Petani NTT Antusias Sambut Program READSI

264 0

KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur mendukung Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling-up Initiative (READSI) yang dijalankan Kementerian Pertanian. Petani diminta memanfaatkan program ini dengan maksimal.

Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling-up Initiative (READSI) merupakan program dari International Fund for Food and Agriculture (IFAD) yang telah lama bekerja sama dengan Kementerian Pertanian.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, lewat READSI Kementerian Pertanian berkomitmen mendorong dan membangun pertanian di seluruh pelosok Indonesia.

Mentan Syahrul juga menghargai upaya IFAD untuk melakukan sinergi dalam mendukung program nasional yang dilaksanakan Kementan.

“Saya mengapresiasi dukungan dan fleksibilitas yang diberikan IFAD kepada manajemen program dalam melakukan penyesuaian implementasi kegiatan di lapangan, khususnya di masa pandemi COVID-19,” katanya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan kegiatan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri (PHLN) di Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, ada empat kegiatan yang mendukung program-program utama Kementerian Pertanian, diantaranya READSI, IPDMIP, SIMURP dan YESS.

“Kesemuanya bertujuan mensejahterakan dan meningkatkan pendapatan petani. PHLN juga menjadi tumpuan harapan di saat pandemi. Bahkan pada tahun 2020 serapan PHLN meningkat secara tajam di atas 90%. Di tahun 2021 harus lebih ditingkatkan lagi dan melakukan akselerasi dari semua kegiatan,” tuturnya.

Dengan dukungan dari program READSI, para petani di Desa Netemnanu utara Kecamatan Amfoang, Kabupaten Kupang, NTT, pada akhir April lalu melakukan Panen Padi.

Desa ini merupakan salah satu satu wilayah program READSI yang merupakan salah lumbung padi di Kabupaten Kupang dengan luas sawah sekitar 28 hektare.

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat, berkesempatan berkunjung ke Desa ini, Rabu (19/5/2021). Kunjungan ini merupakan bentuk perhatian ekstra pemerintah provinsi terhadap para petani di desa tersebut yang sedang melakukan penen raya atau pun yang sedang melakukan persiapan memasuki musin panen padi.

Didampingi Bupati Kupang, Ketua DPRD, Kabupaten Kupang, serta staf ahli, Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat menyampaikan kegiatan yang dilakukan oleh Program READSI dan Dinas serta masyarakat sudah mendukung ketersediaan pangan masyarakat di wilayah ini.

“Oleh karena itu, READSI perlu didukung oleh pemerintah baik provinsi NTT dan Kabupaten Kupang,” katanya.

Panen Raya dilakukan dengan luas lahan 28 Ha oleh Kelompok Tani Noepenoe dengan padi varietas ciherang. Benih tersebut bantuan saprodi program READSI pada bulan Januari tahun 2021 sebanyak 721,50 Kg.

Panen kali ini terjadi peningkatan yang terbilang fantastis dimana hasil panen sebelumnya sebesar 4,5 ton/Ha menjadi 6,4 ton/Ha. Ini semua tidak terlepas dari intervensi program READSI yang telah melakukan pelatihan seperti sekolah lapang hingga temu lapang.

Viktor meminta para petani bahkan seluruh perangkat daerah untuk memanfaatkan secara maksimal program READSI, dalam upaya peningkatkan usaha pertanian.

“Di samping itu, pemerintah daerah kita imbau agar dapat lebih terfokus dalam perencanaan sehingga dapat berhasil di tengah terbatasnya anggaran daerah karena Covid-19. Irigasi yang baik perlu mendapat perhatian agar semua lahan yang berpotensi dapat memberi hasil yang maksimal,” katanya.

Saat kunjungan tersebut, Viktor menginstruksikan Dinas PU Provinsi dan PU Kab untuk segera memperbaiki saluran yang rusak untuk mendukung ketersediaan air, dan untuk Bupati Kupang dan Dinas PU dan Pertanian Kab Kupang agar dapat berkoordinasi dengan dinas Provinsi supaya mempercepat semua proses yang dpat menunjang kegiatan petani dan masyarakat.

Setelah kunjungan Gubernur, fasilitator desa menyampaikan kelompok tani READSI bertambah bersemangat karena mendapat perhatian dari Gubernur. Kelompok tani juga akan bersungguh-sungguh memaksimalkan program READSI dan menjadi pioneer bagi kelompok-kelompok lain di luar binaan program READSI.

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *