Jelang Musim Kemarau, Daerah Diminta Manfaatkan Sumber Air untuk Menjaga Produksi Pertanian

45 0

JAKARTA – Menghadapi kekeringan yang diprediksi terjadi mulai Juli 2020, Kementerian Pertanian (Kementan) mengimbau Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk memanfaatkan sumber air yang ada.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, sumber air di lahan pertanian sudah dibangun pemerintah, seperti embung, dam parit dan irigasi perpipaan/perpompaan untuk mengantisipasi kekeringan.

“Bangunan air seperti embung dan dam parit akan bermanfaat meskipun debit air kecil, air masih bisa teralirkan ke sawah-sawah petani. Sehingga petani bisa menambah pertanaman dalam setahun, dari satu kali menjadi dua atau tiga kali,” jelas Mentan SYL, Senin (18/5).

Mentan SYL menilai, strategi pompanisasi dan pipanisasi yang diterapkan Ditjen PSP sebagai langkah mitigasi kekeringan sudah efektif. Dengan begitu, petani tetap bisa bercocok tanam meskipun terancam kekeringan.

“Pompanisasi dan pipanisasi menurut saya adalah program yang sangat efektif karena bisa menanam hingga tiga kali, karena air tetap tersedia,” katanya

Sementara, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy menambahkan, Kementan telah melaksanakan program pengembangan bangunan konservasi air, yakni embung, dam parit, dan long storage, serta Irigasi perpompaan dan perpipaan di 32 Provinsi.

Tahun 2014, Kementan telah membangun sebanyak 9.410 unit embung di 32 provinsi, dan dalam kurun waktu tahun 2014 hingga tahun 2019 telah dibangun embung/dam parit/ long storage sejumlah 12.489 unit.

Sedangkan Irigasi Perpompaan dan perpipaan yang juga dibangun untuk menjaga ketersediaan air dimusim kemarau telah dibangun sejumlah 4.044 unit dalam rentang waktu dari tahun 2014 – 2019.

“Bangunan embung, dam parit, irigasi perpipaan dan perpompaan, dibangun guna mengantisipasi musim kemarau, sehingga usaha tani tidak khawatir akan kekurangan air , dapat berjalan dengan baik dan produksi dapat terus meningkat,” ungkap Sarwo Edhy

Selain itu, lanjutnya, pihaknya akan memprioritaskan dan mengawal pemanfaatan sumber-sumber air sebagai suplesi pada lahan sawah yang terdampak kekeringan.

“Kami segera mengindentifikasi sumber air alternatif yang masih tersedia dan dapat dimanfaatkan melalui perpompaan dan irigasi air tanah dangkal,” tegasnya.

Tidak hanya itu saja, Kementan mengingatkan dinas agar alat dan mesin pertanian (Alsintan) dimanfaatkan untuk mengatasi mitigasi kekeringan.

“Kita minta, manfaatkan semua pompa air yang tersedia di daerah dan kerahkan Brigade Alsintan untuk membantu petani dalam mengamankan standing crop dan memitigasi kekeringan,” tegasnya.

Sarwo Edhy menyebutkan total bantuan pompa air dari tahun 2014-2019 sebanyak 100.720 unit. Khusus daerah yang sumber airnya masih tersedia dan mencukupi, disarankan untuk segera manfaatkan Alsintan dan kerahkan Brigade Alsintan untuk melakukan percepatan tanam padi, jagung dan kedelai.

“Petani serta Dinas Pertanian setempat harus bersinergi mengantisipasi kekeringan ini. Salah satu upayanya adalah pengawalan gilir giring irigasi, penanganan illegal pumping, dan sosialisasi dalam mematuhi jadwal tanam. “ tambah Sarwo Edhy.

Kegiatan dalam rangka antisipasi kekeringan ini terus dilaksanakan agar produksi sektor pertanian tidak terhambat. Kementan terus berupaya menyediakan pembangunan embung, dam parit, irigasi perpipaan dan perpompaan serta bantuan lainnya sehingga produktivitas pertanian terjaga sepanjang tahun.

“Ini untuk meningkatkan intensitas pertanaman, meningkatkan produktivitas pertanian, pendapatan dan kesejahteraan petani,” pungkasnya.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *