Makin Eksotis dan Akurat, Profil Desa Wisata Danau Toba Diupgrade Kemenparekraf/Baparekraf

57 0

TOBA – Pembaruan informasi dilakukan desa wisata di kawasan Destinasi Super Prioritas Danau Toba. Upgrade tersebut untuk mengidentifikasi potensi baru yang muncul. Sebab, pariwisata Danau Toba terus mendapatkan dukungan infrastruktur dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dari pemerintah. Plan aksinya dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Desa Wisata Danau Toba, Jumat (28/8).

Kemenparekraf/Baparekraf sudah menggelar rapat koordinasi. Pada hari Jumat (28/8), Rapat Koordinasi Pengembangan Desa Wisata Danau Toba dilaksanakan di Hotel GM Marsaringar, Lumban Dolok Haume Bange, Balige, Toba, Sumatera Utara. Mereka berasal dari Toba, Tapanuli Utara, hingga Humbang Hasundutan. Sehari sebelumnya, agenda tersebut dilaksanakan di Simalungun.

“Citra positif destinasi berbasis fakta harus terus dijaga. Sebab, ini menyangkut kepercayaan dari pasar. Sejauh ini, kepercayaan wisatawan kepada desa wisata Danau Toba sangat tinggi. Sebab, secara berkala selalu ada pembaruan profil lengkap dengan seluruh perkembangannya,” ungkap Tim Penyusun Profil Desa Wisata Ersalora Lutfianti, Jumat (28/8).

Beragam treatment dilakukan desa wisata di Danau Toba untuk menaikkan performanya. Sepanjang 2019, Desa Wisata Lumban Bul Bul menempatkan Pokdarwis sebagai pengelola. Masyarakat juga mengalami peningkatan pemahaman terhadap pariwisata. Pariwisata bahkan menjadi pencaharian 50% warganya dengan jumlah homestay 60 kamar. Spot ini kerap menjadi pilihan Famtrip Kemenparekraf dengan arus wisman sangat positif.

Serupa Lumbun Bul Bul, Desa Wisata kawasan Bakkara juga makin mempesona hingga ditunjuk sebagai lokasi Live in Academic mahasiswa University MARA Malaysia pada 2019. Pelaku industri pariwisatanya saat ini didominasi milenial. Rutin dikunjungi wisman, salah satu atraksi yang ditawarkan Arung Jeran di Aek Silang dengan finish Danau Toba. Destinasi ini juga memiliki track wisata pedesaan yang unik.

Gambaran lainnya ditawarkan oleh Desa Wisata Meat. Spot tersebut terkenal sebagai penghasil Ulos, lalu dilakukan revitalisasi Desa Adat Ragi Hotang pada 2018. Mereka pernah menggelar event 1.000 Tenda dan menghasilkan kas desa Rp40 Juta dengan jumlah peserta 4.000 wisatawan. Memiliki profil bagus, banyak milenial yang bergabung sebagai pelaku industri wisata dan ekonomi kreatif.

“Kebutuhan pasar akan informasi akurat harus disiapkan dan diberikan. Beragam perkembangan atraksi, amenitas, dan aksesibilitas harus diperbarui. Apalagi, Destinasi Super Prioritas Danau Toba ini banyak sekali mengalami penyempurnaan infrastruktur. Kualitas SDM-nya juga naik,” terang Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Hari Santosa Sungkari.

Menunjang daya tariknya, sedikitnya ada 19 desa wisata di kawasan Danau Toba yang siap diupgrade informasinya. Posisinya tersebar di 6 kabupaten, seperti Toba Samosir, Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan Dairi. Statusnya beragam, dari rintisan dan berkembang. Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Oni Yulfian mengatakan, Danau Toba semakin menarik.

“Danau Toba semakin menarik dengan dukungan informasi terbaru dan akurat. Informasi ini juga untuk memudahkan mobilitas wisatawan selama berada di destinasi. Yang pasti, kami mengundang wisatawan untuk mengeksplorasi Danau Toba kembali melalui desa wisatanya,” kata Oni.

Didata ulang lagi, desa wisata wajib menyertakan beberapa informasi primer. Ada, karakteristik wilayah, keunggulan desa wisata, dan sejarah perkembangan desa wisata. Informasi lainnya, daya tarik dan SDW yang dimiliki hingga beragam fasilitas. Informasi lain berupa kelembagaan desa wisata, pasar wisatawan, dan lainnya. Koordinator Area I Pengembangan Destinasi Regional I Wijonarko menuturkan, desa wisata kini memiliki slot branding lebih besar.

“Destinasi memang banyak mengalami perkembangan positif. Nilai positif tersebut kini mendapatkan peluang branding lebih luas. Mereka bisa menyertakan berbagai informasi terbaru terkait keunggulan dan keunikan destinasinya saat ini,” tutur Wijonarko.

Desa wisata ini dijamin berkembang. Sebab, pengembangan terus dilakukan Kemenparekraf/Baparekraf melalui Direktorat Pengembangan Destinasi Regional I. Sepanjang 2020, ada 6 program pengembangan yang diberikan seperti stimulan amenitas, pendampingan, penyusunan master plan, koordinasi lintas sektoral, penyusunan pola perjalanan, hingga memfasilitasi beragam uji trail.

“Beragam potensi baru yang muncul tentu jadi kekuatan dan daya tarik tersendiri. Apalagi, kami sedang fokus mengembalikan atmosfer industri pariwisata di Danau Toba secepatnya. Informasi keunggulan ini tentu memudahkan kami dan para TA/TO dalam menyusun paket wisata beserta pola perjalanannya,” tutup Sub Koordinator Area I A Pengembangan Destinasi Regional I Andhy Marpaung.(*)

Related Post

Wisata Pulau Jadi Daya Tarik Belitung

Posted by - 1 Desember 2019 0
BELITUNG – Jika ingin menikmati wisata pulau yang menarik, berkunjung ke Belitung merupakan pilihan yang tepat. Keindahan pantai dan pulau…

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *