Kementan Ungkap Sejumlah Tantangan untuk Petani Milenial di Webinar UNHAS

32 0

JAKARTA – Regenerasi menjadi hal yang tidak bisa lagi ditunda. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian terus mendorong lahirnya banyak petani milenial.

Hal ini disampaikan dalam Webinar Nasional dalam rangka Dies Natalis Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar, Kamis (12/8/2021) pagi. Tema yang diangkat adalah Pertanian dan Petani Milenial Menuju Era Society 5.0.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan regenerasi petani adalah sebuah keniscayaan.

“Masa depan pertanian Indonesia ada di anak-anak muda, para generasi milenial. Mereka yang nantinya akan memberikan perubahan serta mengangkat pertanian kita ke arah yang lebih baik lagi. Untuk itu, Kementan akan terus mengupayakan lahirnya banyak petani milenial,” tuturnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan yang menjadi keynote speaker webinar, mewakili Mentan SYL, menyampaikan sejumlah data yang menyebabkan regenerasi harus dilakukan.

“Secara usia, saat ini pertanian Indonesia banyak diisi petani dengan rentang usia 45 hingga 54 tahun. Ini  petani-petani yang akan segera memasuki masa kolonial. Tidak sedikit juga petani yang berusia 55-64 tahun, bahkan 65 tahun ke atas,” katanya.

Menurut Dedi, jika tidak dipersiapkan regenerasi sejak awal, maka Indonesia akan kekurangan petani.

Berdasarkan pendidikan, petani Indonesia sebagian besar hanya mengenyam pendidikan di tingkat SD.

“Oleh karena itu, kita genjot lahirnya petani milenial melalui sejumlah program, seperti pendidikan vokasi, pelatihan vokasi, PWMP, program YESS, Kostratani, juga Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA),” tuturnya.

Dedi Nursyamsi juga menyampaikan mengenai tantangan yang akan dihadapi para petani milenial.

“Tantangannya antara lain jumlah rumah tangga petani dalam 10 tahun terakhir berkurang sebanyak 5 juta, 61% petani kita saat ini berusia di atas 45 tahun atau sudah mulai memasuki usia yang tidak produktif, kemudian banyak anak muda masih menilai pertanian itu kumuh, miskin, tidak keren. Menurunnya jumlah petani bisa mengancam upaya Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan pangan,” katanya.

Oleh karena itu, Kementan juga mendorong potensi yang dimiliki milenial. Sebab milenial dibutuhkan untuk meneruskan pembangunan pertanian.

“Selain itu, kemajuan teknologi 4.0 membutuhkan SDM yang bisa bersaing. Dan 4.0 adalah eranya generasi milenial. Petani milenial juga diharapkan mampu berinovatif, menghadirkan pemikiran kreatif untuk mendukung pertanian, serta mampu memanfaatkan ketersediaan lahan,” paparnya.

Untuk mendukung hal tersebut, Kementan menghadirkan sejumlah kegiatan, seperti Bimtek Petani Milenial di Jombang, Milenial Smart Farming di Kabupaten Bandung, juga Fasilitasi Kemitraan Petani Milenial – Kerjasama dengan PT Tsamarot, dan masih banyak lagi.

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *