Naikkan Value Keamanan Destinasi, Pemerintah Bisa Terapkan 3 Formula Ini

87 0

JAKARTA – Isu terorisme masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang belum terselesaikan secara tuntas. Padahal, industri pariwisata sedang berupaya membangun kembali hegemoninya usai dihantam badai Covid-19. Untuk mengurai benang kusut tersebut, sedikitnya ada 3 formulasi yang bisa diterapkan didestinasi. Harapannya, pasar tetap mendapatkan rasa aman dan minim gangguan dari berbagai kejahatan.

“Beban industri pariwisata sekarang semakin bertambah. Sebab, pariwisata berusaha bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19. Belum selesai, beban sudah ditambah dengan isu keamanan melalui teror di Makassar dan Mabes Polri. Ini tentu jadi alarm keras untuk menaikan keamanan wilayah,” ungkap Pengamat Pariwisata Taufan Rahmadi.

Untuk mengembalikan kepercayaan pasar, ada beberapa treatment yang bisa dilakukan pemerintah. Tujuannya untuk mendukung sistem keamanan yang sudah dikembangkan oleh aparat Kepolisian secara umum. Sebagai bentuk kolaborasi, fungsi dari Polisi Pariwisata yang tourism friendly perlu ditingkatkan lagi di destinasi wisata.

“Peningkatan keamanan di destinasi sudah jadi kebutuhan mendesak. Artinya, perlu ada penambahan jumlah personel aparat di destinasi. Nantinya, mereka bisa bersinergi dengan Polisi Pariwisata. Peran Polisi Pariwisata juga ditingkatkan untuk memberi rasa aman dan nyaman sekaligus,” terang Taufan lagi.

Untuk meningkatkan efektivitas kerja, peran CCTV juga bisa dioptimalkan. Artinya, CCTV harus memenuhi aspek kuantitas tertentu. Pemasangan dan penambahan jumlah CCTV bisa diprioritaskan pada Destinasi Super Prioritas. Komposisinya ada Kawasan Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

“Tourism Command Centre harus dikuatkan. Untuk mengoptimalkan fungsi dan efektivitas, sentuhan teknologi harus diberikan. Pemasangan dan penambahan jumlah CCTV harus diberikan. Ini bisa dimulai dari destinasi super prioritas. Dengan kolaborasi teknologi dan aparat keamanan akan efektif menghadirkan keamanan di destinasi,” jelas Taufan lagi.

Menyempurnakan konsep keamanannya, tindakan preventif tetap harus diberikan pada destinasi. Formatnya melalui optimalisasi Tourism Task Force. Nantinya turut dilibatkan pula tokoh agama, masyarakat, dan adat. Peran para tokoh bisa menjadi katalis dalam pemberian pemahaman kepada masyarakat menyangkut konsep dan pentingnya keamanan secara menyeluruh.

“Tourism Task Force harus diperkuat dan dioptimalkan fungsinya. Upaya preventif tetap digulirkan sebagai upaya pencegahan. Peran ketokohan harus libatkan untuk memudahkan penetrasi pemahaman sistem keamanannya. Intinya melibatkan massa. Semua diberdayakan menurut kapasitasnya,” tutup Taufan.(***)

Related Post

PLBN Mota’ain Bikin d’Masiv Kagum

Posted by - 9 Maret 2019 0
DESTIBASIDIGITAL.COM, ATAMBUA – Band papan atas Indonesia, d’Masiv, dibuat terkagum-kagum dengan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota’ain. Rian dkk menyempatkan…

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *