Surfer Professional Turut Meriahkan Aceh Surfing Championship 2019

90 0

ACEH – Pantai Babah Kuala, Desa Mon Ikeun, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Aceh, kehadiran sejumlah surfer profesional. Mereka ambil bagian dalam kejuaraan Aceh Surfing Championship 2019, 23-24 November 2019.

Kegiatan ini dihadiri Ketua DPRD Aceh Dahlan Jamaludin, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Aceh, Djamaluddin, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Aceh Besar Ridwan Jamil, juga, Komandan Lanal Banda Aceh, Kepala Basarnas Banda Aceh, dan Forkompinda Kabupaten Aceh Besar.

Dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenpaekraf), hadir Sekretaris Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Ratna Suranti, sekaligus mewakili Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional I.

Sedangkan surfer profesional yang ambil bagian antara lain Dede Suryana, Dhany Widianto, I Made Darma Yasa (Bleronk), I Wayan Darma Putra (Tonjo), I Ketut Yoga Semadhi, I Nyoman Mega Artana, Roni dan Doni Safriadi.

Menurut Sekretaris Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Ratna Suranti, ASC 2019 bermula dari kejuaraan selancar ombak tingkat lokal dan sudah dilaksanakan sejak tahun 2006.

“Pada tahun 2019 ini, pelaksanaan Aceh Surfing Championship 2019 didukung penuh oleh Provinsi Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia,” papar Ratna.

Potensi ombak di pantai Babah Kuala yang berpasir putih ini, sudah dikenal oleh banyak peselancar dunia. Seperti dari Australia, Perancis, Jepang bahkan Amerika Serikat.

“Banyak yang sudah hadir di Lhoknga untuk menjajal keganasan ombak Pantai Babah Kuala. Ombaknya diakui termasuk sebagai salah satu lokasi selancar ombak terbaik dunia, karena pantai-pantai tersebut berhadapan langsung dengan Samudera Hindia,” tutur Ratna.

Dijelaskannya, peselancar dapat menikmati ombak kiri dan ombak kanan yang tingginya mencapai hingga 6 – 7 kaki/feet. Atau setara 1,5 hingga 2 meter. Ada juga barrel (terowongan ombak) yang cukup panjang. Pantai Babah Kuala memiliki 2 point break yang berbeda, yaitu beach break pada bulan Juni – November, di musim angin barat, serta reef break pada bulan Desember-Mei, di musim angin timur.

“Besarnya potensi ombak Pantai Babah Kuala untuk berselancar, dapat dibuktikan dari pencarian informasi melalu Google. Nama-nama lokasi/pantai seperti Lhoknga atau Lampuuk di Kabupaten Aceh Besar, sudah sangat fasih disebut oleh para peselancar ombak dunia,” terang Ratna lagi.

Aceh Surfing Championship 2019 sendiri mengusung tema “Explore The Waves and Enjoy The Culture”. Menurut Asisten Deputi Pemasaran I Regional I Kemenparekraf Dessy Ruhati, tema tersebut diartikan sebagai ajakan untuk menantang ombak sambil menikmati pesona budaya Aceh.

“Ajakan tersebut sangat mengena sebagai upaya promosi. Baik promosi untuk ASC 2019 maupun promosi untuk dapat sekaligus menikmati penampilan tarian Likok Pulo dan masakan Kuah Beulangong yang menjadi ciri khas Aceh. Langkah promosi inilah yang jelas dilakukan untuk memperkuat branding “Wonderful Indonesia” dan tentu saja “The Light of Aceh”,” terang Dessy Ruhati.

Pelaksanaan ASC 2019 dibagi dalam dua sesi. Sabtu, 23 November 2019, dilakukan aksi Bersih Pantai. Kemudian dirangkai Pembukaan ASC 2019. Sejumlah atraksi budaya ditampilkan. Seperti Upacara adat Peusijuk, Penampilan Tari Likok Pulo. Di hari pertama ini, digelar Rangkaian Kejuaraan ASC 2019 dan beach game.

Sedangkan Minggu, 24 November 2019, giliran Tarian adat Saman yang dihadirkan sebelum Final ASC 2019.

“Dari pelaksanaan ASC 2019, diketahui bahwa ternyata Kabupaten Aceh Besar terdapat kekayaan alam dan budaya yang sudah berkelas dunia. Hampir seluruh website selancar ombak dunia telah mencantumkan informasi detail tentang kondisi ombak, angin, waktu terbaik untuk berkunjung dan berselancar ombak. Bahkan tersedia juga informasi tentang akomodasi di pantai Lhoknga dan Lampuuk yang masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar,” terang Dessy yang menilai dampak dari event ini sangat positif.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenparekraf Rizki Handayani, juga mengacungkan jempol untuk pelaksanaan event ini.

“Secara keseluruhan ASC 2019 telah sukses dilaksanakan. Hadirnya peselancar ombak profesional turut memberi gambaran adanya pengunjung yang tinggal, berlatih, dan mengikuti kejuaraan. Secara otomatis, Hal ini sudah turut serta menggerakkan roda perekonomian daerah atau Kabupaten tersebut,” papar Rizki.

Ia pun berharap pelaksanaan ASC 2019 bisa ditingkatkan menjadi kejuaraan selancar ombak tahunan tingkat internasional, sekaligus perlu dipromosikan terus ke seluruh dunia.

“ASC bisa memperkuat atraksi bahari dan sport tourism di Indonesia. Apalagi Kita juga memiliki banyak kejuaraan surfing kelas dunia,” harap Rizki.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *