Lewat Bimtek, Kemenpar Bahas Pengembangan Wisata Religi di Tanara

153 0

SERANG – Tanara merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Serang. Di sinilah sebuah mimpi besar ditanamkan. Sebuah mimpi yang butuh kerja keras untuk mewujudkannya. Tapi dengan potensi yang ada, bukan tidak mungkin Tanara bakal mewujudkan mimpi besar itu sebagai kawasan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Lantas potensi menarik apa yang membuat Tanara bisa mewujudkan mimpi itu?

Tanara menjadi menarik karena di sinilah lahir seorang ulama besar, ulama dunia Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar yang tercatat dalam sejarah dunia Islam. Di tanah Arab, ulama yang sempat menjadi imam Masjidil Haram ini lebih dikenal dengan nama Syaikh Nawawi Albantani, artinya asal Banten. Di Tanara terdapat masjid bersejarah yang berusia ratusan tahun peninggalan beliau.

Menurut Asdep Pengembangan Wisata Budaya Dra Oneng Setya Harini, dengan catatan sejarah itu Tanara memiliki daya tarik sebagai wisata religi. Inilah yang bakal dikembangkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Lewat Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Wisata Sejarah dan Warisan Budaya, yang diadakan Kemenpar di Ponpes An Nawawi, Tanara, Banten, Rabu (28/8), potensi Tanara digali dengan strategi dan dievaluasi untuk menjadi destinasi wisata sejarah dan religi.

“Bila Tanara menjadi destinasi wisata dan banyak dikunjungi wisatawan, secara ekonomi akan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Roda perekonomian pun akan berputar,” kata Oneng saat membuka Bimtek, Rabu (28/8).

Lebih jauh Oneng mengatakan destinasi wisata itu harus bersih, nyaman, dan aman. Untuk Tanara sendiri Oneng menyoroti dari sisi kebersihan. “Kita harus akui memang kebersihan masih kurang, karena itu kita harus bekerjasama menyadarkan masyarakat akan pola hidup bersih. Ini penting karena orang berkunjung kalau melihat tempatnya kotor tentu tidak akan datang lagi. Ini lah kerja kita bersama, tanggung jawab kita bersama,” kata Oneng.

Selain menyoroti kebersihan, Oneng juga meminta peran masyarakat untuk aktif dalam gerakan sadar wisata. Penting hadirnya kelompok sadar wisata (Pokdarwis) untuk mensosialisasikan kepada masyarakat akan konsep wisata religi di Tanara yang akan diangkat. Termasuk juga kesadaran menjaga lingkungan yang bersih dan nyaman. “Masyarakat perlu disosialisasikan konsep wisata religi agar mereka juga ikut terlibat di dalamnya. Karena kalau pariwisatanya terangkat, ekonomi masyarakat juga terangkat,” ujar Oneng.

Dalam mengangkat ekonomi masyarakat, Oneng juga menyampaikan pentingnya memberdayakan masyarakat. Potensi yang dimiliki masyarakat entah itu dari sisi kuliner, kerajinan dan sebagainya yang bisa mendukung pariwisata. “Kita berdayakan masyarakat agar kehidupan mereka juga terangkat,” ujarnya.

Pada Bimtek ini, Kemenpar mengajak perwakilan semua elemen masyarakat Tanara, seperti Kadisporapar Serang, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Serang, Kadis Lingkungan Hidup dan Kehutanan Prov Banten,Kadis Lingkungan Hidup Serang, Kadis Agama Serang, Kabid Destinasi Dinas Pariwisata Serang, dinas kebersihan Serang dan banyak lagi. Tak kurang 40 peserta dari perwakilan masyarakat Tanara, termasuk Camat dan santri Ponpes An Nawawi yang diajak urung rembuk ini.

Kadisporapar Kab Serang, Hamdani mengatakan berkaitan dengan pengembangan wisata religi tak bisa lepas dari peran masyarakatnya. “Dalam rangka mewujudkan wisata religi di Tanara pihaknya sudah mengadakan pelatihan 40 orang yang nanti akan menjadi pokdarwis yang bisa menjembatani ke masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran pariwisata. Mereka nanti turun langsung berinteraksi dengan masyarakat,” kata Hamdani.

Di sisi lain, Camat Tanara, Eri Suhaeri mengakui kesadaran masyarakatnya akan kebersihan memang kurang. Dengan adanya gagasan pengelolaan wisata religi diharapkan kesadaran masyarakat akan tumbuh dan mau aktif dalam gerakan sadar wisata. “Kami berterima kasih kepada pemerintah pusat yang mau mengembangkan potensi yang ada di Tanara. Dengan kerjasama semua pihak, termasuk juga kemenpar dan kemen PUPR kami yakin apa yang kita cita-citakan bersama akan bisa terealisasi,” ujar Suhaeri meyakinkan.

Sementara itu Ketua Tim Percepatan Pengembangan wisata sejarah, religi, tradisi dan seni budaya, Tendy Nuralam mengatakan konsep besar bakal dibuat di Tanara. Nantinya konsep Islamic center yang namanya Nawawi Center bakal menjadi pusat wisata religi di Tanara. “Kita mau pengunjung nyaman dan betah. Mereka bisa sambil baca menikmati suasananya dan mengajak kita kembali ke masa kejayaan Tanara di masa lalu. Dulu Tanara sebuah kota perdagangan, dari mana-mana orang berdatangan, dari Asia maupun Eropa,” kata Tendy.

“Storytelling yang membanggakan ini harus kembali dibangun. Apalagi sosok Syaikh Nawawi namanya sudah mendunia. Majelis-majelis dan ulama besar di Malaysia, Timur Tengah tahu sosok Syaikh Nawawi. Kalau sudah terbangun Nawawi Center, maka wisatawan mancanegara bakal ramai berkunjung,” kata Tendy.

Menurut Tendy kalau Tanara sudah menjadi destinasi wisata religi yang keren maka masyarakatnya akan bangga jika di tanya asalnya. “Tidak sepeti sekarang kalau ditanya asalnya, banyak yang jawabnya malu-malu,” kata Tendy.

Pada kesempatan itu, Tendy juga menyoroti soal pentingnya homestay di Tanara. Menurutnya homestay juga bisa mengangkat ekonomi masyarakat. Selain homestay penting juga sebagai pemasukan, homestay juga solusi bagi wisatawan yang ingin berlama-lama di Tanara.

Sementara itu, senada dengan Tendy, peneliti sejarah dan budaya Banten Yadi Ahyadi mengatakan Tanara sudah memiliki modal sejarah yang cukup mendunia, khususnya dunia Islam. Yadi mengatakan storytelling Tanara sebagai wisata sejarah dan religi sebenarnya sudah cukup lengkap. Jika ini dikemas dengan baik dan didukung dengan pengembangan infrastruktur wisata yang baik maka Tanara menjadi wisata yang bakal banyak dikunjungi wisatawan.

“Tinggal kini bagaimana strategi membangun storytelling dan mempromosikannya. Jika kita tidak bisa memberi informasi yang baik dan lengkap, orang tidak akan datang. Jika pun ada yang datang, mungkin tak akan kembali lagi,” tandas Yadi yang lebih banyak mengupas sejarah dan budaya Tanara di masa lalu.

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *