Paling Inspiratif, Presentasi Arief Yahya di Industry Roundtable MarkPlus

60 0

JAKARTA – Istimewa! Penampilan Dr Ir Arief Yahya MSc, Menteri Pariwisata RI 2014-2019, Direktur Utama PT Telkom 2012-2014 di Zoom Online Seminar MarkPlus, Selasa 21 April 2020. Materi lengkap Industry Roundtable dengan tema “Surviving The Covid-19 Preparing The Post” dari sudut pandang pelaku industry Telecommunications Services ini juga sudah diunggah di Youtube.

Silakan diklik di link Youtube ini untuk memutar ulang diskusi yang sangat menarik itu, https://www.youtube.com/watch?v=oh125cyEplE&feature=youtu.be. Tidak rugi stay tune di sini selama 3 jam 49 menit 10 detik, untuk menyimak data terkini, ide dan sekaligus inspirasi survival di tengah Pandemi Covid-19 ini. Arief Yahya sendiri mulai presentasi di jam ke 1:05:59 dari durasi diskusi 3:49:10.

Moderator Hermawan Kartajaya berkali-kali memuji kepiawaian Arief Yahya dalam forum membeberkan rahasia sukses di tengah pandemi, dan dilihat lebih dari 2000 viewers itu. “Pak AY ini adalah teman saya, saudara saya, sekaligus Senior Honorary MarkPlus yang cumlaude sebagai Doktor Strategic Management di Unpad Bandung,” ucap Hermawan Kartajaya, Founder & CEO Markplus Inc.

“Ketika menjabat Menteri Pariwisata, beliau ini sangat cepat memahami dunia tourism, dan langsung lari kencang, meskipun backgroundnya adalah telco dan digital. Kini, di saat Covid-19, ilmu Paradox Marketing-nya Pak AY yang sudah dibukukan oleh beliau ini, sangat bermanfaat,” lanjut Begawan Marketing Hermawan Kartajaya itu.

Mengawali presentasinya, Arief Yahya yang orang Jawa dan asli Banyuwangi itu menyapa narasumber lain, Menkominfo Johnny G Plate, Ririek Ardiansyah Dirut PT Telkom, yang juga sebagai Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Jamalul Izza Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif Angga Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL), dan lainnya.

Gaya Arief Yahya yang sama ketika menjabat Dirut PT Telkom dan Menpar RI, runtut, sistematik, lugas, disampaikan dengan bahasa yang sederhana, gampang dimengerti. Dan, super pede alias percaya diri. Comments di Youtube-nya pun langsung, “Terbaik sharingnya Pak AY, Bagus sekali Pak Arief Yahya, Mantap Pak AY, dan seterusnya.”

Arief Yahya yang juga Marketeer of The Year 2013 itu memang selalu bekerja dengan framework. Punya bekal teori yang kuat, ada best practice, ada benchmark yang sudah sukses dilakukan di dunia, dan dukungan data-data terbaru. Pengalaman 30 tahun berada di industri telco membuatnya cepat menghitung, cepat membuat matrik, dan cepat mengambil keputusan.

“Di saat wabah Covid-19, perusahaan telco harus lakukan 3D. Digital Imperative, Decoding Economy, dan Unusual Way of Digital Transformation! Dan ini harus dilakukan secara bersama-sama. Ini timing yang tepat, sekarang saatnya,” kata Arief Yahya dengan intonasi yang tegas.

Ini mirip dengan teori yang dirilis Hermawan Kartajaya dengan SPA, Survival, Preparing, Actualizing. “Ketiga Fase saling beririsan, saling intersection. Di Fase Survival, karena hantaman CoronaVirus yang dahsyat dan merusak di seluruh dunia dalam waktu yang bersamaan ini, ada perusahaan yang Declining, terdampak serius. Ada yang justru Growing,” tuturnya.

Industri Telco, menurut perkiraannya, masih oke. Demand nya tinggi, karena Work From Home, Physycal Distancing, belajar dari rumah, kebutuhan online dan digital semakin tinggi. Tetapi juga dia menyadari, bahwa aktivitas CSR – Corporate Social Responsibility untuk membantu negara di saat krisis seperti ini juga harus serius dengan berbagai skema diskon khusus.

Digital Imperative, ini yang sudah menjadi keniscayaan dan harus terus dilakukan, seperti memperluas infrastruktur seperti jaringan Fiber Optic. Arief Yahya memaparkan dari 14 industri yang masuk dalam pusaran Digital Vortex dan mengalami disruption, 5 besarnya adalah Media & Entertainment, Technology & Services, Telecommunications, Retail, Financial Services. “3 dari 5 besar itu berada di bawah Kemenkominfo semua,” ungkapnya.

“Dalam Digital Imperative ini, saatnya telco transformasi besar-besar, bukan lagi di infrastruktur service. Kalau itu wajib, tidak ada pilihan, seperti fiber optic, itu bukan transformasi, itu keniscayaan. Transformasi yang dimaksud adalah menuju ke Digital Platform, baik Global OTTs seperti Amazone.Com menuju AWS, Alphabets bangun Google Cloud Platform, , Microsoft mengembangkan AZURE, Alibaba.Com develop Alibaba Cloud,” jelas Arief Yahya.

Begitupun Telco Industry seperti Singtel, AT&T, NTT, Telstra, Telcos semua bertransformasi membangun Cloud yang CAGR-nya paling tinggi. Dari data 2019, masih 19%, sedangkan CAGR OTT (Apps Provider & Internet Players, seperti Alphabet, Amazone, Microsoft, Alibaba) yang masih bertumbuh hanya 14%,” jelas Arief Yahya.

D yang kedua, Decoding The Economics of Covid-19 ! Apa itu? Decoding itu artinya memecah dan memetakan sandi. “Intinya Transform the business from “Potential Losers” to the “Potential Winners” industry by leveraging the Core.” Misalnya, bisnis kuliner yang tradisional turun 80-90% di saat Covid-19, harus bertransformasi menuju Food Processing, seperti Frozen Food, yang bisa disimpan di freezer dikirim, nanti tinggal dimasak.

Hotel juga, industry pariwisata yang terpuruk harus bertransformasi agar bisa survive. Lippo Group sudah memulainya dengan mengubah Hotel menjadi Hospital. “Karena group Lippo memang sudah memiliki hotel dan juga hospital, tetapi ini juga bukan pekerjaan sederhana,” ungkapnya.

Industri Steel atau baja misalnya, juga bisa bergerak, berubah menjadi penyedia jasa untuk industry yang sedang bertumbuh atau potential winners. “Ada bagannya, yang sebelah kiri menuju ke warna merah adalah potential losers, sedangkan yang kuning menuju ke hijau di sayap kanan, adalah industry yang berpotensi menjadi besar. Ingat, setiap tekanan krisis seperti ini selalu akan menghasilkan pemain besar baru,” kata Arief Yahya.

“D” yang ke-3, Unusual Way Digital Transformaation, Digital Strategy. Saatnya shifting bisnis dari yang tradisional ke digital. Tetapi, sekali lagi, harus dilakukan bersama-sama, baik digitalisasi produk dan service, digitalisasi marketing dan distribusi, digitalisasi proses, digitalisasi ekosisten, dan supply chains-nya.

Arief Yahya mencontohkan, sebagai benchmark yang sudah sukses melakukan transformasi adlah AT&T, yang berubah dari perusahaan telekomunikasi biasa, menjadi a new kind media giant. “AT&T, mengalami vertical integrated, naik USD 289 Billion tahun 2019, sebelumnya USD 169 Billian tahun 2015, naik 70%, dengan Transformative Vision, to digital.

Dia juga menceritakan kisah sukses Turkcell, yang membangun digital services sendiri, hingga memiliki BIP – instant messanging, semacam WA-nya di Turki. Juga membangun FIZY Music, semacam Sportify-nya di sana. Dan juga TV+ semacam Netflix-nya Turki. “Revenue-nya bertumbuh 20% di 2019, Ebitda naik 41%, kuncinya tidak hanya transformasi di teknologi, tapi di semua aspek,” jelasnya. (*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *