Kesejahteraan Petani Meningkat Seiring Implentasi READSI

33 0

JAKARTA – Program Rural Empowerment Agriculture Development Scaling up Innitiative (READSI) yang diluncurkan Kementerian Pertanian (Kementan), terus dioptimalkan dalam mendukung pertumbuhan produksi pangan pertanian daerah.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, tujuan program READSI adalah meningkatkan kesejahteraan petani dan meningkatkan taraf hidup secara berkelanjutan.

“Dan sebagai penyuluh pertanian 4.0 yang siap akan era 5.0 kita harus menghentikan kebiasaan protes sana-sini, dan mari kita lebih menunjukkan aksi perubahan kita ke lingkungan petani,” katanya.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, tantangan yang dihadapi pertanian saat ini adalah mencukupi pangan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dibawah komando Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Kementan berupaya menciptakan SDM pertanian yang Maju, Mandiri, dan Modern, diantaranya melalui pelatihan-pelatihan petani.

Pelatihan-pelatihan tersebut menjadi salah satu kegiatan Program READSI yang  diharapkan akan menciptakan petani-petani mandiri guna mendukung target petani milenial.

Dijelaskan Mentan SYL, sasaran program READSI adalah petani, termasuk Petani miskin yang aktif dan memiliki sumberdaya (lahan) yang berpotensi untuk meningkatkan taraf hidupnya.

“Kita harus memastikan ketersediaan pangan di seluruh tanah air, baik ketersediaan barang pangan maupun ketersediaan akses untuk mendapatkannya. Untuk itu, beliau mengajak seluruh penyuluh dan petani untuk untuk tetap sehat di situasi Pandemi Covid-19. Dengan sehat kita bisa menjalankan tugas sebaik-baiknya,” ujar Mentan.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

“Faktor pengungkit utama dari peningkatan produktivitas pertanian adalah SDM, baik petani, petani milenial, penyuluh, poktan, maupun gapoktan,” ujarnya.

Oleh sebab itu, sambung Dedi, jika ingin meningkatkan produktivitas maka kualitas SDM harus ditingkatkan terlebih dahulu.

Menurutnya, ‘Pelatihan Training of Traniner (TOT) Literasi Keuangan bagi Penyuluh dan Fasilitator Desa’, merupakan proses pembelajaran non formal penyuluh dan fasilitator desa.

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengenali potensi, menyusun rencana usaha identifikasi dan mengatasi permasalahan,” katanya.

Dalam rangka menindaklanjuti aide memorie hasil supervise IFAD terkait farmer business schools serta tindak lanjut pelatihan Master of Trainer bagi Widyaiswara, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku diamanahkan untuk menyelenggarakan Pelatihan 3 angkatan ‘Pelatihan Training of Traniner (TOT) Literasi Keuangan bagi Penyuluh dan Fasilitator Desa’, 21 – 25 Juli 2021.

Pada pertemuan persiapan koordinasi kegiatan READSI di BBPP Batangkaluku, pelatihan ini direncanakan akan diikuti sebanyak 36 orang peserta perkabupaten dan dilanjutkan dengan pendampingan kelompok tani di 54 desa lokasi Program READSI di Sulawesi Selatan.

Fitriani, Koordinator Sub Program dan  Evaluasi BBPP Batangkaluku mengatakan semua yang hadir di pertemuan Persiapan  Kegiatan Program READSI sangat penting dalam memahami apa kegiatan READSI, baik manfaat, harapan serta target-targetnya agar tercapainya keberhasilan Program READSI sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Beliau juga berharap hasil dari pelatihan ini nantinya penyuluh dan fasilitator desa lebih berbenah diri dengan pemanfaatan teknologi, menggunakan teknologi dengan lebih positif, produktif dan sebagaimana mestinya. Saling berbagi pengetahuan baru.

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *