Tari Selat Segara dan Puspawresti Tampil Memukau di Pembukaan Buleleng Bali Dive Festival 2019

156 0

BULELENG – Tari Selat Segara dan Tari Puspawresti yang dipersembahkan saat pembukaan Buleleng Bali Dive Festival 2019, Kamis 21 November 2019, di Sambirenteng, Tejakula, Buleleng, Bali, mampu memukau pengunjung. Terlebih, keduanya dibawakan secara unik dan menarik.

Pembukaan diawali dengan gala dinner. Nuansa budaya Bali langsung dimunculkan melalui Tetabuhan dari Desa Sembiran.

“Melalui pariwisata dengan basis alam dan budaya, Buleleng mengalami kemajuan pesat. Buleleng tetap memakai budaya sebagai basic pembentukan mental manusianya. Pariwisata di kawasan ini semakin pesat di masa mendatang, apalagi shortcut sudah selesai 2020. Tejakula dan Buleleng akan tetap menjadi destinasi utama para wisatawan,” ungkap Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana.

Dalam pembukaan, atraksi Tari Puspawresti mampu menarik perhatian wisatawan. Puspawresti berasal dari kata ‘Puspa’ yang berarti Bunga. Adapun ‘Wresti’ berarti Hujan. Tarian ini dibawakan 50 pelajar SMPN 2 Tejakula. Mereka tampil dengan gerakan gemulai sambil membawa bokor berisi bunga.

Para putri tersebut dikawal oleh penari putra yang memegang tombak. Tarian ini menjadi gambaran keramahan para milenial Buleleng. Dengan rasa hormat dan kekeluargaan, para milenial ini menyambut para pendatang dengan tangan terbuka.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenparekraf Muh. Ricky Fauziyani mengatakan, Buleleng sangat luar biasa.

“Buleleng Bali Dive Festival sangat artistik. Potensi besar Buleleng berupa wisata bahari dikombinasikan dengan kekuatan budaya. Semua latar belakang dilibatkan, termasuk kaum milenialnya. Dengan melibatkan milenial, budaya di sana akan lestari,” kata Ricky.

Tarian lain yang ditampilkan adalah Tari Selat Segara. Tari ini diciptakan 1997 oleh seniman Bali di Amerika Serikat (AS). Nama Selat diadopsi dari jarak Bali-AS yang dipisahkan oleh lautan yang luas. Kelahirannya didasarkan kepada Tari Rerejangan dan Pependetan yang biasa ditarikan di Pura dalam ritus upacara keagamaan.

“Seluruh konten yang disajikan sangat menarik. Semua memiliki kekuatan dan filosofi. Lebih penting, kehadiran menjadi magnet penarik kunjungan wisatawan ke Buleleng. Dengan branding kuat seperti ini, arus wisatawan akan tumbuh semakin signifikan di masa mendatang,” tutup Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenparekraf Rizki Handayani.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *