Program BISA Memotret Kemegahan Geoscience Ngalang Melalui Karya Kreatif Batik Batuan

33 0

GUNUNGKIDUL – Karya kreatif batik bermotif batuan ditawarkan Daya Tarik Wisata (DTW) Ngalang. Inspirasinya dikembangkan dari urat-urat batuan di dalam situs geoscience Ngalang. Kekayaan tersebut sudah dipotret melalui program program BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Aman). Selain batik, program BISA juga menguatkan status DTW Ngalang sebagai geoscience super lengkap dan terbaik bagi pemula.

Program BISA sudah bergulir di DTW Ngalang, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sejak Rabu (19/8). Program tersebut menjadi katalis kemajuan pariwisata DTW Ngalang secara menyeluruh. Dan, salah satunya bagi potensi besar ekonomi kreatif berupa batik bermotif batuan. Uniknya, motif, struktur, dan warna batiknya diadopsi sepenuhnya dari beragam jenis batuan khas di sana.

“DTW Ngalang punya potensi besar. Dari posisinya sebagai geoscience terbaik, kami kembangkan batik. Motif dan komposisi warnanya diambil dari guratan urat batuan khas DTW Ngalang. Kami optimistis, melalui program BISA, gema batik bermotif batuan DTW Ngalang semakin kuat. Artinya, ada potensi besar mendapatkan akses permodalan dan pemasarannya,” terang Koordinator Georesearch Indonesia Prihardjo Sanyoto.

Terdengar unik, motif dan komposisi warna batik diambil dari sayatan batuan setebal 0,03 MM. Dibuat menjadi preparat, motif urat batuan tersebut lalu dilihat melalui mikroskop khusus. Motif yang muncul dan komposisi warnanya tersebut lalu dipindahan ke kain dan dijadikan batik. Proses pembuatan batik ini dengan cara tulis, cap, dan printing. Proses pembuatan ini berpengaruh terhadap harga, selain bahan baku kainnya.

Dikembangkan dari batuan, batik milik DTW Ngalang ini memiliki banyak motif unik dan menarik. Ada motif Metamorf, Ofiolit, hingga Batubara. Motif lainnya berupa Batu Gamping Pellatispira (Fosil), Sekis, Gnesis, hingga Batu Pasir Formasi Ngrayong. Bila tertarik, silahkan berkunjung langsung ke Jl. Selolapis 3, Plosodoyong, Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul. Bisa juga melalui email prisan52@gmail.com.

“Motifnya sebenarnya beragam. DTW Ngalang banyak memiliki jenis batuan khas. Batuan-batuan ini juga memiliki background menarik, seperti Ofiolit yang jadi bahan baku Nikel. Semua batuan ini disayat secara khusus. Sayatannya inilah yang diadopsi sebagai motif batik. Bentuk dan komposisi warna yang ditampilkan sesuai gurat asli pada batuannya. Ngalang ini batuannya luar biasa,” jelas Prihardjo.

Secara garis besar, induk batuan di geoscience Ngalang terbagi 3 dengan posisi terbuka sepanjang 5-10 Km. Ada batuan Sedimen Beku, Gunung Api, dan Ofiolit. Batuan Gunung Api ini mengandung unsur Sedimen Beku. Adapun, Ofiolit disusun atas Batuan Beku, Sedimen, dan Metamorf. Metamorf ini bisa ditemui melalui Gunung Api. Untuk usia batuannya, rata-rata berkisar 16 Juta hingga 32 Juta Tahun.

“Setiap daerah di Gunungkidul memang memiliki ciri khas batiknya masing-masing. Batik dengan motif batuan asal DTW Ngalang tentu sangat artistik. Proses pembuatannya unik dan menarik. Kami jelas merekomendasikan batik ini untuk dimiliki. Variannya beragam, apalagi secara umum Ngalang memang jadi pusat geoscience. Ada banyak spot menarik di sini,” kata Kadispar Gunungkidul Asti Wijayanti.

Geoscience Ngalang memiliki beberapa spot menginspirasi yang bisa dieksplorasi. Sebut saja, Sesar Naik Geser yang jadi representasi perselingan batuan pasir dan gamping berumur muda 16 Juta Tahun. Sesar ini masih aktif dengan pergeseran 1MM per Tahun. Penuh dengan patahan, sesar tersebut familiar jadi engselnya Pulau Jawa. Situs ini juga banyak memiliki cerita menarik.

Kawasan ini dahulu merupakan laut dangkal, lalu semakin ke hulu dengan jarak 2-3 Km berstatus laut dalam. Zonasi tersebut disebut juga sebagai Spot Karanganyar karena memiliki Sekuen Bouma dengan struktur sedimen endapan Turbided laut dalam. Komposisinya sangat lengkap dengan 5 singkapan dari layer A hingga E.

Selain Sesar Naik Geser, spot unik lainnya adalah Fosil Jejak Bioturbasi. Situs ini adalah jejak binatang meliyang khas laut dangkal yang berusia sekitar 16 Juta Tahun silam. Binatang tersebut lalu membentuk batuan sedimen formasi Sambipitu. Cerita semakin menarik ke arah hulu karena ditemui Batubara yang jadi representasi antara daratan dan lingkungan transisi di masa lalu.

“Program BISA memiliki posisi strategis. Selain menguatkan, program ini juga menguatkan branding di DTW-nya. Sejak awal potensi DTW Ngalang ini luar biasa karena ada batik khas dan situs besar bagi geoscience. Wajar bila kawasan ini menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan menggali beragam pengetahuan baru,” papar Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Muh. Ricky Fauziyani.

Masuk dalam kawasan UGG Gunung Sewu, geoscience Ngalang pun banyak menarik minat wisatawan untuk berkunjung dan belajar. Mereka datang dari Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, hingga Jawa Barat. Spot ini juga menarik minat belajar wisatawan asal Malaysia, Thailand, juga Filipina. Dilengkapi banyak homestay, mereka belajar dan tinggal di sana dalam kurun waktu tertentu.

“Karya kreatif produk batik batuan ini sangat menginspirasi. Secara umum, profil DTW Ngalang sangat luar biasa. Ada banyak potensi yang bisa dieksplorasi wisatawan saat berkunjung ke sana. Silahkan saja datang langsung ke Ngalang. Selain atraksi, aksesibilitas dan amenitas di DTW Ngalang sangat bagus,” tutup Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *