Para Promotor Kurator Mengikuti FGD yang Digelar Kemenparekraf

29 0

YOGYAKARTA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggelar Focus Group Disscusion (FGD) di Yogyakarta, Minggu (19/07/2020). Kegiatan ini juga membahas isu dan masukan pengembangan event di Indonesia.

Menurut Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf Rizki Handayani, FGD membahas banyak hal seputar event. Selain pengembangan event, kegiatan ini juga membahas izin keamanan, hingga jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus).

“Perlu adanya forum atau asosiasi event untuk bantu pemerintah mengkurasi event-event terbaik di Tanah Air. Dan ini sejalan dengan tugas dan fungsi bidang Event Kemenparekraf, diantaranya mendukung event-event daerah, membesarkan event nasional, serta membawa event internasional ke dalam negeri. Karena, DNA Indonesia adalah kreatif,” tutur Rizki Handayani.

Ditambahkannya, hasil dari FGD ini ditentukan jika rekomendasi pertama untuk event harus dari asosiasi lalu baru rekomendasi dari Kemenparekraf.

“Selain itu, para promotor senior juga bisa menjadi advisor atau pembina Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI). Jadi para promotor senior dilibatkan langsung juga di APMI,” kata wanita yang akrab disapa Kiki itu.

FGD Yogyakarta yang juga dihadiri Anas (Rajawali), Tommy (Original Production), Dino (Berlian), Donny & Aan Fikriyan (Hammersonic), Pakle Bayu, Darshan (HYPE), Galih Sedayu, OT (Mecima Pro), dan Debby (Backstagers) juga menginisiasi pembentukan APMI.

Sementara Dino (Berlian) selaku ketua panitia pembentukan APMI, mengatakan perlunya dibuat program event sebelum vaksin ditemukan dan sesudah vaksin ditemukan nanti.

“Perizinan juga belum dikeluarkan secara tertulis. Dan untuk hal ini, perlu dukungan atau surat rekomendasi dari Kemenparekraf,” kata Dino.

Dukungan untuk membentuk APMI, disampaikan Anas dari Rajawali. Menurutnya, kehadiran APMI akan berdampak positif.

“Dengan hadirnya APMI, ekosistem event musik bisa lebih maju. Oleh karena itu, harus ada asosiasi yang juga tidak berbicara bisnis, tapi lebih mengedepankan semangat pengembangan event. Buat series festival musik Indonesia, dikemas dengan baik dan kita promosikan di negara pasar,” katanya.

Anas juga mengusulkan diadakannya music tourism. Tujuannya agar ada paket yang memanjakan wisatawan. Selain menyaksikan event music, wisatawan bisa sekaligus berwisata.

Sedangkan Aan Fikriyan dari Hammersonic, mengatakan pembentukan asosiasi-asosiasi yang baik adalah inisiasi baik. Sebab, akan melengkapi pentahelix Kemenparekraf.

Tapi, ia juga mengusulkan agar Kemenparekraf membuat permodelan event hybrid kombinasi online & offline, kemudian mengundang Kemenkes, kepolisian, dan instansi terkait lainnya.(***)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *