Pesona Batik Roro Djongrang dan Ansor Silver Menyambut Timor Leste di Yogyakarta

8 0

Yogyakarta – Memasuki hari ketiga kegiatan Familiarization Trip (famtrip), Selasa (8/10), rombongan travel agent/ tour operator (TA/TO) asal Timor Leste tiba di Yogyakarta. Mereka langsung diajak berkunjung ke Batik Roro Djongrang di Yogyakarta.

Di sini, peserta famtrip kembali mendapat pengalaman baru. Mereka bukan hanya diperkenalkan dengan Batik Roro Djongrang, tetapi belajar langsung menggoreskan canting di atas kain. Tentu saja, tawaran membatik ini disambut antusias oleh semua peserta famtrip. Terlebih, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama mereka.

Salah satu peserta famtrip, Trifonio Martins dari Orange Tour & Travel, mengaku sangat takjub dengan produk budaya tersebut. Selain coraknya yang beragam, jenis produk yang ditampilkan pun bermacam-macam. Bukan hanya berupa kain, tetapi ada pula pakaian pria, wanita dan anak-anak. Termasuk perlengkapan rumah tangga seperti taplak meja, bed cover, dinner set, plate and glass mat, hot mat, dan apron. Tak ketinggalan ada accessories seperti hiasan dinding, tas, lukisan, dan lain-lain.

“Bagi saya, ini karya yang luar biasa. Indonesia harus bangga punya kekayaan budaya semacam ini. Unik, menarik, dan punya nilai jual tinggi. Hanya Indonesia yang punya produk batik seperti ini. Di kampung saya tidak ada (Timor Leste,Red),” ungkapnya, diamini Raditz Kusumawardhana dari Antika Tour & Travel.

Puas mengagumi Batik Roro Djongrang, peserta famtrip bergeser ke sentral pengrajin perak di Kecamatan Kotagede, Yogyakarta. Di sini, mereka mengunjungi workshop sekaligus artshop Ansor’s Silver yang berada di komplek bangunan peninggalan Belanda, yang konon didirikan pada tahun 1870. “Indonesia itu punya semuanya. Lengkap sekali. Di perusahaan saya tetap nomer satu masyarakat Timor Leste sangat ingin ke Indknesia. Baru pilihannya ke negara lain. Selain lebih murah, juga lebih dekat. Ini akan jadi refrensi saya,”katanya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani mengatakan, dipilihnya Ansor Silver karena toko perak ini dipercaya merupakan kerajinan perak tertua di Kotagede. Berdiri sejak tahun 1956 dan menjadi pionir industri kerajinan perak di daerah setempat.

“Di sini, peserta famtrip juga diajak melihat langsung bagaimana proses pembuatan produk-produk kerajinan dari perak. Yang membuat peserta terkesan, ternyata prosesnya sangat rumit dan detail. Butuh beberapa tahapan hingga terbentuk aneka perhiasan seperti kalung, gelang, cincin, bros, dan lain-lain,” jelasnya.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata Muh Ricky Fauziyani menambahkan, masih banyak keseruan yang akan ditawarkan kepada peserta famtrip. Hari berikutnya, mereka akan dibawa ke sejumlah destinasi unggulan yang selama ini cukup banyak menyita erhatian wisatawan.

“Besok, mereka akan mengunjungi Keraton Yogyakarta, Candi Borobudur, dan Desa Wisata Candirejo untuk bersepeda santai menikmati pemandangan alam. Selain itu, mereka juga akan belajar gamelan,” bebernya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, famtrip adalah perjalanan pengenalan destinasi wisata. Karena itu, kegiatan ini harus menyenangkan dan mewakili kekayaan Indonesia. Yang jelas, peserta harus mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan, sehingga dapat menyusun paket wisata yang menarik.

“Famtrip merupakan kegiatan promosi pariwisata yang paling efektif. Para peserta famtrip khususnya TA/TO bisa langsung menceritakan dan menawarkan paket liburan kepada customer. Goalnya, kunjungan wisman Timor Leste ke Indonesia akan semakin meningkat. Biar mereka menyentuh, merasakan dan langsung mengajak wisatawan,” pungkasnya. (*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *