Kualitas Petani – Penyuluh Ditingkatkan, WaliKota Mataram Optimis Kemiskinan Turun

20 0

MATARAM – Peningkatan kualitas SDM yang dilakukan Kementerian Pertanian dengan memaksimalkan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) disambut positif di Mataram. Peningkatan SDM diyakini bisa membantu menurunkan kemiskinan.

Walikota Mataram, Ahyar Abduh meyakini hal tersebut tersebut.

Menurutnya tingkat kemiskinan akan turun drastis jika kesejahteraan petani terus ditingkatkan. Hal itu disampaikan Ahyar saat Launching Model BPP Kostratani Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Menurut Ahyar, 49 persen penduduk NTB bergantung pada sektor pertanian. Di sisi lain, angka kemiskinan begitu tinggi.

“Jika kita ingin menurunkan angka kemiskinan, kita harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada petani kita. Peningkatan kesejahteraan petani dan penyuluh kita melalui berbaikan infrastruktur dan SDM tentu akan berkontribusi mengentaskan angka kemiskinan. Saya jamin angka kemiskinan turun kalau petani sejahtera,” kata Ahyar pada acara yang mengambil tema ‘Optimalisasi Tugas, Fungsi dan Peran BPP Sebagai Pusat Gerakan Pembangunan Pertanian di Kecamatan Menuju Kedaulatan Pangan Nasional’ Kamis (22/10/2020).

Sebagai ibu kota provinsi, Kota Mataram harus berkejaran dengan pesatnya pembangunan. Tak mau lahan pertanian tergusur, Ahyar mengaku menerbitkan peraturan dalam revisi tata ruang Mataram mengenai lahan pertanian abadi seluas 1.500 hektar.

“Tujuannya agar lahan pertanian kita tidak habis tergerus pembangunan. Lahan pertanian pangan berkelanjutan itu tidak bisa diotak-atik. Saya bangga dengan petani kita meski lahannya sempit, tingkat kualitas dan kuantitas pertanian kita begitu tinggi,” paparnya.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mengapresiasi komitmen Wali Kota Mataram atas lahan pertanian abadi yang telah ditetapkan di wilayah yang dipimpinnya. Dedi menyebut ada tiga faktor yang melesatkan peningkatan produktivitas pertanian. Pertama sudah barang tentu sarana prasarana dan inovasi teknologi.

“Sarana prasarana dan inovasi teknologi menopang kurang lebih 25 persen produktivitas pertanian,” ungkapnya.

Kedua adalah komitmen pemerintah daerah melalui peraturan-peraturan pertanian. “Dia juga berkontribusi sekitar 25 persen terhadap peningkatan produktivitas pertanian,” katanya.

Namun, kata Dedi, ada faktor yang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Hal itu tak lain adalah SDM pertanian.

“Siapakah SDM pertanian, tidak lain tidak bukan adalah petani dan penyuluh. Maka, kostratani ini adalah upaya kami untuk meningkatkan SDM petani dan penyuluh yang berorientasi pada tujuan pembangunan pertanian yakni peningkatan produktivitas dalam rangka ketahanan pangan nasional,” papar Dedi.

Dedi memaparkan peran strategis Konstratani dalam pembangunan pertanian Indonesia. Menurut dia, pertanian identik dengan sawah, kebun dan ladang yang berada di desa-desa. “Maka, kecamatan jadi sentra gerakan pembangunan pertanian,” kata Dedi dalam paparan dan arahannya.

Penguatan pembangunan itu akan menyentuh dua hal yakni fisik dan non-fisik. Pembangunan fisik BPP Kostratani menyentuh pada sarana dan prasarana, termasuk penguatan sistem IT seperti komputer, modem dan jaringan internet.

“Di saat yang sama juga kita akan genjot pemberdayaan penyuluhnya. Kapasitasnya kita tingkatkan melalui berbagai macam pelatihan tematik pertanian,” papar dia.

Sementara pemberdayaan petani juga akan dilakukan melalui berbagai macam pemberian ilmu pengetahuan holistik di sektor pertanian.

“Kemudian juga kapasitas petaninya. Kita akan beri pelatihan bagaimana cara bercocok tanam yang baik, bagaimana cara mengakses modal, bagaimana cara mengolah hasil panen sehingga harganya bagus. Itu yang akan kami genjot. Kami akan mempercepat proses pembangunan SDM pertanian melalui Kostrstani,” tegasnya.

Dedi memaparkan tujuan dari penguatan SDM ini adalah terjadinya peningkatan produktivitas hasil pertanian. “Tujuan kami memberdayakan penyuluh dan petani agar produktivitas meningkat. Kalau produktivitas tinggi, sudah pasti penyuluhnya aktif. Begitu juga sebaliknya. Maka semua BPP akan kita perkuat, termasuk di Lombok Utara ini. Ada 5.733 BPP yang bisa saling berdiskusi dan curhat dan berkoordinasi,” kata Dedi.

“Kostratani ini berada di kecamatan. Komandannya adalah camat, pelaksana hariannya adalah BPP di-support penuh oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Jadi Kostratani melibatkan seluruh komponen bangsa yang ada di tingkat kecamatan. Kostratani ini pusat gerakan pembangunan pertanian indonesia,” tambah Dedi.

Di sisi lain, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menginginkan program Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) diharapkan akan lebih cepat menggerakkan pembangunan pertanian pedesaan menuju pertanian maju, mandiri dan modern.

“Peran itu nantinya digerakkan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) sebagai pusat pelaksanaan Kostratani dengan mengefektifkan penyuluhan dan meningkatkan keahlian para penyuluh pertanian,” ujarnya.

Selain itu, Mentan SYL menilai Kostratani di desain agar bisa mengidentifikasi potensi komoditas unggulan lokal yang bisa mengungkit pendapatan dan kesejahteraan petani. Dengan peningkatan SDM dan teknologi, Mentan SYL optimistis pertanian Indonesia akan bertransformasi menjadi pertanian unggul.

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *