Pertahankan Warisan Budaya, Pemprov NTB Gagas Trilogi Perjalanan Keris Lombok

32 0

MATARAM – Banyak cara dilakukan untuk mempertahankan warisan budaya. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) yang menggagas pertunjukan “Trilogi Perjalanan Keris Lombok”. Ya, tak hanya Pulau Jawa, Lombok memiliki beragam keris dengan keunikannya tersendiri. Banyak pandai besi yang tersebar di Pulau Lombok. Meski sama-sama keris, namun tempaan pandai besi Lombok tentu saja berbeda dengan di pulau lainnya.

Kepala Dinas Pariwisata NTB, Yusron Hadi menjelaskan, keris memiliki peran penting sebagai identitas masyarakat Nusantara, tak terkecuali Lombok. Sejarahnya begitu panjang dalam kehidupan masyarakat Nusantara. “Keris bukan hanya sebatas besi yang ditempa, tetapi juga terdapat simbol, identitas dan jati diri masyarakat Nusantara. Pada suatu masa keris merupakan alat peperangan. Saat ini, keris menjadi pelengkap pakaian adat,” tutur Yusron dalam keterangan resminya, Selasa (27/7/2021).

Yusron melanjutkan, “Trilogi Perjalanan Keris Lombok” untuk mengungkap kembali identitas keris Lombok yang tak kalah unik dibanding keris dari pulau lainnya. Untuk melihat lebih dekat bagaimana para pandai besi menempa keris buatannya, Yusron menilai “Trilogi Perjalanan Keris Lombok” akan membebernya secara jelas.

“Keris Lombok memiliki keunikannya tersendiri. Tentu ada nilai yang terkandung di dalamnya. Keris tidak sekadar dilihat dari sisi isoteris (punya ”isi”, nilai magis dan lain-lain), tetapi juga sisi esoteris atau yang tampak pada keris seperti keutuhan, bentuk bilah, pamor (motif) dan luk (jumlah lekukan pada bilah),” papar Yusron.

Jumat (23/7/2021), terik matahari Lombok tak membuat Yusron yang didampingi Ketua Gili Hotel Association Lalu Kusnawan menghentikan langkahnya menyusuri gang-gang sempit di Dusun Gegutu Reban, Desa Dasan Geria, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat demi mencari pandai besi yang tengah membuat keris Lombok.

Langkah kaki Yusron dan Lalu berhenti kala melihat seorang pandai besi bernama Muhlis dan seorang pegawainya tengah memanaskan besi dalam tungku. Perbincangan mengalir di antara mereka. Soal panas yang diperlukan untuk menempa besi, Muhlis menjelaskan tak memerlukan ukuran berapa derajat panas yang dibutuhkan.

“Ada tanda-tandanya (saat besi siap untuk ditempa). Saya menggunakan besi yang dicampur nikel untuk keris ini,” kata Muhlis yang sudah menggeluti usaha pembuatan bilah keris selama lebih kurang 4-5 tahun belakangan ini.

Menurut Muhlis, pembuatan satu buah keris bisa memakan waktu hingga lebih dari satu bulan, tergantung tingkat kerumitannya. Tak hanya Muhlis. Di Dusun Gegutu Reban ada banyak pandai besi lainnya.

Dalam buku Bentuk dan Gaya Keris Nusa Tenggara Barat terbitan Museum Negeri NTB dikatakan, gaya keris Lombok mirip gaya keris Bali. Gaya keris Samawa (etnis Samawa di Kabupaten Sumbawa) dan etnis Mbojo (Dompu dan Bima) mirip gaya keris Bugis Makassar, Sulawesi Selatan.

Gaya keris yang berbeda itu dinilai sebagai dua lintasan yang dilalui budaya keris masuk ke NTB. Dari utara melalui Bugis Makassar ke Pulau Sumbawa, sementara dari barat masuk melalui Bali ke Lombok. Itu kemungkinan berlangsung setelah era keruntuhan Majapahit (abad XV) sehingga Lombok dan Sumbawa menjadi ajang perebutan kekuasaan kerajaan.

Banyaknya keris yang ditemukan di Lombok mungkin peninggalan prajurit zaman rebutan pengaruh kekuasaan lalu disimpan dan dirawat pemiliknya. Keris-keris yang semula menjadi alat peperangan itu berakulturasi dengan budaya lokal, seperti pelengkap busana adat perkawinan dan lainnya.

Istilah selep/nyelep dan sikep/nyikep (bahasa Sasak) atau menyelipkan keris pada pinggang adalah bukti bahwa keris tidak asing bagi seluruh lapisan masyarakat. Satu petunjuk, keris yang ditemukan di Lombok panjangnya 58-71 sentimeter (cm), sementara keris yang ditemukan di Sumbawa panjangnya 34-51 cm.

Berbeda dengan keris Jawa yang panjangnya 49-51 cm. Istilah ganja, pesi, pejetan, pamor, dan dhapur pada keris Jawa sama dengan keris Lombok meski sebutannya menggunakan bahasa lokal, Sasak. Pamor (motif pada bilah keris) beras tumpah (Sasak), misalnya, sinonim dari wos wutah (Jawa), pamor aik ngelek atau banyu mili.(***)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *