Libatkan Bali, NTB, NTT, Kemenparekraf Hadirkan Tren Wisata Triple Destination

2645 0

NTB – Menjawab kebutuhan berwisata di era New Normal atau adaptasi kebiasaan baru, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menghadirkan tren baru dalam berwisata yang disebut triple destination.

Untuk mendukung inovasi ini, Kemenparekraf melibatkan tiga provinsi yakni Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu, menjelaskan jika pasca pandemi Covid-19 salah satu tren berwisata yang menjadi pilihan adalah alam.

“Tren pariwisata di era adaptasi kebiasaan baru ini lebih kepada kembali ke alam. Selain itu, trennya juga tak lagi hanya single destination, tapi juga twins destination, bahkan triple destination. Sehingga, begitu ada kerja sama seperti ini, saya yakin industri bukan lagi berkompetisi melainkan berkolaborasi,” tutur Vinsensius Jemadu, Kamis (1/4/2021).

Menurut pria yang akrab disapa VJ itu, Bali, NTB, dan NTT memiliki keunikan tersendiri. Ketiganya juga memiliki daya jual yang kuat, sehingga mereka yang berkunjung ke Bali belum tentu merasakan keindahan panorama alam lain nya di NTB maupun NTT.

“Begitu kita combain di twins destination atau triple destination seperti ini, customer-nya dipuaskan dahaganya, sehingga dua provinsi atau tiga provinsi ini bisa mengatakan “Palugada” alias “apa lo mau, gue ada”. Kita lakukan seperti itu,” kata VJ.

Ia menilai ada semangat luar biasa dari ketiga provinsi tersebut dalam menyambut kerja sama ini. VJ juga menilai ada kesepakatan bersama dari masing-masing provinsi untuk bangkit bersama-sama menyongsong era adaptasi baru.

“Ada kesepakatan bersama untuk bangkit bersama-sama di era pasca-pandemi ini. NTB tidak boleh bangkit sendirian. NTT dan Bali juga harus bangkit. Makanya diadakan kerja sama ini. Kemenparekraf akan support terus kerja sama ini. Kemenparekraf akan memfasilitasi pertemuan tiga provinsi ini di Bali dalam waktu dekat,” ujar VJ.

Koordinator Pemasaran Regional 1 Area 1 Kemenparekraf/Baparekraf, Taufik Nurhidayat, menambahkan, salah satu destinasi yang juga tengah digencarkan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan di pasca-pandemi adalah desa wisata.

“Desa wisata dan homestay-nya menjadi pilihan wisatawan. Nanti ke depan akan menjadi program unggulan dan program andalan dari Kemenparekraf. Desa wisata dan semua komponennya, termasuk dari management, pengaturan, experience. Atraksinya harus juga terintegrasi. Itulah desa wisata,” papar dia.

Ke depan, pariwisata yang diunggulkan adalah yang berkelanjutan dan bertanggungjawab.

“Nanti semua wisatawan yang datang, bagaimana mereka punya experience, meninggalkan sesuatu yang sangat baik sebagai kenangan,” ujar dia.

Tak hanya menyiapkan destinasi dan atraksi, Taufik juga mengaku akan menyiapkan paket penerbangan untuk mendukung kerja sama ini. Salah satunya digagas dengan AirAsia.

“Paket bandling yang dimaksud itu paket paket satu tahun bisa digunakan. Kenapa hal itu digagas, karena ada teman menanyakan tiket AirAsia dengan yang di-bundling bisa digunakan selama satu tahun. Artinya kapan saja bisa digunakan selama era pandemi ini,” tutur Taufik.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah, Lendek Jayadi Sudharma, mengucapkan terima kasih atas dukungan penuh Kemenparekraf/Baparekraf yang menggagas kerja sama ini.

“Harapan kami momentum ini tidak hanya sekadar dalam penandatangan secara seremonial, tetapi harus dilakukan lintas stakeholder. Dalam pentaholic ini harus dilibatkan dalam segala aktivitas, karena keniscayaan dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan. Yang hadir itu selalu mereka para pemangku, para pelaku, para pegiat pariwisata di kawasan pariwisata itu sendiri,” tutur dia.

Nantinya, skema teknis MoU ini tentunya merupakan satu kesepakatan.

“Kesepakatan ini yang dilihat adalah best prestisius, yang kedua tempat ini yang harus diangkat kepermukaan yang menjadi daya dukung, kolaborasi dan melakukan adaptasi sesuai dengan karakteristik. Kemudian setelah itu juga bagaimana yang harus kita bangkitkan, karena itu juga belum bisa berjalan apa yang kita tarik sebagai hikmah, apa yang menjadi daya dukung utama juga,” tuturnya.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *