Punya Agenda Padat, Festival Tabut 2019 Siap Digelar

136 0

BENGKULU – Bengkulu akan semarak akhir pekan ini. Karena Festival Tabut kembali digelar. Tepatnya pada 31 Agustus-10 September. Event ini memiliki banyak sekali agenda menarik. Biar tidak penasaran, datang saja ke Lapangan Merdeka, Kota Bengkulu.

Ketua Tim Pelaksana Calendar of Event Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty, mengatakan jika Festival Tabut sudah masuk dalam 100 Calendar of Event Kementerian Pariwisata.

“Festival Tabut sudah menjadi bagian dari 100 Wonderful Event di Indonesia. Event ini memiliki daya tarik. Karena dibalut dengan sejarah religi juga budaya Bangkulu yang khas. Dalam pelaksanaannya, Festival Tabut akan diwarnai dengan sejumlah kegiatan menarik,” papar Esthy, Jumat (30/8).

Kegiatan budaya yang akan digelar antara lain Mufakat Rajo Penghulu, Pengambilan Tanah, Upacara Menjara I, Upacara Menjara II, Arak Jari-jari, Arak Sorban, Tabut Naik Puncak, Arak Gedang, Tabut Besanding, Tabut Tebuang. Ada juga Lomba Tokok Dhol, Lomba Tari Kreasi Tabut, Pagelaran Seni dan Budaya, Lomba ikan-ikan, Lomba Telong-telong, Pameran, dan masih banyak lagi.

Menurut Esthy, keseruan Festival Tabut akan bisa dirasakan sejak awal festival ini dibuka, pada 31 Agustus.

“Karena, ada sejumlah kegiatan budaya yang langsung disajikan kepada pengunjung dan wisatawan. Dua budaya yang akan ditampilkan adalah Mufakat Rajo Penghulu, dan Pengambilan Tanah. Jadi sayang sekali jika kegiatan ini dilewatkan,” paparnya.

Sementara Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Rizki Handayani, mengatakan, Festival Tabut adalah event bersejarah.

“Festival Tabut adalah cermin kekayaan budaya Bengkulu. Juga memperkaya potensi wisata religi Bengkulu. Festival ini juga ikut menggerakkan ekonomi masyarakat. Ada banyak venue yang dinikmati masyarakat. Juga ada banyak inspirasi yang diberikan Festival Tabut,” paparnya.

Festival ini digelar setiap tahun baru Islam. Atau pada 1-10 Muharram. Festival Tabot atau Festival Tabut adalah refleksi dari peristiwa yang menimpa Hasan Hussein, cucu Nabi Muhammad. Karenanya, Festival Tabut sering disebut sebagai penghormatan.

Menurut sejarah, pada tahun 61 dalam Kalender Islam, dalam perjalanannya ke Irak, Hussein disergap oleh pasukan Ubaidillan Bin Ziyad. Pertempuran sengit terjadi di padang pasir Karbala, tempat Hussein akhirnya terbunuh.

“Ritual Tabot sendiri sudah sangat tua. Diyakini ritual Tabot pertama kali dipentaskan di Bengkulu pada 1685. Ritual itu diturunkan dari generasi ke generasi oleh, apa yang kemudian dikenal sebagai, Komunitas Keluarga Tabot,” papar Rizki.

Ada satu hal berbeda dari Festival Tabut tahun ini. Yaitu hadirnya Tabut Fest Coffee Corner. Kegiatan ini dibuat untuk mempopulerkan produk unggulan kopi Bengkulu.

Buat Menteri Pariwisata Arief Yahya, Festival Tabut menjadi contoh yang baik dalam pelaksanaan sebuah event. Karena bisa menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Banyak yang bertanya, bagaimana caranya sebuah event bisa masuk dalam Calendar of Event Kementerian Pariwisata. Buat saya, sebuah event harus memenuhi aspek minimal. Seperti memiliki commercial value, crative value dan economic value. Dan tentunya harus event yang sustain. Festival Tabut sudah memenuhi itu. Event ini sustain karena sudah bertahun-tahun dilaksanakan. Dan dalam setiap pelaksanaannya, selalu ditunggu masyarakat. Karena ada economic value di dalamnya,” papar mantan Dirut PT Telkom itu.(***)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *