Program Cetak Sawah di Manggarai Bantu Produksi Padi NTT

66 0

MANGGARAI – Cetak sawah di Kabupaten Mangarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dicetak tahun 2016 sebesar 52 ha, saat ini masih dimanfaatkan dengan baik. Salah satunya oleh Poktan Longko Rembung Desa Longko, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai. Varietas yang ditanam adalah varietas Ciherang, saat ini produktivitasnya sekitar 4-5 ton/ha.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, sawah baru tersebut dicetak pada lahan-lahan yang memiliki sumber air.

“Kita utamakan pada lahan yang memiliki sumber air tetap, baik irigasi, embung, sumur bor dan lainnya. Lahan sawah tersebut harus bisa ditanami 1-3 kali setahun,” ujar Mentan SYL.

Dalam perencanaannya, kegiatan cetak sawah juga harus menyertakan penyusunan dokumen lingkungan yang terkait, di antaranya Amdal apabila akan tercetak untuk luasan lebih dari 500 hektare (ha) per hamparan.

“Calon lokasi cetak sawah ini memiliki tipologi yang berbeda baik itu vegetasi maupun kondisi lapangnya, maka harus benar-benar di rencanakan dengan baik agar lahan tersebut dapat dioptimalkan.” sebut Mentan SYL.

Sementara, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy meminta agar lahan sawah tersebut tidak dialihfungsikan untuk kegiatan lain. Menurutnya, keberadaan lahan pertanian sangat penting. Hal ini untuk menjaga ketersediaan pangan.

“Lahan tersebut harus tetap dijaga untuk sawah karena menyangkut ketersediaan pangan bagi masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan disegala bidang cukup berpengaruh terhadap sektor pertanian. Terutama pada alih fungsi lahan pertanian khususnya lahan sawah menjadi lahan non pertanian. Hal ini sangat mengancam kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan nasional,” tegas Sarwo Edhy.

Untuk itu, Sarwo Edhy menilai program memperluas baku lahan sawah harus dilakukan. Sebab, hal ini menjadi upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Program yang bisa dijalankan adalah kegiatan cetak sawah.

“Kegiatan cetak sawah telah dilakukan Kementan dalam beberapa tahun terakhir ini dengan memanfaatkan dan mengelola sumber daya lahan dan air yang ada di daerah serta pemberdayaan petani,” papar Sarwo Edhy lagi.

Kegiatan cetak sawah diterapkan dengan baik di Desa Tanglapui, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Di Alor, cetak sawah telah dilakukan sejak 2018 denga lahan seluas 100 Ha. Hingga saat ini telah dimanfaatkan dengan baik oleh para petani. Bahkan memiliki produktivitas yang cukup tinggi.

“Setelah dilakukan kegiatan cetak sawah di daerah ini , Kementan melalui Ditjen PSP juga mendukung infrastruktur lainnya, di antaranya pembangunan Jalan Usaha Tani, Embung, dan Alsintan. Dukungan besar pemerintah pusat pada lokasi ini harapannya kedepan dapat turut meningkatkan produktivitas pangan dan kesejahteraan petani,” papar Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy memastikan,
pembelian alsintan tersebut memberikan keuntungan berupa kenaikan produksi atau memudajanak untuk berproduksi sehingga meningkatkan produktivitas.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *