapit oleh sepasang patung Naga Anantaboga dan Basuki, serta deretan patung Pandawa, dari patung yang paling bawah yaitu Sahadewa, Nakula, Arjuna, Bima, Yudistira dan yang paling atas adalah patung Krisna yang dikenal sebagai penjelmaan dewa Wisnu. Secara psikis, peletakan patung-patung tersebut memberikan penegasan setiap jenjang area memiliki makna yang berbeda-beda.

Dijelaskan Arnawa, mengacu pada Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul yang menyatakan bahwa Sang Hyang Parameswara membawa gunung-gunung yang ada di Bali dari Jambudwipa yaitu di India ke Gunung Mahameru.

Potongan-potongan Gunung Mahameru tersebut dibawa ke Bali dan dipecah kembali menjadi tiga buah bagian besar, kemudian dipecah kembali menjadi bagian-bagian kecil. Bagian tengah menjadi Gunung Batur dan Rinjani sedangkan pada puncaknya menjadi Gunung Agung, di mana Gunung Agung sekarang ini adalah gunung tertinggi di Pulau Bali.

Pecahannya yang jauh lebih kecil menjadi deretan gunung-gunung yang berhubung satu sama lain. Gunung-gunung yang berhubungan ini antara lain Gunung Pengalengan, Beratan, Nagaloka, Pulaki, Puncak Sangkur, Bukit Rangda, Trate Bang, Padang Dawa, Andhakasa, Sraya, Uluwatu, Tapsai dan Gunung Lempuyang.

“Gunung-gunung yang telah disebutkan tadi digunakan sebagai istana para dewa, manifestasi Tuhan untuk menjaga Bali dalam kepercayaan agama Hindu,” tutur Arnawa.

“Pura Lempuyang terbagi dalam tiga mandala yaitu Lempuyang Sor, Lempuyang Madya dan Lempuyang Luhur. Berdasarkan lontar Markandeya Purana, Pura Lempuyang didirikan oleh Rsi Markandeya sekitar abad ke-8 M. Pada saat itu Rsi Markandeya membuat sebuah pesantrian untuk keperluan persembahyangan sekaligus membabarkan ajaran Hindu,” tambah dia.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Hari Santosa Sungkari tak menampik pesona Pura Lempuyang yang begitu megah. Menurutnya, Pura Lempuyang amat memberi kesan kepada wisatawan meski sesungguhnya merupakan pura sebagai tempat ibadah umat Hindu Bali. “Ini adalah pura yang menjelma menjadi destinasi wisata. Pura Lempuyang ini dengan keunggulan yang dimilikinya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mengunjunginya,” kata Hari Santosa Sungkari.

Ia melanjutkan, destinasi wisata Pura Lempuyang tak hanya menawarkan wisata religi dan budaya, tetapi keindahannya menjadi spot menarik bagi wisatawan yang menyenangi fotografi. Meski pura, faktanya Pura Lempuyang banyak diminati oleh generasi milenial. “Ada banyak generasi milenial yang hadir ke sini dan mendongkrak kunjungan wisatawan melalui karya foto Instagramabel yang mereka unggah di sosial media,” tuturnya.

Direktur Pengembangan Destinasi Regional II Kemenparekrwf/Baparekraf Wawan Gunawan menambahkan, sebagai sebuah destinasi Pura Lempuyang telah memenuhi standar protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environmental Sustainabel). CHSE, kata dia, saat ini menjadi kebutuhan wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata ke suatu destinasi.

“Pandemi telah mengubah permintaan wisatawan terhadap destinasi wisata. Mereka umumnya amat peduli terhadap aspek keselamatan dan kesehatan. Pura Lempuyang ini memenuhi standar tersebut,” ujarnya.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *