Mengenang 256 Tahun, Benteng Toboali Kabupaten Bangka Selatan Siap Menjadi Destinasi Wisata Sejarah Unggulan

433 0

JAKARTA – Dalam rangka memperingati hari Pariwisata Internasional, (World Tourism Day) yang jatuh pada tanggal 27 September, Yayasan Jelajah Bangka Indonesia menyelenggarakan Seminar sejarah dengan tema “265 Tahun Benteng Toboali, menguak sejarah benteng terbesar diluar Sumatera” pada 25/09/2022 di Benteng Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung.

Seminar ini dihadiri oleh Bupati Bangka Selatan, Riza Herdavit, Walikota Pangkalpinang, Maulan Aklil, Direktur Pengembangan Destinasi I, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wawan Gunawan, Pamong Budaya Ahli Madya Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Desse Yussubrasta, Ketua DPRD Kabupaten Bangka Selatan, Erwin Asmadi, Pembina Jelajah Bangka dan Sejarawan Bangka Selatan, Dato’ Akhmad Elvian, Direktur SDM PT. Timah Tbk, Yennita, Ketua LAM (Lembaga Adat Melayu) Bangka Selatan, Kulul Sari. Perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bangka Belitung, Plt Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kab.Bangka Selatan, Ikbal.

Benteng Toboali merupakan situs sejarah yang sudah berumur 265 tahun. Bangunan ini bekas basis pertahanan pemerintah kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1825 terletak di sebuah bukit dipinggir pantai sebelah utara kelurahan Tanjung Ketapang Toboali.

Sejalan dengan arah pandang Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno dalam pengembangan destinasi wisata sejarah perlu mengimplementasikan Inovasi, Adaptasi dan Kolaborasi dengan semangat Gercep, Geber, dan Gaspol.

Ditemui di Jakarta, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Vinsensius Jemadu mengungkapkan apresiasi terhadap komitmen Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan yang fokus mengembangkan pariwisata.

“Kabupaten Bangka Selatan harus siap turut serta menjadi destinasi penyangga utama Bangka Belitung sebagai Destinasi Pariwisata Prioritas.” Ucap Vinsen.

Paradigma Pembangunan Pariwisata Berdasarkan RPJMN 2020-2024 Target Utamanya yaitu Devisa dan Nilai Tambah, Kesiapan Destinasi, Industri & Masyarakat, Kapasitas SDM Parekraf, Daya dukung lingkungan, Citra Pariwisata yang berdaya saing Nusantara. Kabupaten Bangka Selatan harus mampu mencapai target tersebut untuk mewujudkan destinasi wisata yang berkualitas, terintegrasi dan berkelanjutan.

Direktur Pengembangan Destinasi I, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wawan Gunawan sangat takjub melihat potensi pariwisata di Kabupaten Bangka Selatan terutama Destinasi Wisata Sejarah Benteng Toboali. Wawan mengungkapkan Strategi Pengembangan Benteng Toboali Sebagai Wisata Sejarah/ Heritage Di Bangka Selatan yaitu Usaha Revitalisasi, Usaha Penataan Kawasan, Pengembangan Storytelling dan pemanfaatan sebagai daya tarik wisata sejarah.

“Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan harus menciptakan Konsolidasi Birokrasi yang harmonis untuk menghilangkan Ego Sektoral & Terwujudnya tim yang Solid, Speed, & Smart dengan semangat Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Tuntas, Dan Kerja Ikhlas dengan fokus pada pengembangan Pariwisata karena setiap dinas bisa dijadikan program pariwisata.” Ungkap Wawan.

Wawan mengatakan Kemenparekraf siap mendorong pengembangan destinasi di Kabupaten Bangka Selatan dan berharap Benteng Toboali menjadi Destinasi Wisata Sejarah unggulan di Bangka Belitung.

Memperkuat sinergitas dan integrasi di Lintas Kedeputian Kemenparekraf, Lintas KL, Lintas Stakholder, & Lintas Daerah menjadi kunci utama yang bisa diimplementasikan oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan.

Bupati Bangka Selatan, Riza Herdavit berkomitmen untuk mengembangkan pariwisata sebagai core bussiness di Kabupaten Bangka Selatan. Riza menyatakan bahwa siap menyiapkan anggaran untuk pengembangan pariwisata tentunya ia berharap dukungan penuh dari Pemerintah Pusat Terutama Kemenparekraf.

“Kami titip salam pada Menteri Parekraf, Bapak Sandiaga Uno, Kami berharap Bapak menteri bisa hadir di Kabupaten Bangka Selatan. Tentunya kami siap berkomitmen untuk mengembangkan Pariwisata sebagai fokus utama kami.” Ucap Riza.

Riza berencana merevitalisasi Benteng Toboali sehingga akan menjadi daya tarik masyarakat berkunjung ke sana . “Pemkab Bangka Selatan siap mengintervensi APBD untuk pengembangan pariwisata dan budaya Bangka Selatan. Nantinya bukan hanya Hari Jadi Kota Toboali yang akan kita perdakan tetapi juga seni tarian, baju adat serta lainnya,” ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan paparan dari Pamong Budaya Ahli Madya, Dirjen Kebudayaan, Kemeterian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Desse Yussubrasta, beliau memaparkan Cagar Budaya adalah Warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda, Bangunan, Struktur, Situs, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, Pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Benteng Toboali sudah memiliki itu semua tinggal bagaimana melestarikannya dengan unsur Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan.

Paparan dilanjutkan oleh Pembina Jelajah Bangka dan Sejarawan Bangka Selatan, Dato’ Akhmad Elvian beliau menuturkan sejarah tentang terbentuknya Benteng Toboali. Bila melihat kondisi Benteng Toboali saat ini, bahwa benteng memang dibuat permanen dari batu bata merah dengan ketebalan dinding benteng berkisar rata-rata 90-120 cm, dilengkapi dengan sekitar dua bastion atau seleka (menara pantau/ruang penjaga) yang saat ini masih tinggal sisa sisanya. Bastion atau seleka dikatakan oleh H.M. Lange Lange dalam Het eiland Banka en zijne aangelegenheden. ’s-Hertogenbosch: Gebr.Muller, 1850 sebagai pertahanan sayap bersenjata menggunakan Lima atau Enam unit meriam. Dalam Renvoi Plan van het Fort Toboaly dapat dilihat fungsi benteng di samping sebagai lokasi pertahanan juga berfungsi untuk inspecteur woning (rumah inspektur), panhuis (rumah), kaserne (kasir), officierswoning (rumah perwira), wagthuis (rumah gerobak), Kruid magazijn (gudang mesiu) dan bijgebouwen en combaizen (bangunan luar dan rumah combi). Artinya benteng di samping sebagai pusat pertahanan Belanda difungsikan juga sebagai pusat pemerintahan dan kantor penambangan Timah, karena terdapat ruangan kantor inspektur tambang, dan kasir. Penyatuan antara administrasi pemerintahan dan administrasi pertambangan di pulau Bangka berlangsung hingga Tanggal 3 September 1913 Masehi.

Selain seminar sejarah, kegiatan tersebut juga diisi dengan launching buku Benteng Toboali yang ditulis oleh Dato’ Akhmad Elvian serta launching Digital Library oleh Bunda Literasi Basel Elizia Riza Herdavid.***

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *