Strategi Bangkitkan Pariwisata DenganTravel Bubble Di Era New Normal

24 0

JAKARTA: Pariwisata menjadi salah satu yang sangat terpukul dengan adanya pandemi covid-19. Karena itu perlu strategi khusus untuk kembali membangkitkan pariwisata. Saat ini dunia, khususnya Asia mulai mengenalkan travel bubble di era pandemi. Travel bubble adalah sebuah perjalanan wisata yang diatur secara protokol kesehatan yang ketat.

Dalam koridor wisata ini, diantaranya diatur dalam sebuah paket wisata dimana wisatawan harus melakukan tes covid 19 terlebih dulu sebelum terbang, menggunakan travel agent yang rekomen, jadwal perjalanan dan tujuan destinasi yang sudah ditetapkan dan menjalankan protokol kesehatan dengan ketat selama berwisata.

Bicara travel bubble maka disitu ada bubble destination, bubble Island, bubble Village, bubble resort dan seterusnya. Menurut praktisi pariwisata dan mantan Ketua BPPD Provinsi NTB (2014 – 2016) Taufan Rahmadi bicara bubble destination maka lingkupnya adalah koridor perjalanan antar destinasi.

“Bubble destination adalah kebijakan yang diambil oleh pengelola destinasi di dalam menetapkan suatu daerah green zone menjadi daerah wisata yang aman untuk dikunjungi. Daerah yang aman untuk dikunjungi ini dalam arti masuk zona hijau dari pandemi,” kata Taufan. “Yang jadi koridor perjalanan antar destinasi ini adalah destinasi yang zona hijau atau aman,” tegas Taufan.

Dikatakan Taufan, di dalam bubble destination ini juga ditetapkan batasan maksimal dari wisatawan yang berkunjung dan bisa tinggal dengan dibarengi dengan pelaksanaan prokes yang ketat. Sehingga wisatawan yang ada di dalam bubble ini akan merasa aman dan nyaman di dalam berwisata.

“Jadi Bubble Destination ini bisa menjadi salah satu strategi penguatan branding destinasi wisata di era new normal ini,” ujar Taufan.

Selain Bubble Destination, ada juga Bubble Island. Bedanya Bubble island dengan Bubble Destination, kalau bubble destination menetapkan kebijakannya dalam lingkup destinasi, sedangkan bubble island penerapannya lebih kepada pulau-pulau yang selama ini menjadi favorit obyek wisata.

“Contohnya Pemprov NTB menetapkan Pulau Moyo dan 3 Gili sebagai Bubble Island. Maka pulau dengan prokes berwisata yg aman dan nyaman ini kemudian di munculkan sebagai produk wisata unggulan NTB, di marketingkan baik domestik ataupun mancanegara,” kata Taufan.

Dalam travel bubble atau koridor perjalanan yang paling ditekankan adalah cluster (kelompok) dan destinasi atau Island yang masuk green zone atau aman. Maka bubble destination, bubble resort, bubble village dan seterusnya menjadi penting.

“Bubble destination itu adalah pilihan pengelola destinasi kepada wisatawan. Sehingga wisatawan yang ingin berlibur terjamin rasa aman dan nyaman. Masalah nanti dia dalam perjalanannya itu ingin mencari destinasi lain, itu terpulang dari wisatawan itu sendiri dalam melihat destinasi tersebut aman atau tidak dan tetap dibarengi dengan protokol kesehatan yang ketat,” ujar Taufan.

Dikatakan Taufan jika Bubble Destination, Bubble Island, Bubble Village, Bubble Resort dan seterusnya sukses ditetapkan di Indonesia maka, tahapan selanjutnya adalah menuju Social Bubble.

“Apa itu Social Bubble ?, Social Bubble adalah kondisi dimana kita sudah bisa berlibur dengan orang-orang yang kita cintai dalam lingkaran sosial masyarakat, dengan para pejabat kesehatan yang telah memastikan bahwa semua orang dalam bubble zone ( destinasi ) tersebut telah divaksinasi, sehingga mereka (wisatawan) dapat berkumpul bersama tanpa masker,” kata Taufan menerangkan.(***)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *