Restorasi dan Pemetaan Potensi Desa Wisata Danau Toba Digulirkan Kemenparekraf/Baparekraf

121 0

TOBA – Skenario restorasi hingga pemetaan potensi desa wisata di Destinasi Super Prioritas Danau Toba digulirkan Kemenparekraf/Baparekraf. Eksplorasi ini sebagai bentuk tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Pengembangan Desa Wisata Danau Toba, 27-28 Agustus 2020. Road shownya dilakukan pada 3 desa wisata di Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Sabtu (29/8). Komposisi statusnya, 1 desa wisata berkembang dan 2 lainnya masih rintisan.

Rangkaian Rapat Koordinasi Pengembangan Desa Wisata Danau Toba di Simalungun dan Toba sudah selesai. Sebagai penutupnya, tim Direktorat Pengembangan Destinasi Regional I melakukan kunjungan ke Desa Wisata Lumban Bulbul, Balige, hingga Lintong Nihuta dan Tarabunga yang ada di Tampahan. Konsepnya, audiensi dengan Pokdarwis dan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif plus stakeholder terkait di Desa Wisata .

“Desa Wisata Lumban Bulbul memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Namun, elemen masyarakat di sini harus menyatukan visi. Memiliki kesamaan pemahaman terkait terkait destinasi. Beragam sengketa yang ada dihentikan. Problem kelembagaan dan koordinasi diperbaiki. Destinasi ini membutuhkan penataan ulang secara menyeluruh, terutama fisiknya,” ungkap Camat Balige Pantun Josua Pardede.

Desa Wisata Lumban Bulbul mempesona dengan Pantai Lumban Bulbul yang memiliki garis pantai sepanjang 860 Meter. Destinasi ini memiliki beragam konten atraksi menarik, diantaranya boat, kayak, dan berenang. Dengan potensi besarnya, spot ini menjadi akses ekonomi bagi masyarakat setempat. Rinciannya, ada 57 pedagang warung makan, 9 kios souvenir, 20 pemilik boat, 15 penyedia ban air, dan 30 pedagang keliling.

“Desa Wisata Bulbul dengan pantainya luar biasa. Kompetitif dan menjanjikan sebagai akses ekonomi bagi masyarakat. Dengan profil bagus, idealnya masalah internal yang muncul bisa diatasi. Penataan ulang kawasan harus dilakukan secepatnya agar wisatawan maksimal menikmati eksotisnya view Danau Toba,” terang Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Hari Santosa Sungkari.

Sisi lainnya, Desa Wisata Lumban Bulbul ditopang Sanggar Naposo Lumban Bulbul. Didominasi kaum milenial, sanggar ini mengembangkan banyak tari Tor Tor, termasuk Tor Tor Modren dengan genre kekinian. Ada juga seni musik dengan alat tradisional Tagading. Untuk kuliner khasnya, ditawarkan Nila Bakar Rasa Andaliman dan Sasagon Toba. Jumah homestay ada 19 unit dan akan ditambah lagi 20 unit.

Dengan profil menjanjikan, Desa Wisata Bulbul khususnya garis pantainya dikunjungi banyak wisatawan. Setelah diaktivasi kembali dari vakum lantaran terdampak Covid-19, destinasi ini rata-rata dikunjungi 1.000 wisatawan per hari sepanjang Juli 2020. Pada hari libur, angkanya meledak hingga 5.000 wisatawan. Pada hari normal sebelum Covid-19, arus wisatawan rata-rata mencapai 2.500 per hari lalu di hari libur minimal 5.000 orang.

“Destinasi Super Prioritas memiliki pasar wisatawan yang kuat. Buktinya, pergerakan wisatawan di sana tetap kompetitif di masa transisi New Normal ini. Positifnya pergerakan wisatawan akan memicu impact positif secara ekonomi. Masyarakat berpotensi semakin besar mengakses pendapatannya kembali,” jelas Direktur Pengembangan Destinasi Regional I Oni Yulfian.

Setelah Bulbul, audiensi dilakukan dengan Pokdarwis dan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif Desa Wisata Lintong Nihuta, Tampahan, Toba. Desa wisata ini memiliki potensi alam luar biasa dengan Pantai Pakkodian, Bukit Singgolom, Bukit Palihutu, Dolok Tolong dan area persawahan terasering. Destinasi ini juga didukung 1 homestay dan unitnya akan ditambah. Terus tumbuh, infrastruktur destinasi ini terus ditambah. Bukit Singgolom contohnya, sedang dibangun toilet bersih kelas premium internasional dan beragam fasilitas pendukung bagi wisatawan.

“Panataan ulang dan pembangunan infrastruktur mutlak diperlukan untuk menunjang kelayakan dari destinasi, khususnya desa wisata. Kalau semuanya bagus dan terjaga, wisatawan akan nyaman. Bila ini yang muncul, kami yakin pergerakan wisatawan akan terus tumbuh signifikan. Itu artinya bagus secara ekonomi,” tegas Koordinator Area I Pengembangan Destinasi Regional I Wijonarko.

Road show tim Direktorat Pengembangan Destinasi Regional I pun berakhir di Desa Wisata Tarabunga, Tampahan, Toba. Memiliki veiw eksotis Danau Toba, destinasi ini juga memiliki potensi Bukit Puncak Tarabunga, sawah terasering, Ulos, dan beragam hasil pertanian (pisang dan jeruk). Mengoptimalkan potensinya, infrastruktur spot ini juga disempurnakan seperti, pembangunan jalan utama, instalasi air, dan toilet kelas premium yang merupakan dukungan CSR Pertamina. Mereka juga meminta pelatihan dengan konten kuliner dan kerajinan tangan.

“Segala potensi dan permasalahan yang muncul di destinasi terus dipantau. Potensinya tentu didorong dan dikembangkan. Masalah yang muncul dicarikan penyelesaian. Untuk infrastruktur penunjang terus disempurnakan. Kami juga siap memberikan berbagai pelatihan untuk menaikkan kompetensi sumber daya manusia. Nanti dikoordinasikan dengan stakeholder terkait,” tutup Sub Koordiantor Area I A Pengembangan Destinasi Regional I Andhy Marpaung.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *