Sambut Era 4.0, Petani dan Penyuluh Diminta Manfaatkan Teknologi

19 0

LOMBOK TIMUR – Perubahan telah terjadi pada sektor pertanian. Seiring dengan kemajuan teknologi, pertanian kini sudah memasuki era 4.0. Oleh sebab itu, petani dan penyuluh diminta untuk turut memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan pertanian.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Badan Pengembangan dan Penyuluhan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi, saat Launching Model BPP Konstratani Kecamatan Sikur di BPP/UPTPP Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (21/10/2020).

Dedi meminta kepada penyuluh untuk memanfaatkan teknologi di era 4.0 untuk memajukan pertanian Indonesia. Salah satu orientasi yang perlu dicapai untuk memajukan pertanian Indonesia adalah peningkatan produktivitas hasil pertanian. Untuk itu, Dedi meminta kepada penyuluh agar memanfaatkan teknologi yang tengah berkembang pesat untuk mencari sumber informasi yang banyak bertebaran di dunia maya.

“Penyuluh harus jadi orang yang luar biasa. Inovasi teknologi 4.0 berkembang dengan cepat. Informasi bertebaran di sini. Manfaatkan hal itu untuk kemajuan pertanian Indonesia,” kata Dedi.

Ia mencontohkan pupuk kompos. Menurutnya, saat ini semua orang bisa belajar dengan memanfaatkan teknologi internet. Melalui saluran internet, segala informasi yang berkaitan dengan pupuk kompos itu telah tersedia. Bahkan kita bisa melihatnya secara visual seperti tersedia di platform Youtube.

“Sekarang belajar tak perlu jauh-jauh ke Jakarta, ke Bandung atau Bogor, cukup ke Kostratani saja yang sudah dilengkapi jaringan internet,” ujarnya.

Menurut dia, kemajuan pertanian Indonesia ditentukan oleh kebangkitan Sumber Daya Manusia (SDM) pertaniannya. SDM pertanian yang paling utama adalah petani dan penyuluh.

“Saya yakin kemajuan pertanian ditentukan oleh kebangkitan SDM petani dan penyuluh. Merekalah kunci pembangunan pertanian kita,” ucapnya.

Dedi menyebut penyuluh mempunyai tugas yang begitu besar untuk memberdayakan petani. Ia harus bisa mentransfer ilmu pengetahuan kepada petani, termasuk dalam hal bisnis pertanian pascapanen.

“Penyuluh punya tugas mentransfer inovasi teknologi, mentransfer informasi dan cara bagaimana berbisnis kepada petani. Sebab petani itu saat ini tak hanya menggarap sawah saja, tetapi juga harus memikirkan setelah panen. Bagaimana mengemas hasil panennya dan menjualnya,” ujar dia.

Wakil Bupati Lombok Timur, H Rumaksi SJ menegaskan dukungannya kepada Konstratani untuk semakin meningkatkan hasil produksi pertanian di wilayahnya. Dukungan itu tak main-main berupa pemasangan internet yang bisa dimanfaatkan Konstratani dalam menjalankan programnya.

“Tidak ada blank spot di Lombok Timur ini, semuanya sudah tersentuh internet. Jadi, salah satunya untuk mendukung Kostratani jaringan internet telah kita pasang di seluruh wilayah Lombok Timur, bahkan hingga ke pelosok-pelosok,” kata dia.

Rumaksi juga mengucapkan terima kasih kepada Kementan atas program yang telah diluncurkannya ini. Menurut dia, peningkatan kapasitas bagi petani dan penyuluh akan bermanfaat untuk memajukan sektor pertanian Indonesia, khususnya di kabupaten yang dipimpinnya.

“Ini akan sangat bermanfaat betul bagi kami. Selama ini kabupaten kami angka kemiskinannya terbanyak dibanding daerah lain. Begitu juga pengangguran yang merupakan angka terbanyak,” ungkapnya. Pada kesempatan itu Rumaksi memaparkan kondisi tak ideal penyuluh jika dibandingkan dengan luasan lahan di daerah pimpinannya.

“Tenaga penyuluhnya sangat kurang dibanding rasio luas areal sawah. Ini yang menjadi masalah kami di samping sarana dan prasarana bagi petugas PPL,” tuturnya.

Ia bercerita, ketika kali pertama dilantik langsung dihantam gempa bumi. “Kami tak menjalankan visi misi. Kami langsung menanggulangi gempa. Sampai kini korban masih ada yang belum direhabilitasi. Belum selesai gempa, saat ini datang Covid-19 yang membuat semakin terpuruk,” ujarnya.

Ia memaparkan kondisi pertanian di daerah yang dipimpinnya. Sebagai Ketua HKRI Lombok Timur, Rumaksi sadar betul jika Kecamatan Sembalun berpotensi besar sebagai pusat pengembangan pertanian.

“Itu sebabnya Kecamatan Sembalun ditetapkan sebagai sentra bibit bawang putih. Masalahnya adalah pascapanen. Harus ada yang ditunjuk untuk membeli hasil panen kami. Tahun ini panen bagus,” papar dia.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan, petani Indonesia harus mengikuti perkembangan teknologi di era 4.0.

“Petani Indonesia tidak boleh tertinggal karena banyak inovasi teknologi dan mekanisasi yang dibuat untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” kata Mentan SYL.

Mentan SYL menegaskan pentingnya optimalisasi sektor pertanian secara modern melalui pemanfaatan teknologi terkini dan kekuatan SDM yang unggul.

“Di era sekarang menanam tidak harus memakai cangkul, melainkan menggunakan robot konsaksion yang ada dengan program IT yang sudah bisa kamu kendalikan,” ungkapnya.

Menurutnya, ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, memperbaiki agenda intelektual dengan managemen kehidupan, dan berperilaku yang baik.

“Perilaku menjadi penting dalam proses menghadapi masa depan yang lebih baik. Dengan begitu, nantinya lulusan dari Polbangtan Medan tidak akan ada yang tidak berhasil,” katanya.

Kedua, generasi muda harus menguasai pertanian masa kini sesuai koridor yang modern dengan pemanfaatan sistem teknologi dan mekanisasi. Sistem ini sangat relevan, terlebih sekarang eranya revolusi industri 4.0, dimana seluruh perangkat yang ada sudah menggunakan artificial intelligence.

“Sebut saja salah satunya peluncuran AWR (Agriculture War Room) yang berfungsi memantau jalannya pembangunan pertanian nasional serta pengecekan cuaca sekaligus memantaunya di tiap daerah,” katanya.

Ketiga, pemanfaatan teknologi secara baik dan benar harus dilakukan dengan bekal ilmu dan intelektual. Sektor pertanian secara pasti telah menjanjikan kehidupan yang sejahtera.

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *