Wamenlu: Krisis Global Ciptakan Banyak Peluang Bagi Indonesia

33 0

JAKARTA – Krisis global karena impact politik dan Covid-19 justru menjadi peluang kompetitif baru. Apalagi, Indonesia berpengalaman di dalam membalikan sebuah momentum negatif krisis. Pemerintah juga memilik strategi khusus dalam memainkan peranannya di kawasan terdekat. Dimensinya mengacu kepada geopolitik juga geoekonomi.

Sikap optimisme yang terukur tersebut terkuak dalam Virtual Public Lecture milik Indonesia Millenial & Generasi Z (I’M Gen Z), Rabu (17/6), pukul 13.30 WIB. Menghadirkan Wamenlu Mahendra Siregar, tema besarnya adalah Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Pasca Pandemi Covid-19. Momentum tersebut mampu menarik sedikitnya 140 peserta, termasuk warga negara Indonesia dari 13 negara.

“Krisis selalu memunculkan sebah peluang yang sangat bagus. Serupa dengan krisis global sekarang ini yang dimulai dari perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat. Kondisi ini semakin diakselerasi pandemi Covid-19. Tapi, Indonesia selalu membalikan krisis menjadi reformasi untuk sebuah peluang,” ungkap Wamenlu Mahendra Siregar, Rabu (17/6).

Indonesia memang memiliki catatan bisa keluar dari jerat krisis pada 1997/1998. Diawali moneter, lalu krisis berkembang multidimensional bahkan mengarah kepada disintegrasi bangsa. Namun, Indonesia nyatanya bisa membalikan momentum dengan mengubah problem menjadi sebuah peluang. Memberi manfaat secara ekonomi hingga merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

“Krisis waktu itu sebenarnya sangat parah. Masalahnya sangat kompleks karena bukan sekedar urusan ekonomi saja. Dengan DNA yang dimilikinya, Indonesia bisa membalikan momentum. Kami sangatlah yakin kalau Indonesia juga bisa melakukan hal sama saat ini. Sebab, semua negara sedang dihadapkan pada masalah serupa,” terang Mahendra.

Ekonomi dunia memang sedang rontok karena terkena kebijakan lockdown pandemi Covid-19. Imbas besarnya, dunia mengalami resesi ekonomi hingga 6%. Pada kondisi normal, angka tersebut berada di level 3%. Masyarakat dunia dihadapkan kepada risiko besar pemutusan hubungan kerja (PHK). Dunia pun kembali dihadapkan pada problem kemiskinan yang lebih besar.

Secara riil, perdagangan dunia turun 25% hingga 30%. Aktivitas transaksi melalui ekspor-impor sangat minim. Hal tersebut sekarang dirasakan langsung oleh Indonesia. Sepanjang Mei 2020, nilai ekspor pun berada pada angka USD10,53 Miliar. Turun sekitar 13,4% dari April 2020. Realisasi tersebut terkoreksi sangat tajam hingga 28,95% apabila dikomparasi dengan Mei 2019.

“Covid-19 membuat ekonomi anjlok. Ada risiko besar di situ. Sebuah negara sekarang tidak bisa lagi bertumpu pada 1 negara saja. Harus ada kemandirian. Diperlukan pendekatan bilateral dan lateral guna mewujudkan kemandirian bahan baku yang terintegrasi industri,” kata Mahendra.

Untuk mewujudkan kemandirian ekonomi tetap dibutuhkan penguatan politik. Lalu, bagaimana sikap politik Indonesia secara riil sekarang ini? Mahendra juga menambahkan, politik Indonesia tetap bebas dan aktif. Artinya, Indonesia tidak bergabung dengan aliansi manapun. Hanya saja, prioritas diberikan kepada kawasan terdekat. Pengembangan sayapnya melebar menuju Indopasifik.

“Indonesia tidak bergabung dengan aliansi besar manapun di dunia. Semua negara dirangkul. Sebab, ini untuk mendorong perdamaian dunia. Semua berharap ada perdamaian di kawasan terdekat. Banyaknya kasus yang muncul di Laut China Selatan jadi fokus karena menyeret Natuna. Tidak ada kompromi soal Natuna. Kami juga fokus ke Indopasifik dalam konteks damai dan berorientasi pembangunan,” lanjut Mahendra.(***)

Related Post

DPD Fokus Dua RUU di 2020

Posted by - 23 Desember 2019 0
JAKARTA – DPD RI bakal fokus terhadap dua Rancangan Undang-Undang (RUU) pada 2020 mendatang. Pertama, regulasi tentang bahasa dan yang…

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *