Musik Etnik Danau Toba Dieksplorasi Melaluinya Pelatihan Hybrid

23 0

SAMOSIR – Kekayaan budaya lokal terus diekplorasi dan dipoles oleh Kemenparekraf/Baparekraf. Diinisiasi Direktorat PSDM Ekraf, program Horja Toba Musik Etnik Nusantara pun direlease 29-30 April 2021. Formatnya melalui Pelatihan Musik Seni Pertunjukan (Hybrid). Yaitu, format pelatihan yang digelar secara online dan offline sekaligus.

“Program pelatihan ini untuk memajukan salah satu subsektor ekonomi kreatif, yaitu musik. Etnik nusantara adalah bagian dari budaya, untuk itu harus dikembangkan. Jika musik etnik dapat berkembang dan jadi daya tarik, maka dapat menarik wisatawan,” ungkap Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya.

Digelar 2 hari, Toba Musik Etnik Nusantara Pelatihan Musik Seni Pertunjukan (Hybrid) secara offline berlokasi di Hotel JTS, Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara. Untuk aktivitas daringnya menggunakan fasilitas Zoom Meeting. Adapun jumlah total peserta ada 140 orang. Sebanyak 30 nama mengikuti pelatihan secara luring. Mereka berasal dari Samosir, Humbang Hasundutan, Karo, Simalungun, Toba Samosir, Dairi, Tapanuli Utara.

Adapun peserta daring berjumlah 110 orang. Mereka mayoritas berasal dari 4 provinsi. Sebut saja, 58 nama.dari Sumatera Utara dan 7 orang dari Sumatera Barat. Slot lainnya diisi oleh 22 peserta asal Jawa Timur dan 5 orang Jawa Tengah. Wisnu menambahkan, daya tarik destinasi semakin kuat dengan didukung keunikan budayanya.

“Pelatihan ini telah memberikan warna baru, bagaimana mengemas sebuah konten menjadi lebih menarik. Kami optimistis, musik akan menjadi daya tarik tersendiri yang mampu menghadirkan banyak wisatawan,” lanjut Wisnu.

Menaikan kompetensi sumber daya manusia di destinasi, pelatihan pun menghadirkan 3 narasumber. Ada Musisi Toba Viky Sianipar, Etnomusikolog Toba Martahan Sitohang, hingga Musisi Massto Sidharta. Martahan Sitohang menyampaikan materi pengenalan musik Gondang. Ada juga pengenalan musik Batak sebagai atraksi sosial culture dalam seni pertunjukan.

“Musik etnik menjadi bagian penting sebuah atraksi. Kekhasannya tentu menjadi identitas destinasi tersebut. Di Indonesia ini, setiap daerah memiliki kekhasan musiknya sendiri. Dengan ekplorasi lebih, musik ini sangat potensial untuk menarik kunjungan wisatawan,” terang Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kemenparekraf Ricky Fauziyani.

Inspirasi juga diberikan oleh Viky Sianipar. Musisi Toba tersebut memberikan materi kreativitas bunyi instrumen dalam sebuah komposisi atau lagu. Materinya semakin lengkap karena menyajikan strategi bermusik melalui media digital. Adapun Massto Sidharta menyampaikan materi Management dan Bisnis Musik.

“Musik, termasuk musik etnik, selalu menjadi industri yang menggiurkan. Apalagi, kini juga ada transformasi besar seiring menguatnya digital. Kami berharap penyesuaian dilakukan oleh musisi dalam berkarya. Apalagi, strategi bisnisnya juga sudah diberikan melalui pelatihan ini,” jelas Ricky.

Materi Management dan Bisnis Musik mengupas tentang bagaimana cara membangun networking dalam industri musik. Untuk membangun network bisa dibangun mulai dari sesama kolega musisi, pemerintah, dan swasta.

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk memberikan wawasan tambahan dan mengajak para musisi lokal terutama musisi etnik terus mengeksplor kreatifitas kekhasan musik daerah masing-masing dengan tampilan baru,” tegas Koordinator Edukasi III, Toar RE Mangaribi.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *