Menangkap Peluang Desainer Ekonomi Kreatif di Tengah Pandemi Covid-19

29 0

JAKARTA – Meski di tengah pandemi Covid-19, namun salah satu elemen penting yang dapat terus berperan dan berkarya bagi bangsa adalah sektor ekonomi kreatif. Setidaknya hal itu yang disampaikan oleh Staf Ahli Bidang Inovasi dan Kreativitas Kemenparekraf, Josua Puji Mulia Simanjuntak pada acara “Bincang Daring Adaptasi Desainer Ekonomi Kreatif (Desainer Grafis, Interior, Arsitek)” melalui aplikasi Zoom, Rabu 19 Agustus 2020.

 

Menurutnya, para pelaku usaha di sektor desainer ekonomi kreatif seperti desainer grafis, interior dan arsitek dapat mengoptimalkan peluang di tengah situasi pandemi Covid-19 yang mensyaratkan perubahan perilaku dan interaksi.

 

“Ada banyak peluang. Misalnya bagaimana peran desain interior untuk mengoptimalkan situasi pandemi ini. Sebagai contoh ada toko roti yang memiliki banyak pengunjung. Lalu pemerintah memberikan arahan untuk menghindari kerumunan karena berpotensi terjadi transmisi Covid-19. Pada titik itu, interior menjadi hal penting,” kata Josua.

 

Modifikasi interior, Josua melanjutkan, mau tak mau harus dilakukan untuk membuat jarak antara satu orang dengan lainnya. “Interior mengakomodir keinginan kita untuk menghindari kerumunan. Mulai dari awal sampai pada pembayaran tidak ada kerumunan. Itu challenge-nya,” ucapnya.

 

Ia meminta kepada pelaku industri kreatif, utamanya pada sektor desainer untuk dapat terus berkreasi di tengah keterbatasan ruang. “Terus berkreasi di tengah keterbatasan. Misalnya kita hanya punya handphone dan Zoom untuk berinteraksi. Bagaimana kita bisa menyakinkan konsep kita kepada klien, ini adalah kelebihan kita yang harus diutamakan dan dimanfaatkan,” katanya.

 

Erwin Firmansyah perwakilan Himpunan Desainer Interior Indonesia dan Art Programmer tak menampik dalam konteks implementasi artwork dalam situasi pandemi ini mengalami perubahan drastis. “Proses perwujudan artwork dalam situasi pandemi mengalami perubahan. Jika biasanya artwork ditampilkan secara fisik, tetapi di tengah situasi ini artwork dipresentasikan secara virtual kepada klien. Maka bisa saja kehilangan ruh dan auranya, sehingga kemungkinan salah persepsi dan akhirnya kehilangan peluang pekerjaan menjadi sangat mungkin terjadi,” tuturnya.

 

Namun, Erwin meminta agar para pelakunya tak perlu berkecil hati. Solusi yang bisa diterapkan adalah dengan memanfaatkan perkembangan zaman di era digitalisasi saat ini. “Dalam era digital saat ini, seorang art-programmer harus mengubah mental dan sikapnya dalam menjual karyanya secara digital. Misalnya dalam konteks digital marketing. Awalnya orang bisa melihat bagaimana presentasinya, bagaimana sentuhan interaksinya. Tetapi melalui digitalisasi ini tidak bisa. Semua desain itu prosesnya sama. Pada akhirnya hanya soal selera. Sangat personal. Jadi tetap stay healthy, stay at home and stay creative,” ingat dia.

 

Selain itu, agar produk kita tetap dilirik klien juga tetap memperhatikan tampilan yang menarik. “Tampilan menarik dan tetap memperhatikan protokol kesehatan, itu yang utama di tengah pandemi. Tetap menarik bagi pengunjung, namun memperhatikan aspek kesehatan,” sarannya.

 

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), Diaz Hendrasukma memaparkan hasil sensus desain imbas Covid-19 pada ekosistem desain grafis yang dilakukan lembaganya.

 

“Kami melakukan survei di seluruh Indonesia mulai 15 April-7 Mei 2020 melibatkan 1.500 responden yang terdiri dari pekerja lepas, karyawan dan pemilik studio,” papar dia.

 

Untuk pekerja lepas, yang dihentikan atau ditunda proyeknya sebanyak 65,6 persen. Sisanya sebanyak 34,4 persen tidak mengalami penghentian atau penundaan proyek. Sementara untuk penurunan pendapatan rata-rata berada di angka 50 persen. “Untuk bantuan yang diperlukan adalah pendanaan untuk kebutuhan sehari-hari, bantuan langsung tunai, lalu juga pekerjaan atau proyek, bantuan pemasaran dan lainnya,” ujarnya.

 

Untuk pemilik studio, Diaz menilai manuver yang harus dikerjakan sangat kompleks lagi. sebanyak 83,1 persen pemilik studio banyak mengalami penundaan atau penghentian proyek. Sedangkan sisanya sebesar 16,9 persen masih beruntung tak mengalami penghentian atau penundaan proyek.

 

“Penurunan pendapatan sama, kurang lebih sekitar 50 persen. Mayoritas menerapkan Work From Home (WFH) sebanyak 90 persen lebih. Mereka yang mem-PHK karyawan sebanyak 83,1 persen sisanya sebanyak 46,5 persen tidak melakukan PHK. Sedangkan yang belum tahu sebanyak 40,3 persen. Untuk cadangan dana 65,9 persen pemilik studio memilikinya. Sisanya sebesar 34,1 persen tidak memiliki cadangan dana. Rata-rata kecukupan dana hanya untuk 4-6 bulan ke depan,” urainya.

 

Untuk bantuan yang paling diharapkan adalah proyek tambahan, pembayaran dana oleh klien, edukasi keuangan dan bisnis, kolaborasi antar-desainer, bantuan pemasaran dan lainnya.

 

Sedangkan untuk kategori karyawan, rata-rata menjalankan Work From Home (WFH) sebesar 80 persen. Di tengah situasi ini, mereka mengalami peningkatan jam kerja di atas delapan jam sehari. “Gaji bulanan mayoritas tetap, tetapi ada juga yang berkurang,” ujarnya.

 

Sebagai sebuah lembaga yang menaungi desainer grafis, yang dilakukan lembaganya adalah pengembangan zoom meeting, live instagram dan job board. Lalu juga penyaluran BLT (Bantuan Langsung Tunai) kepada 260 desainer paling terdampak dengan kategori pekerja lepas dan karyawan. “Dana yang disalurkan melalui BLT adalah hasil dari penggalangan dana konser solidaritas ‘Bersama Jaga Indonesia’ pada 16 Mei 2020. Kami juga memiliki proyek kerja sama dengan Kemenparekraf untuk mendesain ulang identitas dan kemasan untuk UMKM terpilih dengan mengundang 25 desainer dari 5 kota chapter ADGI,” ujarnya.

 

Kezia Karin perwakilan dari Himpunan Desainer Interior Indonesia pada kesempatan itu memaparkan makalah bertema ‘Interior design post pandemic’. Pada saat ini, Karin menilai waktu yang tepat untuk melakukan beberapa hal seperti perbaikan sistem dan internal training. “Kami juga banyak mengundang klien untuk tambahan knowledge. Kita tinjau lagi sistem yang selama ini kita pakai, di sebelah mana yang masih bisa diperbaiki dan ditingkatkan, karena kita punya waktu kosong, kita tingkatkan produk kita,” ingat dia.

 

“Untuk desain post pandemic diutamakan yang mudah dibersihkan, sirkulasi udara mesti diperhatikan, outdoor space dan pewarnaan juga menjadi hal penting. Pandemi ini banyak menimbulkan frustasi di masyarakat. Kita harus buat ceria,” tambah Karin.

 

Boegar dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat memaparkan materi yang tak kalah menarik. Menurutnya, pandemi ini mengubah dunia dalam banyak hal, termasuk dalam dunia desainer, utamanya arsitektur. “Arsitek ini seperti bawang. Apabila dikupas akan banyak lapisan-lapisannya. Kita akan coba lihat bagaimana pandemi mengubah dunia. Pandemi ini memiliki dampak pada peradaban. Arsitektur itu produk dari peradaban yang tersisa. Artefak suatu kebudayaan selain manuskrip adalah bangunannya,” katanya menjelaskan.

 

Saat pandemi, Boegar melanjutkan, reaksi kita adalah melakukan aktivitas di rumah imbas lockdown atau karantina, tapi tetap harus produktif. “Transformasi yang terjadi adalah perubahan perilaku masyarkat, struktur sosial, struktur ekonomi dan kebijakan. Imbas pada desaign adalah pola mobilitas, pola konektivitas, struktur kota, manajemen kota, arsitektur kota dan lainnya. Ini yang mesti kita tangkap sebagai peluang dan suatu keniscayaan,” katanya mengakhiri.(***)

Related Post

Kukar Expo, Lengkapi Pagelaran TIFAF 2019

Posted by - 24 September 2019 0
Kukar – Melengkapi Tenggarong International Folk Arts Festival (TIFAF), Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara juga menggelar Kukar Expo di komplek Stadion…

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *