Wayang Ajen Diversity Kolaborasikan Pertunjukan Seni Nusantara di HUT Ke-60 TVRI dan HUT Ke-77 RI

252 0

JAKARTA – Wayang Ajen Diversity memberikan maha karya pertunjukan seni dan budaya nusantara dalam rangkaian HUT ke-60 TVRI dan HUT ke-77 RI.

Menurut kreator Wayang Ajen, Dr. Wawan Gunawan S.Sn. MM, Wayang Ajen mengedepankan Inovasi, Adaptasi, dan Kolaborasi dalam balutan kesatuan pertunjukan beragam unsur seni yang saling melengkapi menjadi kesatuan perform yang utuh dan harmonis yang merupakan implementasi simbol keberagaman budaya Nusantara.

“Wayang Ajen merupakan wayang kontemporer yang inspirasinya bersumber dari Wayang Golek dan Ragam Wayang lainnya. Ajen sendiri berarti nilai, yang menghargai nilai-nilai kearifan lokal atau local wisdom yang digali dan ditafsir secara kreatif. Disajikan dengan kreativitas artistik bergandeng dengan teknologi. Fleksibel dalam Ruang Waktu Peristiwa, mengabdi untuk negeri melalui Seni Budaya di kancah nasional dan internasional,” kata Wawan yang dikenal sebagai Ki Dalang Wawan Ajen.

Wakil Penanggung Jawab Program TVRI Nasional, Barno Tiar, mengatakan pertunjukan Wayang Ajen Diversity didukung sekitar 100 seniman dari berbagai unsur seni, mempertunjukan empat lakon dengan tema yang berbeda, yaitu Gatot Kaca Sabda Parwa, Suluk Jabaninglangit, Tembang Perkasa Putra Bima, dan Kidung Ruwatan Sudamala.

Pementasan ini dikolaborasikan dengan Gamelan Wayang Ajen, Gamelan Bali, musik Dermayon, Musik Betawi dan Perkusi dibalut dengan harmonis berkolaborasi dengan berbagai Tarian yaitu Tari Topeng Cirebon oleh Ajen Campakararang Puteri Wisata Seni Indonesia Tahun 200, Tarian Pesona Nusantara by Wayang Ajen.

“Tari ini merupakan visualisasi inti keberagaman budaya dari Sabang sampai Merauke yang dipadukan secara harmonis dalam gerak dan musik yang dinamis. Lalu ada Tarian 7 Gunungan, Tarian Ronggeng Beken, Tarian Mojang Priangan, Tarian Gandrung, Tarian Mojang Berzikir, Tarian Sufi, Tarian Maung Lugay dan Tarian Kekembang Yuda,” kata Barno.

Selain tarian, ditampilkan juga Bintang Tamu Rita Tila, Yanti Puja, Ria Talenta dan Antika WG.

“Lalu menampilkan Parade Kostum Karnaval dari Wayang Ajen dan Selud Balad WGA. Pelawak Betawi Udin Bahrudin dan Minda Harjadinata,” ujar Barno Tiar didampingi pengarah acara Mino Mardi Wijono.

Pertunjukan Wayang Ajen Diversity digagas Dr.Wawan Gunawan sebagai Dalang Utama, Penulis Naskah dan Sutradara. Lalu pada Penulis Naskah dan Pengantar Pertunjukan oleh Prof. Dr. Arthur S. Nalan S.Sen., M.Hum. Penata Musik Dr. Asep Ganjar Wiresna S.Sn., M.Sn. Tim Kreatif Herjun Nugroho Sutantyo, Fakhri Luthfirrahman, Penata Tari, Dini Gunawan S.Sn. Penata Suara, Abuy, dan penata cahaya Deray.

Kamis (18/8/2022), pukul 22.30 WIB, pertunjukan ini tayang dengan lakon Gatot Kaca Sabda Parwa. Menceritakan tentang Ksatria yang tugasnya mengabdi. Sejak kecil Jabang Tutuka teruji dalam tekad ucap dan lampahnya. Ksatria Pringgadani pewaris ilmu kanuragan dan kalinuwihan menjadi benteng Amarta Tanpa mengeluh dan bermanja, Ketika waktunya tiba Berperang di medan laga. Dia sadar waktunya tiba Maut menjemput disambut dengan senyuman, bertemu dengan keilahian Ksatria itu menjadi kenangan abadi Gatotkaca Sabda Parwa sebagai ksatria sejati.

Jumat (19/8/2022) pukul 22.30 WIB, diangkat lakon Suluk Jabaning Langit. Menceritakan tentang hidup manusia sudah digariskan Tuhan, tinggal memilih di jalan yang diridhoinya atau dijalan yang dilarangnya. Salah satu jalan adakah tarekat artinya jalan yang menuju ketasawufan, Untuk kesucian jiwa, Menuju nur cahaya dalam nur Muhammad, Bermanfaat bagi sesama Mahluk Allah SWT. Suluk jabaning langit Menjangkau hening dan wening di tengah malam Ketika orang-orang tengah tidur Suluk Jabaning langit Terbang batin terbang suci.

Kamis (26/8/2022) pukul 22.30 WIB, yang ditayangkan adalah lakon Tembang Perkasa Putra Bima. Menceritakan Jentera kehidupan berputar. Menemukan jati diri manusia yang belajar. Belajar nilai nilai moral. Moral dari para ksatria putra pandawa. Berguru pada para pamongmong. Tekad ucap dan tindakan Satu kibaran panji. Ketika ada Tahaguan (tantangan, hambatan dan gangguan) selalu siap menghadapi dengan Jiwa perkasa hati suci Gatotkaca. Anterja. Jakatawang berjibaku. Bahu membahu. Melawan segala kekacauan yang melanda amarta silih berganti. Yang awalnya dari mimpi buruk Bima.

19 Agustus 2022 pukul 22.30 WIB, lakon yang ditampilkan adalah Kidung Ruwatan Sudamala. Menceritakan Ruwatan sebuah warisan. Refleksinya berupa kesadaran yang jahat bisa kembali baik, Yang sasar bisa kembali sadar. Durga merasa diri paling sakti tapi dapat disadarkan oleh ksatria Pandawa Sadewa. Atas petunjuk Semar, Satria itu berhasil meruwat Durga Ra Nini menjadi Umayi kembali Cantik dalam cahaya ruwatan hatinya, Yang tulus ikhlas dalam pengabdiannya. Sadewa mendapatkan tambahan anugerah Menjadi ahli obat, Sadewa bergelar Sudamala adalah petaka yang telah berakhir yang mendapat wahyu katengtreman sebagai wujud kemuliaan.

Pertunjukan Wayang Ajen Diversity mendapat apresiasi dari pentahelix di berbagai daerah di Indonesia.

Seperti Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor Papua, Turbey O Dangeubun, yang juga pemerhati budaya Papua.

“Wayang salah satu legacy leluhur yang sarat makna, melahirkan bentuk komunikasi, informasi, edukasi yang teradvokasi secara istimewa. Istimewa karena disampaikan melalui media terbaik dari kekayaan budaya Indonesia,” katanya.

Menurutnya, di kondisi kekinian Wayang telah membangun platform baru, rekacipta perspektif bahwa warisan budaya kita selalu dinamis, akomodatif dan tidak lekang oleh waktu serta dapat menjadi atau dijadikan sebagai pengingat, panduan dan kontrol bagi kita untuk selalu mencari dan memberikan yang terbaik bagi kemaslahatan masyarakat dan bangsa Indonesia.

“Wayang juga memberi tanda bahwa keragaman budaya kita mampu dan terakses serta dapat dipahami/bermanfaat bagi semua suku di Indonesia, kami di Papua sungguh dapat merasakan sarat dan kaya makna yang tersampaikan lewat gelaran Wayang Ajen Diversity,” ujarnya.

“Kami berharap dalam keyakinan sungguh bahwa gelaran Wayang Ajen dan semua maha karya dari negeri kita tercinta masih dibutuhkan untuk terus mengawal keistimewaan Indonesia.Sudah saatnya maha karya Indonesia ini dimuliakan dalam pembangunan SDM. Mari Menguatkan Budaya, Membingkai Pesona.Salam Hormat dan Salut kepada Bapak Wawan Gunawan alias Ki Dalang Wawan Ajen yang terus menjadi saluran bagi revitalisasi Maha Karya Indonesia.Wayang Ajen untuk Indonesia Kaya.Indonesia Jaya.dan Indonesia Bermartabat,” tutur Turbey O Dangeubun.

Apresiasi juga disampaikan Ojang Cahyadi, S.Sn.P.Pd, koordinator Program Studi Pendidikan Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

“Seperti diungkapkan Ki Dalang Wawan Ajen subtansi wayang ajen adalah ke-Indonesia-an, ke Islam-an dan ke-Ilmu-an yang pada titik integrasi budaya di tengah arus besar transformasi, akan mampu menjadi bagian dari lokomotif perubahan menuju peradaban baru, yakni peradaban konseptual, serta Peradaban digital,” ujarnya.

Dari situ, muncul istilah seni konseptual adalah ketika seni lebih pada pada pengertian konsep. Konsep atau konseptual berasal dari bahasa Latin “conseptus” yang berarti gagasan, pikiran atau ide. Dengan demikian seni konseptual lebih menekankan pada gagasan atau ide seninya, dari pada perupaan karyanya.

“Lalu ketika Wawan Ajen menciptakan dan membuat wujud baru dalam pergelaran wayang golek sunda, apakah ide atau gagasan dari karya itu? Betulkah Wawan Ajen sebatas “merekam” sebuah pertunjukan saja, atau ada gagasan lain? Pertanyaan mendasar tersebut secara gamblang tersaji dalam gelaran pertunjukan bertajuk Diversity di TVRI ke 60 Tahun bersama Wayang Ajen,” ujarnya.

Menurutnya, Wayang Ajen Diversity adalah sebuah pergelaran kolosal yang sarat sajian pertunjukan kesenian wayang golek dengan memadukan beberapa unsur seni pertunjukan yang terkonsep, terencana, dan akhirnya terwujud dalam sebuah sajian seni pertunjukan spektakuler.

“Saya mencoba memaknai sebagai suatu upaya konkret, memberikan ajang sekaligus jalan bagi seniman menjadi salah satu simpul penting dalam proses transformasi budaya Indonesia. Selamat Ki Dalang Wawan Ajen, anda adalah reformis budaya sejati yang berani melawan arus rutinitas jaman, serta mampu mendudukan nilai-nilai tradisi sunda menjadi lebih bermartabat. Wilujeng,” Ungkap Ojang.

Asep Wadi, M,Sn guru seni budaya sekaligus Seniman dalang tinggal di Karawang, Jawa Barat, menilai Wayang Ajen hadir dengan mengemas ulang sebuah pagelaran wayang golek, baik dari segi alur cerita maupun musiknya.

“Yang didalamnya selalu menyelipkan unsur budaya, unsur religi, dan hal yang bersifat futuristik. Wayang Ajen pun benar-benar mengemas wayang golek sunda menjadi sebuah tontonan maupun tuntunan yang selalu up to date terhadap perkembangan zaman,” nilainya.

Asep Kusmana, M,Sn. Pendidik di SMA 1 Subang dan sebagai seniman dan pemerhati kesenian di Subang Jawa Barat, mengatakan menyaksikan pertunjukan Wayang Ajen di layar kaca TVRI, seperti melihat Indonesia yang menakjubkan.

“Sajian pertunjukan Wayangnya, berserta ragam gerak estetikanya senantiasa beradu harmonis bersama musik, lagu dan bahasa rupa yang megah secara visual, ini indah, ini menyenangkan, sekaligus juga mampu membuka ruang imajinasi dan memperkuat literasi nilai-nilai kultural kebangsaan kita yang beragam,” katanya.

Ia memberikan apresiasi yang tinggi, untuk Ki Dalang Wawan Ajen, yang telah berhasil ‘Ngaropea Wayang’ melampaui jamannya.

“Sebagai pendidik saya berharap kepada para stakeholder Bidang Pendidikan, agar Pertunjukan Wayang Ajen ini kemudian bisa menjadi konten apresiasi budaya, khususnya bagi kaum Zelenial yang rentan tercerabut dari akar kebudayaan lokalnya,” kata Asep Kusmana.

Kay Karsila, SE, seniman tinggal di Kota Bekasi, menjelaskan jika TVRI satu satunya Stasiun Televisi milik Rakyat Indonesia sangat pantas dan Wajib mengangkat Budaya Bangsa.

“Apalagi Wayang Ajen yang wawasan akademisi dalangnya Ki Dalang DR.Wawan Gunawan, S.Sn sudah mendunia, Kreativitasnya sudah tidak diragukan lagi oleh Penikmat Seni dan kreator seni lainnya. Bravo TVRI Sering seringlah menampilkan Pesona Nusantara yg tak akan hilang ditelan Zaman,” ujarnya.

Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, sangat mengapresiasi pertunjukan Wayang Ajen Diversity di TVRI.

“Saya selalu kagum dengan inovasi-inovasi pelestarian sejarah dan budaya dengan cara-cara yang kreatif dan kekinian. Yang dilakukan Wayang Ajen menjadi begitu menarik karena mengkombinasikan seni wayang golek sunda dengan memanfaatkan berbagai media seni serta multimedia dan teknologi. Ini pasti akan menjadi magnet tersendiri para generasi millenials dan gen Z untuk mencintai kembali budaya leluhur mereka,” katanya.

Eko Satrya, Ketua Masyarakat Sadar Wisata (MASATA), bahkan menggelar nobar pertunjukan Wayang Ajen Diversity bersama masyarakat dan Paguyuban Wargi Sunda Bontang di Auditorium Graha Pemuda Kantor Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kota Bontang.

“Kota Bontang menyimak karya-karya Ki Dalang Wawan Ajen yg fenomenal, seru dan sangat menginspirasi komandan jossss, Keren dan salut luar biasa pertunjukan wayang ajen diversity di TVRI sangat menarik dan atraktif sekali. Ditengah kesibukan ki dalang sebagai Direktur di Kemenparekraf masih sempat berkarya seni yang membumi dengan konsep yang sangat inovatif, adaptif dan kolaboratif. Ini pertunjukan super Keren,” ujar Eko Satrya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buton, Laode Haerudian, mengatakan dalam sajian pertunjukan Wayang Ajen Kata-kata berbahasa Indonesia sangat puitis, ini sangat menarik. Seperti kata-kata, merah darah menyelimuti Langit Astina yang haus senjata, menikam langit dengan belati.

“Luar biasa, saya salut penyaksi maha karya wayang ajen. Selamat Pak sebagai sutradara. Luar biasa Pak. Sangat memukau dan terasa semangat persatuannya untuk Indonesia,” Komentar Laode.

Dharmayani HS, Dipl. PI, S.Ikom,MM. ketua Ivendo (Industri Event Indonesia) Jakarta menilai pertunjukan Wayang Ajen Diversity yang dipentaskan di HUT TVRI Nasional merupakan suatu maha karya anak bangsa.

“Dalang Wawan Ajen mampu menampilkan pagelaran wayang dipadukan dengan seni budaya lintas suku yang ditata sangat sempurna tanpa menghilangkan kekuatan wayang itu sendiri. Penampilan Wayang Ajen juga digarap secara kekinian sehingga dapat dinikmati lintas usia dan juga penuh dengan pesan-pesan moral,” ujarnya.

Menurutnya, Wayang Ajen juga mampu membuktikan sebagai media yang tepat untuk menyampaikan beberapa program pemerintah antara lain program promosi Pariwisata Indonesia dan lainnya.

“Selamat buat Ki Dalang Wawan, selamat buat Wayang Ajen Diversity, terus berkarya dan banyak melibatkan seni budaya lintas suku di Indonesia. Pertunjukan Wayang Ajen Diversity, untuk Produksi event sendiri penggarapan tata panggung, tata suara dan tata cahaya dikemas secara sempurna dan sangat profesional,” ujar Dharma.

Gambar Ardhika, Managing Director of GTA Projecte Jakarta, menggelar nobar di kantor bersama para staffnya dan memberikan doorprize.

“Pertunjukan luar biasa Wawan Ajen, dengan kesuksesan kolaborasi ini harapannya lebih banyak anak muda yang semakin paham dan sadar bahwa kesenian budaya di Indonesia tidak akan pernah hilang. Apalagi pertunjukan barusan di kemas sangat epic dan glamour, menunjukan kualitas seni original dapat sangat berpadu dengan moderenisasi yang tidak harus selalu baku,” katanya.

“Saya yakin apresiasi tertinggi untuk yg nonton pertunjukan malam ini, harapan ini bisa sering-sering di lakukan bukan hanya di TVRI tapi bisa di media lainya. Keren pisan. Jujur team di kantor nobar dan sangat beragam komentar bahkan ada yg baru tau bahwa wayang bisa di kemas menjadi acara di sebuah televisi dikiranya hanya di panggung-panggung di daerah. Diversity on collaborations it’s a good choices for the themes, and good joon for all team Wayang Ajen,” ujar Agam panggilan akrab Gambar Ardhita.

Prof.D. Een Herdiani, S,Sn.Hum, Rektor ISBI Bandung, mengatakan sajian Wayang Ajen Diversity, sangat luar biasa, bagaimana Wawan Ajen mengemas pertunjukan dari berbagai bentuk seni yang apik.

“Bagaimana wayang golek yang memiliki sajian yang sangat komplek bisa ditampilkan dengan sangat dinamis, perpaduan seni Sunda dari berbagai bentuk menjadi satu kesatuan performa yang patut diapresiasi masyarakat,” katanya.

Dr. H. Cahya Hedy,S,Sn.M.Hum, Dosen Pengajar sekaligus pengamat Wayang, memuji suara-suara penyaksi maha karya Wayang Ajen.

“Sejatinya sang juri itu adalah respon public yang hadir mengalir dari pengalaman keindahan jiwanya yang larut dalam proses penikmatan kedahsyatan suguhan Wayang Ajen, dan itu fakta pembuktiannya sebagai bagian momen kreatif dari sang kreator Wawan Ajen, wilujeng,” pungkas Cahya Hedy.(*)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *