Petani Kayong Utara Diajarkan Cara Hadapi OPT Lewat SL IPDMIP

71 0

Kayong Utara – Semangat petani di Kayong Utara untuk menyerap materi dari Sekolah Lapang program IPDMIP patut diapresiasi. Petani sangat semangat, utamanya saat SL IPDMIP memberikan materi mengenai cara menghadapi organisme pengganggu tanaman (OPT).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, tuntutan pertanian saat ini adalah meningkatkan produktivitas.

“Artinya, pertanian tidak boleh berhenti. Dalam kondisi apa pun, pertanian harus terus berproduksi. KIta bersama-sama harus menjaga ketahanan pangan. Oleh karena itu, produktivitas harus ditingkatkan,” paparnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan peningkatan produktivitas juga dilakukan dalam program IPDMIP.

“Utamanya, peningkatan produktivitas pertanian di daerah irigasi. Oleh karena itu, kita berharap petani bisa menyerap ilmu yang dibagikan dalam program IPDMIP untuk diterapkan di lahan masing-masing. Sehingga perekonomian masyarakat petani juga bisa terangkat,” katanya.

Kegiatan Sekolah Lapang IPDMIP di Kayong Utara, melibatkan 20 peserta, terdiri dari 12 petani laki-laki dewasa, 8 orang wanita tani dari beberapa Poktan yang ada di wilayah Desa Benawai Agung.

”Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini, semoga pertanian di Benawai Agung, Kecamatan Sukadana lebih maju dari sebelumnya,”ujar Fathul Bahri, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kayong Utara.

Menurutnya, petani kerap menemui sejumlah kendala untuk meningkatkan produktivitas, termasuk serangan dari OPT.

Kendala di atas, salah satu penyebabnya adalah keterbatasan jumlah penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang mempunyai kemampuan khusus / latar belakang pendidikan dengan jurusan Penyuluhan Pertanian dan proteksi tanaman.

Kabupaten Kayong Utara terdiri dari 43 desa dengan jumlah tenaga PPL baik PNS, PPP3K maupun THL TBPP berjumlah 38 orang dengan kualifikasi pendidikan dengan jurusan proteksi tanaman 1 orang dan jumlah Petugas Pengamat Organisme Tanaman sebanyak 5 orang.

Menyikapi hal ini, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kayong Utara, melalui kegiatan Integrated Participatory Development and Irrigation Program (IPDMIP), melaksanakan Sekolah Lapang yang melibatkan POPT untuk membantu keterbatasan pengetahuan dan pengalaman Penyuluh dan Petani.

Sebanyak 20 petani mengikuti kegiatan Sekolah Lapang (SL) yang dilaksanakan 06 April 2021, di kelompok Tani (Poktan) Surya Tani  Daerah Irigasi Semunting Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Fasilitator kegiatan terdiri dari PPL, Staf Lapangan dan Penyuluh Swadaya. POPT Sedangkan supervisi kegiatan dilakukan oleh pihak DPIU IPDMIP, KJF Kabupaten Kayong Utara, Koordinator BPP Kecamatan

Staf Lapangan, Karmila, didampingi Penyuluh Lapangan Mudamah, mengatakan bahwa kegiatan SL ini pertemuaan yang ke 9 dengan materi Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman, pada pertemuan kali ini pembahasan lebih dikhususkan pada kepik hitam dan wereng.

Ditambahkannya bahwa antusiasme para peserta untuk ikut kegiatan SL sangat tinggi. Hal ini terlihat dari tingginya tingkat kehadiran serta partisipasi mereka saat mengikuti materi dan pengamatan lapangan.

Sri Widayati, selaku Koordinator Kecamatan sekaligus Kasi Metode dan Informasi Penyuluhan menjelaskan lebih lanjut mengenai hal itu.

“Sekolah Lapang (SL) ini bertujuan melatih petani secara langsung agar produktifitas hasil pertanian meningkat, karena dalam sekolah lapang pertanian ini petani diajak untuk memilih benih unggul, pengolahan tanah dengan pemberian pupuk organik secara maksimal, pemupukan kimia yang berimbang, antisipasi OPT sejak dini, selain itu diajarkan  juga tata cara untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sampai penanganan panen dan pasca panen,” katanya.

Lebih lanjut, Para ketua dan pengurus kelompok tani, yang berada di Desa Benawai Agung setelah mengikuti SL diharapkan menjadi sambung lidah dari PPL.

“Semuanya berperan aktif, sehingga bila ada kendala di lingkungan petani dapat segera terselesaikan,” tegas Mudamah.

Salah seorang peserta, Rape’ah, mengatakan bahwa kegiatan sekolah lapang ini sangat bermanfaat karena petani diberikan bekal pengetahuan teknik dari pemilihan benih, pengolahan lahan, penanaman  dan lainnya.

Sehingga nanti bisa dipraktekkan saat musim tanam berikutnya. Harapan beliau kegiatan seperti ini hendaknya dilakukan terus menerus ke depannya. (Sw/EZ)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *