OPT Mengancam, Kementan Imbau Petani Ikut AUTP

61 0

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) kembali mengingatkan pentingnya asuransi usaha tani padi (AUTP). Pasalnya, kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang masih tinggi membuat peluang besar terhadap berkembangnya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), seperti wereng batang coklat, penggerek batang dan tikus.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengimbau petani untuk rutin melakukan pemantauan di areal sawahnya, dan melaporkan jika ada serangan /gangguan hama kepada petugas OPT secepat mungkin.

“Selain pemantauan, kami mengimbau petani untuk menggunakan padi yang toleran terhadap kekeringan dan membiasakan untuk menggunakan bahan-bahan organik,” ujar Mentan SYL, Senin (18/5).

Pemanfaatan bahan organik diharapkan bisa meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air dan lebih ramah lingkungan. Mentan SYL menegaskan pentingnya perlindungan tanaman untuk mendukung keberhasilan produksi beras nasional.

“Setiap Kepala Dinas dan Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura untuk bisa mengantisipasi dari dampak perubahan iklim ini, dengan menerapkan langkah-langkah yang cepat dan tepat,” tuturnya.

Untuk memaksimalkan kebutuhan air dua bulan ke depan, Mentan SYL meminta dinas untuk mengoptimalkan peralatan dan bangunan yang ada. Seperti mesin pompa, embung, long storage, serta sumur bor.

“Persiapkan segalanya sedini mungkin. Jangan sampai terlambat sehingga terjadi gagal panen meski sudah terlindungi AUTP,” kata Mentan SYL.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy juga turut mengimbau kabupaten/kota mampu mengoptimalkan sarana dan prasarana yang telah diberikan untuk memitigasi dampak kekeringan tahun 2020.

“Sekarang masih dalam proses pengadaan. Jika sudah selesai, tentu pompa ini segera diberikan kepada petani, sehingga bisa digunakan untuk menghadapi kekeringan,” ungkap Sarwo Edhy.

Tapi, lanjut Sarwo Edhy, jika pengadaannya terlambat, maka petani bisa menggunakan bantuan pompa tahun lalu. Bantuan pompa Kementan 2015-2019 tercatat sebanyak 100.720 unit.

Untuk mempercepat pengolahan tanah dalam rangka percepatan tanam, petani bisa menggunakan TR-2 dan TR-4. Jika kelompok tani belum memiliki, bisa sewa dengan UPJA (Unit Pelayanan Jasa Alsintan).

Sarwo Edhy kembali mengatakan, pihak dinas pertanian diminta untuk lebih rajin memonitor ketersedian air waduk dan bendungan.

“Untuk daerah irigasi yang airnya terbatas, saya minta dikawal gilir giring air, sehingga pemakaian air menjadi merata,” tegasnya.

Sarwo Edhy menambahkan bahwa ada prediksi terjadi kemarau, hendaknya petani sadar akan pentingnya AUTP. Realisasi pelaksanaan AUTP tahun 2020 hingga pertengahan Mei ini baru mencapai 333.505 ha atau 41,69%.

“Dengan prediksi iklim ini, kita harapkan petani segera mendaftarkan lahan ikut asuransi. Jika petani mengasuransikan lahan sawahnya, maka jika terjadi puso akibat kekeringan petani mendapat ganti rugi,” paparnya.

Ganti rugi, kata Sarwo Edhy, akan dibayarkan pihak asuransi sebesar Rp 6 juta/ha. Untuk mendapatkan klaim ini petani cukup membayar premi Rp 36.000/ha/musim tanam.

“Sesuai arahan Mentan Syahrul
Yasin Limpo, kami akan mengoptimalkan penanganan masalah terkait dampak musim kemarau yang akan sebentar lagi dihadapi, sehingga stok produksi padi tidak akan mengalami kendala,” pungkasnya.(***)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *