Kaum Milenial Perangi Covid-19 Melalui Program 10 Rumah Aman KSP

57 0

JAKARTA – Kepekaan sosial tinggi diperlihatkan oleh kaum milenial. Kids zaman now ikut merespon potensi sebaran Covid-19 di lingkungan sekitar secara begotong royong. Menggunakan media program 10 Rumah Aman milik Kantor Staf Presiden (KSP), mereka turun tangan langsung menjadi aktivis Dasa Wisma. Aksinya dengan melakukan penyemprotan disinfektan anti Covid-19.

Apresiasi harus diberikan bagi kaum milenial RT.10/RW.03, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Tergabung bersama Remaja Karang Taruna/Ikatan Remaja Sepuluh Tiga (Iresti), sebanyak 7 anggotanya melakukan penyemprotan disinfektan, Minggu (5/4). Menggunakan peralatan lengkap dan memenuhi aspek keamanan, mereka berkeliling melakukan penyemprotan disinfektan. Mendatangi rumah sekitar 150 kepala keluarga satu per satu.

“Covid-19 menjadi isu bersama yang harus dihadapi dan ditanggulangi secara bergotong royong. Untuk itu, kami melakukan penyemprotan. Harapannya, wilayah kami tetap terbebas dari pandemi Covid-19. Selaku generasi penerus bangsa, aksi ini tentu menjadi bentuk riil kepedulian kami kepada lingkungan,” ungkap Anggota Remaja Karang Taruna/Iresti Achmad Al Hafiz, Minggu (5/4).

Untuk membunuh virus Corona, ada beberapa cairan antiseptik yang lazim digunakan. Klasifikasinya adalah polyvidone iodine, chlorhexidine, dan alkohol. Mengacu rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), cairan etanol dan klorin bisa digunakan sebagai antiseptik penyemprotan. Hanya saja, cairan itu tidak direkomendasikan untuk tubuh atau bilik sterilisasi.

Menjadi antiseptik bagi fasilitas umum dan perumahan, cairan ini memiliki sifat karsinogenik. Sifat lain bisa memicu mutasi bakteri. “Kami menggunakan cairan disinfektan yang direkomendasikan institusi resmi. Tujuannya agar aman bagi semua, tapi tetap efektif membunuh virus Corona. Cairan disinfektan ini juga menjadi hasil dari gotong royong,” jelas Hafiz lagi.

Cairan disinfektan menjadi logistik vital aktivitas penyemprotan Covid-19. Selain industri besar, cairan ini bisa diproduksi rumahan. Bahan baku utamanya adalah pemutih atau sodium hipoklorit. Larutan ini mengandung 5% sodium hipoklorit. Siapkan juga air dan beberapa peralatan, seperti botol, gelas ukur, sarung tangan karet, dan masker N95. Caranya, campur pemutih dengan air dalam botol lalu diaduk.

“Konsep gotong royong warga sangatlah kuat. Untuk peralatan penyemprotan dan cairannya diperoleh dari donatur. Penyemprotan disinfektan jadi agenda rutin. Sebelumnya sudah 2 kali disemprot. Yang jelas, kami sangat gembira dengan bergabungnya para milenial ini sebagai aktivis Dasa Wisma,” ujar Yana selaku Ketua RT.10/RW.03, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Serupa RT.10/RW.03, Pondok Labu, Cilandak, kepedulian para milenial juga tampak di RT.014/RW.02 Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Dilakukan secara swadaya, kaum remaja juga aktif sebagai aktivis Dasa Wisma. Tugas mereka bahkan cukup beragam untuk memastikan 38 rumah warganya negatif Covid-19. Ketua RT.014/RW.02 Bendungan Hilir, Rani Eddy, mengatakan, aktifnya para milenial jadi keuntungan.

“Kepedulian para anak muda ini sangat menginspirasi. Meski tugas rutinnya banyak, mereka tetap jadi aktivis Dasa Wisma. Mereka terlibat hampir di semua action program 10 Rumah Aman. Selain kegiatan penyemprotan, mereka juga aktif mendata suhu tubuh warga dan sosialisasi amal. Bergabungnya para anak muda ini membuat tugas kami semakin ringan,” kata Rani.

Bergabungnya kaum milenial sebagai aktivis Dasa Wisma diapresiasi Kepala Staf Presiden Moeldoko. Panglima TNI periode 2013-2015 menjelaskan, semua elemen bangsa harus terlibat aktif dalam memerangi Covid-19. Dengan begitu, kehidupan berbangsa dan bernegara akan kembali normal. Setiap masyarakat bisa kembali mengambil perannya untuk menghasilkan karya produktif bagi Indonesia.

“Kami berikan penghargaan yang tinggi bagi para aktivis Dasa Wisma program 10 Rumah Aman. Mereka selalu mengambil peran saat bangsa dan negara membutuhkannya. Pandemi Covid-19 ini harus segera diatasi secara bergotong royong. Dengan begitu, semuanya akan normal kembali. Bergabungnya milenial tentu menjadi angin segar karena ada nilai edukasi yang besar di situ,” tutup Moeldoko.(****)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *