Menikmati Tradisi Lisan Natoni dari Sudut Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019

142 0

KEFAMENANU – Timor Tengah Utara (TTU) memiliki beragam kekayaan budaya. Satu diantaranya Tradisi Lisan Natoni. Tradisi khas ini bisa dinikmati ketika berkunjung ke Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019, 9-10 Agustus. Lokasinya berada di Lapangan Oenamu, Kefamenanu, TTU, Nusa Tenggara Timur.

Untuk tahun ini, Konser Musik Crossborder Kefamenanu menampilkan banyak nama tenar. Ada Tipe-X Band, Vicky Salamor, dan Maria Vitoria asal Timor Leste (Tiles). Terbuka bagi umum dan gratis, warga Tiles juga bisa mengaksesnya langsung. Sebab, ada beragam warna budaya yang ditawarkan. Salah satu keunikannya datang dari Tradisi Lisan Natoni tersebut.

“TTU banyak memiliki sisi budaya yang eksotis. Tradisi Lisan Natoni tentu menjadi sesuatu yang luar biasa. Syaratnya, tentu datang langsung ke TTU. Momentumnya saat tepat karena ada penyelenggaraan event Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.

Tradisi Lisan Natoni sejatinya prosesi penyampaian pesan pada umum. Secara etimologi, Natoni berasal dari kata Na dan Toni. Na artinya laki-laki atau merujuk sebutan Na Sakau (nama laki-laki). Adapun Atoni mengandung makna tuturan kata-kata syair. Dalam perkembangannya, Natoni disebut sebagai Molok Atoni Meto Anmasimon Neo Monit Feo He Neka Mese Ma Paloil Kuan.

Artinya, syair yang saling memberi dan menerima. Tersirat juga sifat mengasihi dan bekerja sama untuk membangun kehidupan yang berteologis sesuai kepercayaan masing-masing. Tradisi Lisan Natoni pun memakai bahasa yang digunakan adalah Dawan tingkatan tertinggi. Konten yang disampaikanya berupa syair-syair kiasan adat. Penyampaian pesannya dilakukan seorang Atonis atau penutur.

Seorang penutur biasanya akan diteman oleh pendamping (Na He’en). Para pendamping inilah yang akan memberi penekanan materi yang harus diucapkan seorang Natonis. “Tradisi Lisan Natoni sangat menginspirasi. Ada banyak pesan moral dan petuah hidup luar biasa yang disampaikan di sana. Kami harap wisatawan bisa mengeksplorasi tradisi tersebu,” terang Rizki.

Menjadi fenomena unik, Tradisi Lisan Natoni dilakukan dalam setiap fase atau jenjang kehidupan. Dan, aktivitasnya dilakukan secara adat. Jenjang kehidupannya diantaranya, kelahiran, perkewinan, hingga kematian. Tradisi Lisan Natoni juga kerap diterapkan dalam hidup bermasyarakat. Sebut saja aktivitas dalam pembangunan rumah adat, persembahan bagi Uis Neno, dan Uis Pah.

“Tradisi Lisan Natoni memang menjadi potensi pariwisata yang bagus. Sebab, nuansa budaya khasnya sangat kuat. Yang jelas, ada banyak aktivitas yang bisa dinikmati wisatawan bila berlibur ke TTU. Selain budayanya, alamnya sangat eksotis,” jelas Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes.

Menggunakan masyarakatnya sebagai basic, peserta Tradisi Lisan Natoni terbagi dalam beberapa istilah. Ada Usif yang menggambarkan kelompok kaum bangsawan sebagai pewaris tahta raja. Kelompok lain adalah Amaf atau Mnasi yang merupakan bangsawan rendah. Mereka ini adalah pemimpin masyarakat. Lainnya, ada Meo (kelompok kerabat) dan To atau To Ana (golongan yang tidak masuk strata kasta).

“Selalu ada sisi unik dan menarik yang ditawakan Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019. Mari datang bergabung di event ini. Kami secara khusus mengundang masyarakat Tiles untuk datang ke Kefamenanu,” tegas Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani.

Menjadi ‘hub’ bagi Tradisi Lisan Natoni, Konser Musik Crossborder Kefamenanu 2019 bisa diakses dari beberapa pintu PLBN. Yaitu, PLBN Wini dan PLBN Mota’ain. “Konser Musik Crossborder Kefamenanu selalu memberikan experience terbaik. Warga Tiles silahkan datang, tapi tetap sesuaikan dengan regulasi imigrasi yang berlaku,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.(****)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *