Penerapan Protokol CHSE Wujudkan Pariwisata Yang Berkelanjutan

28 0

Bajawa – Penguatan destinasi-destinasi wisata dengan menerapkan protokol kebersihan, kesehatan, keamanan, dan ramah lingkungan (Cleanliness, Health, Safety, Environment/CHSE) kembali dicanangkan.

Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) melanjutkan rangkaian aktivasi gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) yang merupakan kegiatan padat karya sebagai upaya pemulihan sektor pariwisata di destinasi wisata Air Terjun Ogi, Kab. Ngada-Bajawa, 17 & 18 September 2020.

Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana Fatina hadir, Asisten 2 Bupati Ngada Bidang Pembangunan Hironimus Reba, Sekertaris Camat Bajawa Primus Logo dan 100 peserta dari warga setempat.

Direktur Utama BOPLBF Shana Fatina saat membuka kegiatan mengatakan, kedisiplinan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat menjadi salah satu dasar bagi keberlangsungan pariwisata. Jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia, perang terhadap sampah, khususnya sampah plastik dilakukan secara global, termasuk masyarakat Flores.

“Pandemi ini harus menjadi puncak kesadaran kita menjaga gaya hidup sehat. Bicara pariwisata tidak lepas dari bicara tentang gaya hidup bersih dan sehat. Keindahan, keamanan, serta keberlangsungan lingkungan dengan sendirinya akan terwujud dan ini menjadi modal utama berlangsungnya pariwisata kita”, terang Shana.

Shana menekankan kehadiran Bajawa sebagai salah satu aset pariwisata budaya NTT. Kehadiran museum budaya berupa kampung-kampung adat warisan leluhur di Lembah Jerebu’u yang saat ini menjadi bagian tak terpisahkan dari destinasi budaya dan sejarah yang selalu perlu dijaga keberlangsungannya.

“Dengan karakter pariwisata Bajawa yang melibatkan masyarakat secara langsung, maka penerapan protokol CHSE sudah selayaknya menjadi gaya hidup yang harus dilaksanakan secara disiplin. Dengan begitu dapat menjamin keamanan dan keselamatan masyarakat maupun wisatawan yang datang berkunjung”, tegas Shana.

Sementara itu, Asisten 2 Bupati Ngada Bidang Pembangunan Hironimus Reba dalam sambutannya antusias. Menurut Hironimus, kegiatan padat karya seperti Gerakan BISA harus menjadi momentum bagi masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan berbagai sektor, terutama sektor pariwisata akibat pandemi Covid-19.

“Terimakasih kepada BOPLBF yang tidak pernah melupakan Kabupaten Ngada dalam pelaksanaan kegiatan seperti ini. Selama kurang lebih 6 bulan sejak pandemi , roda perekonomian pariwisata kami berhenti berputar. Semua sektor terkena imbasnya. Inilah momentum kebangkitan kita!”, ujar Hironimus.

Hironimus juga menekankan, Gerakan BISA harus dimulai dari diri masing-masing. Hidup bersih dan sehat harus menjadi gaya hidup masyarakat. Keberlangsungan lingkungan yang dirawat dengan gaya hidup masyarakat yang bersih dan sehat sudah dapat dipastikan akan memberi dampak juga bagi keberlanjutan pariwisata daerah.

Kegiatan padat karya Gerakan BISA dilaksanakan selama dua hari, 17 & 18 September 2020. Tarian Ja’i dari Sanggar Ngada Mana membuka membuka kegiatan padat karya yang selain membersihkan lingkungan setempat tetapi juga berupa kegiatan penanaman pohon di lokasi wisata Air Terjun Ogi.

Gerakan BISA diharapkan dapat merangsang kesadaran masyarakat memasuki tatanan normal baru pada destinasi wisata untuk senantiasa menerapkan protokol CHSE. Pada kesempatan ini juga BOPLBF menyerahkan secara simbolis peralatan protokol kesehatan, seperti Thermo Gun, masker dan buku panduan, serta secara simbolis malaksanakan penanaman bibit pohon.

Melalui pelaksanaan Gerakan BISA kali ini destinasi wisata Air Terjun Ogi dinyatakan siap menerima kunjungan wisatawan!. Terletak di bawah kaki gunung inerie, Kabupaten Ngada terkenal akan kesejukan dan minuman khasnya arak atau yang dikenal dengan moke dalam bahasa setempat.

Kabupaten ngada juga memiliki beberapa destinasi wisata yang sangat memanjakan mata selain Air Terjun Ogi, ada Taman Manulalu, Gunung Wolobobo, Lembah Jerebu’u yang merupakan museum budaya Kab. Ngada terdiri dari Kampung-Kampung Adat seperti Kampung Bena, Gurusina, Tololela. Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati berendam di kolam air panas wisata geothermal Pemandian Air Panas Manggeruda. Selain Arak ‘Moke’, tenun khas Ngada dan juga Parang Bajawa menjadi oleh-oleh khas Ngada yang dapat dibawa pulang para wisatawan*.

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *