Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019 Tawarkan Negeri Dongeng Fatumnasi

412 0

KEFAMENANU – Negeri dongeng riil ditawarkan Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019. Warna warni eksotis tersebut tertulis di Fatumnasi, Mollo Utara, Timor Tengah Selatan. Yaitu, situs raksasa alam dan budaya dengan cagar Gunung Mutis sebagai porosnya. Destinasi ini pun menjadi rujukan utama para wisman.

Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019 digelar 9-10 Agustus. Lokasinya ada di Lapangan Oenamu, Kefamenanu, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT). Konser ini menampilkan Tipe-X Band, Vicky Salamor, dan Maria Vitoria asal Timor Leste (Tiles). Menegaskan warna eksotisnya, event tersebut menawarkan keindahan destinasi Fatumnasi lengkap beserta Cagar Alam Gunung Mutis.

“Fatumnasi dan Gunung Mutis adalah paket wisata terbaik. Wisatawan yang berkunjung ke sana bisa menikmati eksotisnya alam dan budaya sekaligus. Nuansanya alami dengan udara sejuk menyegarkan. Kami rekomendasikan destinasi bila berada di Konser Musik Crossborder,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani, Kamis (8/8).

Selalu memikat, Gunung Mutis masuk nominator Anugerah Pesona Indonesia 2018. Kategorinya adalah Dataran Tinggi Terpopuler di Indonesia. Secara fisik, Gunung Mutis ini memiliki ketinggian 2.458 mdpl. Keunikannya adalah hutam bonsai yang didominasi pohon Kayu Putih (Eucalyptus Alba). Ada juga pohon Cendana (Santalum Album). Areanya juga dilingkupi savana luas. Fauna yang familiar Kuskus.

“Gunung Mutis terkenal sebagai spot pendakian. Alamnya indah. Pokoknya sangat instagramable. Area ini sangat terkenal dengan sunrise-nya. Biasanya wisatawan datang ke sini untuk menikmatinya sunrise. Yang jelas, experience wisatawan makin lengkap dengan ragam warna budaya masyarakat Fatumnasi,” terang Rizki lagi.

Berada di Fatumnasi, wisatawan akan mendapatkan beragam konten budaya. Masyarakat menghasilkan beragam kain tenun dan rajutan. Untuk tenun, motifnya terdiri dari Lulsyal, Makpauf, Maknaisak, juga Futus. Warna yang ditampilkan cerah. Dominasinya Merah, Putih, Hijau, Kuning, dan Hitam. Merah dan Putih sebagai simbol bendera Indonesia. Hijau menjadi penanda warna alam.

Adapun tenun dengan warna Kuning menjadi simbol keluarga besar masyarakat Mollo. Lalu, Hitam jadi penanda beragam fauna yang hidup di area Cagar Alam Gunung Mutis. Selain kain, ada juga souvenir berupa kalung dan gelang. Asesoris ini terbuat dari kayu dan batu kelikir seribu. Ada juga tempat sirih dan piranti adat lainnya.

“Kami masih menjaga kealamian alam dan buday. Kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. Ada banyak aktivitas yang bisa dinikmati wisatawan selama berada di Fatumnasi. Mereka bisa menikmati Cagar Alam Gunung Mutis, lalu di sini ada banyak sekali budaya yang bisa dinikmati. Wisatawan bisa ikut beraktivitas bersama masyarakat,” kata Tokoh Kunci Desa Futumnasi Mateos Anin.

Memberikan experience menarik, wisatawan akan disuguhi musik tradisional Gong, Ukulele, dan Biola. Mengiringi musik, tariannya tidak kalah eksotis. Sebut saja, Tari Giring Giring dan Bonet. Ada juga khas budaya Natoni. Lebih lanjut, wisatawan juga bisa mengaksplorasi keunikan rumah adatnya. Rumah itu sudah didiami oleh 9 generasi dari marga Anin dan Fuka. Setiap 20 tahun sekali dilakukan renovasi.

Rumah adat tersebut menjadi ‘museum’ beragam pusaka. Pusaka yang tertua berasal dari abad 16. Tapi, ada beberapa zona dalam rumah adat yang dikeramatkan. Ada tangga yang hanya boleh dilalui ibu-ibu, lalu tongkat dengan pedang di dalamnya. Spot lainnya berupa kursi yang hanya boleh diduduki oleh para tetua adat.

“Fatumnasi dan Gunung Mutis merupakan paket wisata terbaik. Mereka juga mengembangkan kuliner otentik khas masyarakat Mollo. Bahan bakunya mulai dari jagung, ubi ungu, pisang, dan keladi. Sebagai destinasi, wilayah ini punya fasilitas lengkap. Ayo silahkan datang ke Futumnasi,” papar Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani.

Mendukung aktivitas pariwisata, Fatumnasi memiliki Homestay Lopo Mutis. Konsepnya rumah yang sangat tradisional. Sedikitnya ada 10 Umay Bubu (rumah tradisional) yang disewakan sebagai homestay. Setiap Umay Bubu terdiri dari 3 tempat tidur. Menariknya lagi, Lopo Mutis memiliki Umay Bubu dengan fungsi berbeda. Dikhususkan untuk tempat makan, balai pertemuan, dapur, hingga sekretariat.

Dengan beragam pesona dan keunikannya, Fatumnasi menjadi rujukan utama wisman. Mereka saat ini menerima kunjungan 8 wisman Italia, Kamis (8/8). Selain Italia, Fatumnasi jadi langganan wisatawan dari Belanda, Inggris Raya, Berlgia, Austria, Jerman, Swiss, Prancis dan Latvia. Ada juga wisatawan asal Amerika Serikat, Australia, Jepang, Tiongkok, hingga Vietnam.

“Fatumnasi dan Gunung Mutis sangat menginspirasi. Dengan keindahannya, wajar bila wisatawan dari berbagai negara selalu berkunjung ke sana. Fasilitas homestay yan ditawarkan menarik. Artinya, wisman lebih dekat dengan masyarakat lokal. Mereka bahkan bisa mengikuti beragam aktivitasnya,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang juga Menpar Terbaik ASEAN tersebut.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *