Kegiatan RJIT Kementan Bantu Petani Magetan Tanam Tiga Kali Setahun

12 0

MAGETAN – Kegiatan padat karya Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) yang dilakukan Kementerian Pertanian di Desa Banjarejo, Kecamatan, Ngariboyo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mampu membuat petani tanam tiga kali dalam setahun. Sebelumnya, petani hanya bisa satu kali tanam dalam satu tahun.

Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Tunas Mekar merasakan manfaat dari RJIT. Luas Layanan Irigasi sebelum dilakukan Rehab saluran seluas 35 hektare (Ha). Luas Layanan Irigasi setelah dilakukan rehab saluran seluas 50 Ha.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, tujuan dari kegiatan padat karya RJIT dapat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat dan menyediakan air bagi sektor pertanian.

“Rehabilitasi Jaringan Irigasi Teriter dapat membantu meningkatkan intensitas pertanaman dan atau luas areal tanam, meningkatkan produktivitas pertanian, pendapatan dan kesejahteraan petani,” jelas Mentan SYL, Sabtu (21/11).

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy menjelaskan, kunci utama dari RJIT adalah memaksimalkan fungsi irigasi.

“RJIT adalah bagian dari water management yang tujuannya bukan hanya memperbaiki atau merehabilitasi. Tetapi juga memaksimalkan dan meningkatkan fungsi irigasi,” katanya.

Dengan demikian, sambung Sarwo Edhy, lahan pertanian yang tidak terjangkau air masih bisa mendapatkan air dari irigasi.

Output dari kegiatan ini adalah memastikan air di saluran irigasi dapat dimanfaatkan oleh petani, baik sebagai suplesi atau conjunctive use di daerah irigasi maupun sebagai irigasi utama di non daerah irigasi.

“Program ini diharapkan dapat menambah luas areal tanam baru dan meningkatkan produksi atau produktivitas,” pungkasnya.

Ketua Poktan Tunas Mekar, Achmad Ansori mengatakan, kondisi saluran sebelum diperbaiki berupa saluran tanah, sehingga distribusi air ke lahan sawah kurang lancar akibat sering kehilangan air akibat saluran air yang bocor / rusak.

“Kondisi Saluran saat ini menjadi saluran permanen menggunakan konstruksi pasangan batu dengan 2 sisi saluran,” jelasnya.

Sementara, lanjutnya, produktivitas sebelumnya hanya 6,1 ton/ha, namun setelah saluran direhabilitasi, mengalami kenaikan menjadi 6,3 ton/ha.

“Pada lokasi ini intensitas pertanaman (IP) 300 atau 3 kali tanam dalam 1 tahun. Dampak lain dari rehabilitasi saluran ini adalah dapat dilakukannya percepatan tanam,” pungkasnya.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *