Mesin Transplanter Jadi Andalan Poktan di Bone untuk Percepat Tanam

35 0

BONE – Percepatan tanam untuk menyambut musim tanam II dilakukan Kelompok Tani (Poktan) Sipatokkong. Untuk mendapatkan hasil maksimal, Poktan yang berada di Desa Ta, Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan memanfaatkan alsintan jenis transplanter.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, peningkatan produktivitas akan digenjot dalam musim tanam II tahun ini.

“Peningkatan produksi pangan harus dilakuan dalam musim tanam II. Sebab, langkah ini menjadi antisipasi terjadinya krisis pangan di tengah pandemi Covid-19 dan ancaman musim kemarau panjang. Untuk produktivitas yang lebih baik, kita menyarankan petani memanfaatkan alsintan,” tuturnya, Rabu (24/06/2020).

Sementara Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy, mengatakan petani harus mulai memanfaatkan modernisasi di sektor pertanian. Salah satunya, memanfaatkan alsintan dalam beraktivitas.

“Ciri petani modern adalah menggunakan teknologi dalam bercocok tanam, termasuk menggunakan alat dan mesin pertanian. Sehingga, produktivitas meningkat. Dengan alsintan, kita tidak butuh banyak orang untuk mengolah lahan dan menanam. Waktu mengerjakannya juga lebih singkat,” katanya.

Ketua Poktan Sipatokkong, Husni Mubarak, mengatakan penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) sangat membantu dan memudahkan petani dalam bekerja. Mulai tahap penyiapan atau penggarapan lahan, penanaman, panen sampai pascapanen.

“Alat tanam padi berupa mesin transplanter ini dimanfaatkan anggota poktan dalam setiap musim tanam. Sehingga, kesulitan tenaga buruh tanam dapat diatasi, waktu tanam lebih cepat bahkan dapat menghemat biaya produksi sampai dengan 30%,” tuturnya.

Ditambahkannya, irigasi menjadi salah satu kunci peningkatan produksi padi. Tata kelola air irigasi yang baik dapat menjamin kebutuhan tanaman terhadap air sepanjang musim pada setiap fase pertumbuhannya. Oleh karena itu indek pertanaman (IP) bisa ditingkatkan dari IP 2 sampai 3 kali tanam dalam satu tahun dengan produktivitas rata-rata 8 ton/ha gabah kering panen (GKP).

Sementara penyuluh pertanian pendamping wilayah kerja BPP Tanete Riattang, Fatmawati, terus berupaya meyakinkan petani untuk meninggalkan cara bertani konvensional, dan menuju pertanian berbasis mesin (modern).

“Perlahan tapi pasti, dan penuh dinamika para petani dapat menerima kehadiran teknologi baru dan mau menerapkannya bahkan merasakan banyak manfaat, efektif waktu dan efisien dari segi biaya,” Fatmawati.

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *