Training Dasar Fasilitasi Rantai Nilai IPDMIP Bisa Bantu Atasi Masalah Pertanian

464 0

SULAWESI TENGAH – Pembangunan sektor pertanian memiliki sejumlah tantangan. Namun permasalah yang ada bisa diatasi dengan Training Dasar Fasilitasi Rantai Nilai IPDMIP. Kegiatan ini dilakukan di Sulawesi Tengah 11 – 14 November 2020. Training merupakan angkatan ke III dari IV angkatan yang direncanakan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah Trie Iriany Lamakampali, mengatakan peran sektor pertanian harus dihayati dengan baik sebagai petugas di tingkat lapangan.

“Sehingga sektor pertanian tetap bisa menjaga pertumbuhan ekonomi dengan baik di tengah pandemi Covid 19,” tuturnya.

Trie Iriany menambahkan, masih banyak kendala yang dihadapi dalam pengembangan pembangunan pertanian. Salah satunya, kendala hasil penelitian atau tehnologi yang ada belum bisa secara maksimal diadopsi oleh petani.

“Selain itu, informasi tentang pasar yang belum sepenuhnya bisa diakses oleh petani. Sehingga, berakibat pada pendapatan petani yang masih rendah. Saat ini nilai tukar petani gabungan di Sulawesi Tengah hanya sebesar 98-99 per tahun. Dengan Training Dasar Fasilitasi Rantai Nilai, kita buka pemahaman petani. Kita ajak mereka mengetahui pentingnya memahami rantai nilai,” katanya.

Menurut Trie Iriany, penyuluh harus dapat mengoptimalkan Kostratani sebagai upaya memperbaiki kondisi pertanian saat ini.

“PPL juga diharapkan bisa meningatkan kelembagaan kelompok tani yang ada agar menjadi semakin kuat dan bisa sampai menjadi kelompok koperasi,” ujarnya.

Berkaitan dengan pelatihan rantai nilai, Kepala Dinas berharap penyuluh dapat menigkat pengetahuannya tentang materi yang ada.

Training Dasar Fasilitasi Rantai Nilai dilaksanakan oleh PPIU Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah. Pemateri berasal dari NPIU, PPIU, Konsultan, BPTP dan Akademisi dari Universitas Tadulako dan Widyaiswara. Kegiatan pelatihan berlangsung dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, penugasan dan praktek lapangan.

Peserta training sebanyak 30 orang penyuluh yang berasal dari 3 Kabupaten, yaitu Banggai 12 orang, Poso 10 orang, Toli-Toli 8 orang.

Ketua Panitia kegiatan melaporkan, kegiatan ini dibiayai oleh Dana IPDMIP yang tertuang dalam AWPB 2020. Menurutnya tujuan kegiatan ini adalah menyiapkan tenaga lapangan dalam bidang rantai nilai yang berkualitas sehingga dapat melaksanakan kegiatan rantai nilai bagi petani di daerah irigasi.

Narasumber Imam Wahyudi mengatakan, saat ini peran gender dalam rantai produksi dalam sektor pertanian sering kali belum diperhatikan.

Hal ini berdampak pada banyak hal, seperti kurang tepatnya target penerima manfaat dari program peningkatan produksi, hilangnya kesempatan bisnis, pengelolaan usaha yang kurang efektif, hingga rendahnya kesejahteraan produsen (petani).

“Agar kinerja rantai nilai lebih efektif dan bermanfaat bagi perempuan dan laki-laki, perspektif gender sangat diperlukan dalam merancang program-program pengembangan bisnisnya. Saat ini masih ada stigma bahwa perempuan juga tak dianggap sebagai petani karena dinilai hanya membantu suami padahal perempuan banyak mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan tehnis budidaya,” ujarnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengatakan petani harus mengerti mengenai Rantai Nilai.

“Saat ini petani bukan hanya dituntut untuk sekadar bisa menanam, atau bercocok tanam saja. Petani juga harus mengerti bagaimana cara mengelola keuangan, mengerti mengenai rantai nilai. Semua bisa didapat dari proyek IPDMIP. Kita berharap ke depan Indonesia memiliki petani yang benar-benar berkualitas,” katanya.

Hal serupa disampaikan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo.“SDM pertanian Indonesia harus terus ditingkatkan. Baik kemampuan, pengetahuan, keterampilan, skill dan lainnya. Apalagi, saat ini pertanian mejadi sektor yang diandalkan untuk menghadapi pandemi Covid-19,” katanya.(NS/EZ)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *