Program BISA Perkuat Posisi Ekonomi Kreatif Kerajinan Perak DTW Gunungkidul

44 0

GUNUNGKIDUL – Daya Tarik Wisata (DTW) Gunungkidul sangat kaya warna. Penegasan eksotisnya melalui kerajinan perak Pampang. Komoditi unggulan ekonomi kreatif ini bahkan sudah didisplay dan dieksplorasi di dalam launching program BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Aman), Selasa (18/8). Lokasinya ada di Balai Desa Pampang, Paliyan, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Launching program BISA menjadi etalase branding produk kerajinan perak Pampang. Selama ini, publik lebih mengenal Kota Gede, Yogyakarta, sebagai sentra kerajinan perak. Apalagi, kerajinan perak di sana sudah berkembang sejak awal Kerajaan Mataram. Kerajinan perak Kota Gede semakin maju sejak VOC masuk di abad ke-16. Namun seiring waktu, nama Pampang muncul sebagai salah satu sentra kerajinan perak terkemuka di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mengacu sejarahnya, munculnya Pampang sebagai sentra kerajinan perak masih memiliki keterikatan dengan Kota Gede. Sebab, para perajin perak di Pampang awalnya belajar di Kota Gede. Setelah punya keahlian mengolah perak, mereka kembali ke kampung halamannya. Selama berada di Pampang, para perajin ini mengembangkan industri kerajinan perak. Usaha tersebut lalu tumbuh dan berkembang.

“Pampang merupakan Kota Gede ke-2. Sebab, kualitas kerajinan perak di sini tidak kalah dengan hasil di Kota Gede. Kami juga memiliki kedekatan sejarah dengan Kota Gede. Sebab, para perajin perak tersebut awalnya bekerja dan menimba ilmu di sana,” ungkap Perajin Perak Pampang Suratman yang memajang produk kreatifnya saat launching program BISA.

Menjadi kekuatan baru, Desa Pampang memiliki sekitar 70 unit usaha kerajinan perak per padukuhan. Pampang saat ini ditopang oleh sekitar 5 padukuhan. Menariknya setiap unit usaha kerajinan perak bisa menarik 2-4 tenaga kerja. Suratman menambahkan, unit produksi kerajinan perak manjadi pilar utama penyangga perekonomian keluarga.

“Perputaran uang dari bisnis kerajinan perak di Pampang sebenarnya sangat menjanjikan. Perak menjadi mata pencaharian masyarakat di sana. Tapi, semuanya jadi sulit karena Covid-19. Kami tetap berusaha menghidupkan peluang pasar untuk kerajinan perak, meski semuanya belum normal,” lanjutnya lagi.

Menarik minat pasar perak, pengrajin di Pampang menghasilkan beragam varian produk. Produk yang dihasilkan beragam mulai dari asesoris, beragam miniatur, hiasan dinding, hingga beragam bentuk lain. Untuk asesoris, bentuknya terdiri dari cincin, gelang, kalung, dan beragam bentuk unik lainnya. Bentuk tersebut dibuat dengan menggunakan beberapa teknik pengolahan perak.

Secara garis besar, teknik pengolahan kerajinan perak terdiri dari Filigree, Tatah, hingga Plethet. Teknik Filigree juga familiar sebagai itiam, yaitu cara mengayam perak dengan menggunakan tangan. Anyaman ini digunakan untuk mengisi ruang obyek. Adapun Tatah dengan memahat lempengan perak sehingga menjadi bentuk seni yang diinginkannya.

“Kalau dari segi kualitas, produk kerajinan perak kami tidak perlu lagi diragukan. Secara teknis kami ini menguasai berbagai teknik pengolahan perak, meski yang dominan adalah Filigree. Justru kesulitan dan tantangan kami adalah terkait desain. Sebab, desain harus menyesuaikan kebutuhan pasar untuk tahun depan. Bagaimanpun, produk kami harus mengikuti tren khususnya di masa depan,” jelas Suratman.

Dengan keunikannya, produk kerajinan perak Pampang memiliki pasar luas. Untuk domestik, pangsa pasarnya membentang dari Sabang hingga Merauke. Adapun pasar mencanegara yang sanggup diinvasi adalah Italia, Turki, dan Iran. “Pasar domestik sangat menyukai kalung dengan komposisi etnik. Untuk kapasitas produksi per orang dan perbulannya sekitar 2 Kg. Itu bisa jadi 30-50 kalung,” tegasnya.

Untuk pasar mancanegara punya serapan sekitar 20% dari seluruh total produksi perak yang dihasilkan. Bila tertarik, silahkan datang langsung ke Galery Kampung Perak Pampang, Jalan Pampang-Paliyan Km-1, Pampang, Paliyan, Gunungkidul. Adapun nomor telepon yang bisa dihubungi +6281999293732. Harga-harga yang ditawarkannyapun sangat bersahabat.

“Program BISA memiliki fungsi strategis. Kini publik makin mengerti kalau Pampang bisa menghasilkan kerajinan perak dengan kualitas bagus dan harga terjangkau. Keberadaan kerajinan perak juga semakin menguatkan nilai tawar Pampang sebagai DTW,” papar Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Muh. Ricky Fauziyani.

Menaikkan nilai jual wisata Pampang, beragam paket menyangkut experience perak ditawarkan menarik. Untuk Paket Free Tour, wisatawan akan didampingi guide untuk melihat beragam aktivitas pembuatan kerajinan perak. Ada juga Paket Belajar Membuat Kerajinan Perak. Paket tersebut berbayar sesuai dengan kesepakatan dengan pemilik sanggar. Untuk nilai paket biasanya juga didasarkan dengan bentuk hingga berat bahan baku perak yang digunakan.

“Keberadaan kerajinan perak di Desa Pampang sangat menarik. Sebab, ada experience dan pengetahuan baru yang akan didapat oleh wisatawan. Paket-paket tersebut juga sangat memudahkan mobilitas para wisatawan. Jadi, kami rekomendasikan Pampang sebagai tempat berlibur,” tutup Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *