Kementan Siap Gelar Pelatihan Bagi Petani dan Penyuluh untuk Tingkatkan Produktivitas Pertanian

456 0

Jakarta – Untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, pemerintah telah melakukan berbagai kegiatan peningkatan profesionalisme, baik melalui pendidikan maupun pelatihan vokasi. Khususnya pada kondisi pandemi Covid-19 saat ini, Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya melakukan terobosan dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) bahwa mendukung peningkatan kompetensi SDM bidang pertanian yang profesional dapat dilakukan melalui pendidikan, pelatihan vokasi maupun sertifikasi profesi, salah satunya untuk penyuluh. Pasalnya, penyuluh menjadi garda terdepan dalam peningkatan produksi dan produktivitas komoditas yang berdaya saing guna mewujudkan pencapaian swasembada pangan dan penerapan teknologi pertanian yang modern.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa ada 3 faktor yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian, di antaranya penerapan inovasi teknologi dan sarana prasarana pertanian, peraturan perundang-undangan dan peran SDM Pertanian.

“Dari 3 faktor tersebut ternyata peran SDM pertanian sangatlah besar yaitu sekitar 50 persen dalam memberikan kontribusi terhadap produktivitas pertanian, khususnya para praktisi pertanian dan petani milenial,” ujar Dedi Nursyamsi saat memberikan keterangan pers secara virtual, Rabu (4/8/2021).

Lebih lanjut Dedi mengungkapkan bahwa peranan SDM pertanian yang dibutuhkan dalam meningkatkan produktivitas pertanian adalah SDM yang mampu mengimplementasikan Teknologi Informasi (TI) di era Revolusi Industri 4.0 saat ini. Untuk itu, Kementan menggelar pelatihan bagi petani dan penyuluh pertanian serta pengukuhan 2.000 Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Kegiatan tersebut direncanakan akan dibuka oleh Presiden RI dan dihadiri Menteri Pertanian dan Menteri Bidang Perekonomian pada 6 Agustus 2021 di Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian Ciawi, Jawa Barat.

“Saat ini yang menggerakkan roda pembangunan pertanian adalah para praktisi pertanian dan petani milenial. Untuk itu, pelatihan inovasi teknologi sangat penting dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap di era Revolusi Industri 4.0 saat ini,” ungkapnya.

Dalam menggerakkan sektor pertanian, menurut Dedi para petani tentunya membutuhkan biaya dan modal. Oleh karena itu, pemerintah saat ini telah memfasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dapat dimanfaatkan oleh petani dan insan pertanian lainnya untuk meningkatkan usaha taninya. Ini sejalan dengan tema yang dilakukan oleh Kementan pada pelatihan tersebut.

“Hal ini sejalan dengan tema yang diusung oleh Kementan pada pelatihan tersebut yaitu pendampingan KUR bagi para petani. Saat ini telah terdaftar lebih dari 1.5 juta peserta pelatihan melalui aplikasi registrasi online. Selanjutnya, pelatihan akan dilaksanakan bertahap secara online bagi 1.000 orang peserta hingga mencapai lebih dari sejuta petani dan penyuluh,” ujar Dedi.

Nantinya, pelatihan juga akan diikuti oleh petani dan penyuluh, baik secara Individu maupun berkelompok di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), kantor kecamatan, balai desa, Pos Penyuluhan Desa (Posluhdes) dan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) atau Saung Tani.

Selain mengadakan pelatihan bagi petani, menurut Dedi pengukuhan Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) merupakan salah satu program yang diusung Kementan untuk melahirkan pengusaha petani milenial.

“Pelatihan juga akan dilakukan bagi 2.000 orang DPM dan DPA serta mendorong mereka untuk mendapatkan KUR dan pendampingan menjadi wirausahawan pertanian,” ujarnya.

Kiprah Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan diyakini dapat menjadi pengungkit regenerasi petani yang adaptif teknologi serta mewujudkan target 2.5 juta pengusaha pertanian mendukung ketahanan pangan nasional.

“Setelah mendapatkan pelatihan tentunya mereka akan siap tempur di sektor pertanian. Dan, saya berharap mereka dapat memberikan motivasi kepada generasi milenial untuk terjun berusaha di bidang pertanian dan berkontribusi nyata dalam pembangunan pertanian, seperti membangun start-up atau scale-up agar menjadi pengusaha pertanian yang tangguh,” terang Dedi.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *