Kemenparekraf/Baparekraf Kupas Peran Vital Desain dan Story Telling bagi Strategi Pemasaran Produk Ekonomi Kreatif

25 0

JAKARTA – Jika kita melihat sebuah produk kreatif begitu diminati oleh masyarakat, maka hal itu sesungguhnya tak serta merta tercipta begitu saja. Ada proses yang melatarbelakanginya sehingga sebuah produk bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Berapa hal yang berperan penting adalah desain dan story telling produk itu sendiri.

Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, Wawan Rusiawan menjelaskan, para pelaku usaha ekonomi kreatif di Indonesia sesungguhnya memiliki banyak produk yang mumpuni untuk dipasarkan secara nasional dan internasional. “Problemnya adalah narasi. Tanpa narasi, sebuah produk tak bisa berkembang pesat. Bisa jadi produknya keren, tetapi produsen tidak bisa menarasikan,” kata Wawan saat memberi sambutan pada acara Bincang Inklusif Seputar MetadatA (BISMA) melalui aplikasi Zoom bertema “Scaling and Innovating Strategy Through Design and Story Telling”, Kamis 27 Agustus 2020.

Desain dan story telling, Wawan melanjutkan, memiliki peranan yang cukup penting dalam pemasaran sebuah produk. Keduanya mampu membentuk image sebuah produk, sehingga menentukan sikap masyarakat untuk mencintai produk tersebut atau sebaliknya. “Produk sederhana jika bisa dinarasikan dengn baik, maka akan menjadi produk ang luar biasa,” ujarnya.

Atas dasar hal itu, desain dan story telling memerlukan pengkajian data yang cukup lengkap. Wawan menilai pentingnya kelengkapan data dalam hal apapun, termasuk sebuah produk, akan menggerakkan seseorang untuk bertindak.

“Ketika kita bicara data, kita berharap data itu harus lengkap supaya bisa berbicara atau bahkan juga bisa berkata-kata. Ketika kita bicara data, maka dia harus menarik. Dengan data kita berkomunikasi dengan langsung melalui produk. Kita harus merawat data itu,” ujarnya.

Oleh sebab itu, merawat data amat penting bagi pelaku ekonomi kreatif, khususnya dalam konteks pariwisata dan ekonomi kreatif. Saat ini, ia mengimbuhkan, sektor ekonomi kreatif relatif lebih bisa bertahan ketimbang pariwisata di tengah pandemi Covid-19.

“Kita punya harapan di sektor ekonomi kreatif. Sebagai contoh pada situasi ini animasi dan dan game tumbuh subur. Kita siapkan strategi pemulihan di sektor pariwisata. Kita berharap situasi ini segera pulih dan sektor ekonomi kreatif terus memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” harap dia.

Owner Filosofi Kopi, Handoko Hendroyono menuturkan, di era saat ini, konsumen tak hanya sekadar sebagai penikmat belaka. Mereka juga memiliki tanggung jawab terhadap sebuah produk. Itu sebabnya dalam membuat narasi diperlukan aspek keberlanjutan terhadap sebuah produk. “Konsumen sekarang juga memperhatikan narasi yang disampaikan. Positif energi dan narasi positif itu yang juga menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih produk,” terangnya. Belakangan ini, ia menuturkan, tren produk juga kembali kepada eksplorasi local genius. “Trennya juga kembali ke lingkungan sekitar. Misalnya saja restoran. Banyak di antara mereka yang mengkurasi makanan lokal. Ini fenomena kebangkitan lokal genius,” ujarnya.

Handoko menyontohkan brand Nah Project yang memproduksi sepatu. Produsen asal Bandung, Jawa Barat tersebut telah digunakan oleh Presiden Joko Widodo. “Nah Project membawa narasi fair trade. Dia jelaskan bahannya dari mana, lalu proses risetnya dilakukan sendiri. Dia menjadi sepatu yang bertanggungjawab,” katanya.

“Untuk teman-teman saya harus yakinkan bahwa sekarang adalah eranya brand lokal. Teman-teman harus terlibat membuat produk sendiri. Kalau ini diciptakan, brand global juga akan kalah bersaing,” ujarnya.

Contoh lainnya adalah Farm Culture yang sempat dikunjungi mantan Presiden Amerika Serikat Barrack Obama. “Ini contoh lokalitas yang diapresiasi secara internasional,. Kenapa dia dikenal, karena narasinya yang sangat baik. Dia buat konten di Youtube. Saya kira kita semua bisa melakukan hal itu, membuat narasi yang baik tentang produk kita. Narasi itu harus keren dan meyakinkan dunia,” ulas dia.

Desainer ternama Indonesia, Sugeng Untung menambahkan, selain narasi, hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam memasarkan produk adalah desain. “Mengapa perlu strategi dalam proses promosi? Di era global ini memaksa produsen produk mencari tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen. Tetapi, konsumen itu sendiri sesungguhnya belum memikirkan produk tersebut,” ujarnya. Dalam konteks itu, sebuah produk harus adaptif terhadap perkembangan dan perubahan zaman.

Sebab, kata dia, zaman dan pola pikir konsumen mempengaruhi eksistensi sebuah produk. “Keinginan konsumen akan sebuah produk itu berkembang seiring dengan perubahan zaman,” papar dia. Sebagai contoh kipas angin. Dahulu, kipas angin memiliki model dan desain yang standar saja. Tetapi seiring perkembangan dan kebutuhan konsumen, maka desain kipas angin pun berubah dengan berbagai macam jenis.

“Semua berorientasi pada kepuasan konsumen yang meliputi desain dan story telling. Desain dan story telling memiliki value yang besar bagi sebuah produk,” tutur dia. Semua produk, kata Sugeng, pasti mempunyai desain dan story telling. “Tidak ada satupun produk di dunia ini yang tak didesain. Desain adalah proses pemecahan masalah. Desain adalah solusi dan inovasi serta interaksi dan berujung pada kepuasan konsumen. Produk yang baik pasti akan laku. Kalau tidak laku pasti ada kekeliruan pada desain,” demikian Sugeng.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *