Ratusan hektare Sawah di Malaka Terendam Banjir, Kementan Ingatkan Pentingnya AUTP

71 0

Kupang – Kementerian Pertanian kembali mengingatkan para petani mengenai pentingnya Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Terlebih, saat ratusan hektare sawah di Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, NTT, di rusak berat akibat banjir bandang, Minggu (24/5/2020). Para petani terancam gagal panen.

Banjir bandang di Malaka Tengah, terjadi karena hujan deras dengan intensitas besar. Akibatnya, sejumlah desa terendam, yaitu Desa Fahiluka di Kecamatan Malaka Tengah, juga Desa Halibasar, Desa Rabasa, Desa Naikan, dan Desa Wehali.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan petani harus mengantisipasi kondisi seperti ini dengan memanfaatkan AUTP.

“Pertanian memang sektor menjanjikan yang memiliki banyak usaha. Tapi pertanian juga sangat rentan dengan masalah yang bisa menyebabkan gagal panen, seperti perubahan iklim, kekeringan, termasuk banjir yang terjadi di Malaka. Kita prihatin, tapi kondisi seperti ini sebenarnya bisa di-cover AUTP, sehingga kerugian yang diderita petani bisa ditekan,” papar Menteri SYL.

Sementara Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian Sarwo Edhy, menjelaskan jika sasaran penyelenggaraan AUTP adalah terlindunginya petani. Petani akan memperoleh ganti rugi jika mengalami gagal panen.

“Berdasarkan ketentuan dalam polis, klaim akan diperoleh jika intensitas kerusakan mencapai 75% berdasarkan luas petak alami tanaman padi. Pembayaran klaim untuk luas lahan satu hektare sebesar enam juta rupiah,” terangnya.

Untuk itu, Sarwo Edhy mengingatkan para petani agar memanfaatkan fasilitas yang diberikan pemerintah ini. Menurutnya, petani hanya harus bergabung ke kelompok tani dan mendapatkan informasi dari sana.

“Petani harus pahami manfaat dari AUTP, agar mereka bisa terhindar dari kondisi seperti ini,” katanya.

Salah seorang warga Desa Kamanasa, Kecamatan Malaka Tengah, Joko, mengaku sejumlah hasil pertanian milik warga rusak akibat terendam air hujan. “Beberapa hektare sawah terendam air banjir,” katanya.

Kondisi serupa disampaikan pemilik lahan tambak ikan di wilayah Aintasi, Malaka Tengah, Wilem Bere. Menurutnya, sejumlah lahan tambak ikan milik warga hancur akibat banjir. “Kita mau hadapi corona atau banjir. Sungguh ini situasi yang sulit,” katanya.

Berdasarkan hasil pantauan Bupati Malaka Stefanus Bria Seran di di Sungai Motadelek, diketahui jika akses normalisasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah bocor dibeberapa titik. Diantaranya, Desa Halibasar dan Desa Rabasa Kecamatan Wewiku.(***)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *