Pola Perjalanan Wisata Heart of Borneo Jadi Panduan Wisata Terintegrasi di Kalimantan

23 0

PALANGKARAYA – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pola Perjalanan Wisata Heart of Borneo. Koordinator Wisata Alam Direktorat Wisata Alam, Budaya dan Buatan Kemenparekraf/Baparekraf, Itok Parikesit menjelaskan pola perjalanan wisata Heart of Borneo merupakan panduan wisata terintegrasi di Kalimantan. Nantinya, wisatawan akan memiliki bekal pengetahuan cukup untuk menentukan destinasi yang akan dikunjungi sesuai dengan minat mereka.

“Pola perjalanan ini akan disusun secara terintegrasi sebagai panduan bagi wisatawan yang ingin melakukan perjalanan wisata ke Kalimantan,” kata Itok. Ia melanjutkan, dengan penyusunan pola perjalanan wisata yang akan didistribusikan ini wisatawan akan dapat tertarik berkunjung ke Kalimantan yang memiliki banyak sekali potensi wisata yang mampu menarik minat wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata. “Harapannya adalah bagaimana pola perjalanan ini dapat mendatangkan wisatawan, khususnya wisatawan pada perbatasan area-area itu sendiri. Ada banyak sekali potensi wisatawan dari Malaysia dan Brunei Darussalam yang ingin masuk ke Indonesia,” tutur Itok.

Nantinya, kata dia, pola perjalanan wisata yang disusun ini akan dibuat secara digital sehingga memudahkan wisatawan untuk mengaksesnya. Menurutnya, penyusunan pola perjalanan wisata ini juga sebagai bentuk adaptasi perubahan kebutuhan wisatawan. Jika dahulu wisatawan berkunjung secara bersama-sama, maka belakangan ini mereka lebih melakukan perjalanan wisata secara mandiri. “Penyusunan pola perjalanan wisata Heart of Borneo juga untuk menawarkan produk kepada wisatawan secara inklusif sesuai dengan minatnya masing-masing,” kata Itok.

Direktur Indonesia Ecotourism Network (INDECON), Ary Suhandi menuturkan, Heart of Borneo atau jantung Borneo merupakan program konservasi dan pembangunan berkelanjutan di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan, juga mencakup sebagian wilayah Brunei Darussalam. Program ini telah disepakati bersama antara ketiga negara tersebut untuk dikelola berdasarkan prinsip-prinsip konservasi dan pembangunan berkelanjutan. “Istilah Heart of Borneo atau HoB kemudian digunakan sebagai nama suatu inisiatif tiga negara tesebut yang telah dideklarasikan sejak 12 Februari 2007. Inisiatif HoB mengusung program konservasi dan pembangunan berkelanjutan tertuang dalam Rencana Aksi Strategis (Strategic Plan of Action/SPA),” terang dia.

Kalimantan, Arya melanjutkan, merupakan salah satu lansekap hutan hujan tropis terbesar yang tersisa di kawasan Asia Tenggara. “Dia memiliki nilai strategis untuk konservasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang berlokasi strategis bagi tiga negara. Adanya peluang pasar nasional dan internasional yang harus disikapi segera juga untuk mempererat hubungan antar negara, termasuk bisnis dan sosial budaya,” tutur dia.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani menuturkan, salah satu target penyusunan pola perjalanan wisata Heart of Borneo adalah memunculkan destinasi-destinasi wisata baru. Seiring dengan tumbuhnya destinasi wisata baru, Rizki percaya wisatawan juga akan semakin memiliki banyak pilihan untuk berlibur. “Wisatawan akan memiliki banyak pilihan destinasi wisata. Heart of Borneo disusun sebagai panduan yang terintegrasi untuk memudahkan wisatawan yang ingin datang berkunjung,” kata dia.

Tak hanya sekadar melakukan penyusunan pola perjalanan belaka, nantinya juga akan diperkuat dengan story telling agar semakin memikat wisatawan. Selain itu, wisatawan juga akan mendapat informasi yang jelas dan utuh dalam segala hal mengenai suatu destinasi. “Pola perjalanan ini akan diperkuat dengan story telling dari masing-masing destinasi,” ujarnya.

Direktur Wisata Alam, Budaya dan Buatan Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Alexander Reyaan memaparkan, pedoman pola perjalanan wisata ini akan dijadikan pedoman pagi penyelenggara jasa wisata dalam membuat paket-paket destinasi wisata di Indonesia. “Nantinya pedoman pola perjalanan ini akan dijadikan dasar bagi tour operator, travel agent dan online travel agent dalam menyusun paket wisata, ujarnya.

Di sisi lain, pria yang karib disapa Alex itu menegaskan jika penyusunan pola perjalanan Heart of Borneo berorientasi pada kepentingan masyarakat. “Basis pariwisata itu adalah masyarakat. Maka orientasi yang dikembangkan dalam penyusunan pola perjalanan ini adalah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat karena pariwisata itu multiplier effect,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan tengah, Guntur Talajan berharap peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) menjadi bagian tak terpisahkan dalam penyusunan pola perjalanan ini. “Ada beberapa prioritas pembangunan dari penyusunan pola perjalanan ini di antaranya sektor pariwisata, SDM, investasi dan reformasi birokrasi. Semua itu diarahkan untuk mewujudkan daya saing destinasi wisata budaya dan religi yang unggul,” tutur Guntur. (*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *